33 C
Semarang
Selasa, 14 Juli 2020

Lahan Belum Bisa untuk Bertani, Warga Protes

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

TUNTANG – Belasan warga Desa Watuagung, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang mendatangi kantor pelaksana proyek jalan tol Semarang-Solo, PT Pembangunan Perumahan (PP), Selasa (7/3). Mereka menuntut rehabilitasi lahan sawah yang disewa sebagai lahan penampungan tanah uruk tol agar bisa kembali difungsikan untuk bertani. Selain itu, mereka juga meminta uang ganti rugi kegagalan panen yang disebutkan masih ada kekurangan.

Warga mendatangi kantor PT PP sekitar pukul 09.00 WIB. Mereka ditemui oleh Site Engineering Manager PT PP, Supriyono. Empat perwakilan warga masuk dan berdialog dengan perwakilan PT PP. Aparat kepolisian Polsek Tuntang berada di lokasi untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan.

Salah satu tokoh warga, Rodhi, 40, menuturkan, warga sudah berkali-kali mempertanyakan mengenai rehabilitasi lahan ini. Dan warga semakin gelisah saat mendapatkan surat penyerahan kembali lahan dari PT. “Warga sendiri merasa lahan belum dikembalikan sempurna dan belum bisa digunakan untuk bertani lagi,” terang Rodhi.

Dijelaskan dia, total ada 11 warga yang lahannya disewa dan digunakan untuk menampung tanah uruk proyek jalan tol ruas Bawen – Salatiga. Keseluruhan lahan yang disewa mencapai satu hektare. Sewa yang diberikan adalah Rp 5 ribu per meter persegi dan juga ada ganti rugi panen yang diberikan setiap 4 bulan sekali.

Kontrak sewa lahan tersebut sudah habis berlakunya bersamaan dengan selesainya proyek jalan tol Seksi III Bawen-Salatiga. Perjanjian ini berakhir pada Februari 2017 dan ketika warga akan menggarap lahan lagi, lokasi masih penuh dengan batu dan tumbuhan.

“Sampai sekarang lahan masih belum bisa digunakan. Setiap kali dicangkul, tanah penuh dengan batu. Beda dengan sebelum disewa yang tanahnya sangat subur dan panen padi bisa bagus,” keluh Punduh Anwar, 55, yang memiliki lahan seluas sekitar 2.500 meter persegi.

Keluhan senada diungkapkan Solikhin, 58, warga lainnya yang luas lahannya sekitar 4.000 meter persegi. Ia menyatakan telah 3 kali mendapatkan uang ganti panen sebesar Rp 8,4 juta setiap 4 bulan dan terakhir Februari lalu. “Tetapi sampai sekarang belum bisa bertani lagi karena lahan masih belum layak dan banyak kayu serta batu. Kami minta dikembalikan seperti sedia kala,” tandasnya.

Usai pertemuan, Supriyono menyatakan, pihaknya sudah melaksanakan kewajiban seperti dalam perjanjian. Mulai dari sewa lahan sampai dengan ganti rugi panen. “Kami juga sudah mengembalikan lahan dan saat itu menggunakan alat berat. Warga menyatakan tidak ada masalah namun sekarang kok mempertanyakan lagi,” ujar Supriyono.

Berkait dengan imbas lahan yang terkena luapan tanah akibat hujan, ia mengaku semua itu di luar kemampuannya mengingat curah hujan yang sangat tinggi. “Kota Jakarta yang banyak ahlinya saja belum bisa mengatasi banjir dengan curah hujan yang sangat tinggi,” terangnya. (sas/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Dorong MA Tetapkan Aturan

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Komunitas Peduli Hukum (KPH) Semarang dan Dewan Pengurus Daerah (DPD) Gerakan Pemuda Nusantara (GPN) Semarang Raya sepakat mendukung langkah Lembaga Bantuan...

Bupati Tinjau Langsung Korban Banjir

RADARSEMARANG.COM, DEMAK - Banjir yang terjadi disejumlah Desa di Kecamatan Sayung hingga kemarin belum surut. Jalan dan rumah warga masih terendam air, utamanya di...

Ganti Ban, Sopir dan Kernet Tewas

MUNGKID - Kecelakaan tunggal yang melibatkan truk pasir AA 1962 FB terjadi di jalur Muntilan - Dukun. Tepatnya di Jalan Talun kilometer 1 Dusun...

Ditetapkan JC, Sekda Divonis 4 Tahun

SEMARANG-Sekalipun sudah ditetapkan sebagai pelaku yang bekerja sama dengan penegak hukum atau justice collaborator  (JC), Sekretaris Daerah (Sekda) nonaktif Kebumen, Adi Pandoyo yang terjerat kasus dugaan korupsi...

Gagas Kurikulum Honda Safety Culture School

SEMARANG – Belasan guru dari 10 SMK di Jateng berkumpul di kantor Astra Motor Jateng untuk menyusun kurikulum budaya keselamatan berkendara. Para guru ini...

Raup Rezeki dari Penyanyi Freelance

RADARSEMARANG.COM - FAJAR Purwaningsih tak hanya memiliki paras cantik, namun juga memiliki suara merdu. Buktinya, ia sering menjuarai kontes dan lomba menyanyi. Alumni SMA...