46 Pegawai Terminal Belum Gajian

Sudah 3 Bulan, Dampak Pengalihan ke Kemenhub

1239
RUSAK PARAH: Plafon lantai dua Terminal Mangkang yang ambrol. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RUSAK PARAH: Plafon lantai dua Terminal Mangkang yang ambrol. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Pasca diambil alih Kementerian Perhubungan (Kemenhub), para pegawai Terminal Mangkang sudah tiga bulan belum gajian. Selain itu, kondisi bangunan terminal juga semakin mengenaskan. Tak hanya itu, sejak peralihan status ini membuat aktivitas administrasi hampir tidak ada. Praktis, sejak awal tahun lalu, bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) yang masuk terminal tidak dikenakan retribusi sama sekali sampai ada peraturan yang baru.

Salah satu anggota Satuan Pelayanan Terminal Mangkang, Bambang Sugiyono, mengatakan, karena pengelolaan diambil Kementerian Perhubungan, maka tidak ada kegiatan administrasi yang dilakukan terkait penarikan retribusi bus yang masuk. Ia juga mengaku, sejak Januari hingga Maret ini, dirinya belum menerima gaji sama sekali. Kondisi itu membuat dirinya bingung, karena selama bekerja sejak 1980-an, baru saat ini ia tidak menerima gaji hampir tiga bulan.

”Ada 22 pegawai yang statusnya PNS di sini (Terminal Mangkang, Red). Kalau yang non PNS itu ada 24 orang. Sejak terminal pengelolaannya diambil pusat, belum ada gaji sampai sekarang. Makanya kami pada bingung,” keluhnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (7/3).

Dikatakan Bambang, untuk pengaktifan kembali administrasi terminal masih menunggu kebijakan dari pusat. Adapun yang dimaksud pengaktifan kembali adalah penarikan retribusi bus AKAP sampai dengan revitalisasi terminal sesuai fungsinya. Padahal Terminal Mangkang seharusnya sudah siap menampung segala bus AKAP, karena sudah menjadi terminal tipe A yang perannya menggantikan Terminal  Terboyo.

Salah seorang pegawai pramubakti (non PNS), Eko Purwanto, menjelaskan, saat ini kondisi Terminal Mangkang memang masih sepi. Banyak kios agen tiket bus yang memilih tutup. Hanya 10 persen kios yang masih buka, khususnya penjual makanan.

”Kalau ada bus malam (AKAP) dari Jakarta paling cuma menurunkan penumpang saja atau sekadar berhenti parkir. Habis itu lanjut lagi. Jadi, memang kondisi terminal masih menunggu kebijakan dari pusat bagaimana ke depannya,” katanya.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, kondisi Terminal Mangkang sepi pengunjung, bahkan kondisi ini lebih parah dari Terminal Terboyo. Sementara beberapa bagian terminal mulai rusak. Plafon di lantai dua ambrol sekitar 10×10 meter persegi. Plafon di bagian lain juga rontok tinggal menyisakan kerangkanya. Kaca di salah satu bagian pecah, sementara lorong lantai dasar banyak dipakai warga tidur-tiduran.

Perilaku vandalisme juga turut merusak kondisi bangunan. Corat-coretan cat dengan berbagai tulisan mengotori dinding lantai dua yang sedianya menjadi ruang tunggu penumpang. Kondisi ini membuat terminal yang dibangun menghabiskan dana hingga puluhan miliar rupiah itu semakin terlihat mangkrak.

Parahnya lagi, di lantai dua terminal justru menjadi lokasi nongkrong gerombolan pelajar berseragam SMP. Meskipun saat itu sudah di luar jam sekolah, pelajar cowok-cewek itu menjadikan lokasi tersebut sebagai tempat memadu kasih. Tak terkecuali rokok berada di tangan mereka. Jika dibiarkan bukan tidak mungkin pelajar menjadikan tempat ini sebagai lokasi membolos sekolah atau melakukan tindakan-tindakan terlarang lainnya.

Dihubungi terpisah, Direktur Prasarana Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, JE Wahjuningrum, mengatakan, untuk semua sumber daya manusia (SDM) Terminal Tipe A baik yang Aparatur Sipil Negera (ASN) maupun non ASN semua ditarik Kementerian Perhubungan. Pihaknya ingin pengambilalihan terminal juga dibarengi dengan jaminan SDM. ”Semua jadi tanggung jawab kami (Kemenhub, Red) ASN maupun non ASN,” katanya.

Untuk persoalan gaji pegawai terminal memang ada beberapa yang belum dibayar. Hal itu disebabkan masalah administrasi yang masih belum rampung dengan adanya peralihan terminal tipe A dari daerah ke pusat. Untuk ASN, sebelum ada SK PP dari Kemenhub, gaji masih ditanggung pemerintah daerah, termasuk non ASN.

”Kalau masalah gaji belum dibayar itu karena ada peralihan dan penataan administrasi. Di Manado, gaji pegawai terminal baru dibayar 2 hari lalu dan dirapel,” ujarnya.

Pihaknya juga terus melakukan pembenahan, baik sarana maupun SDM di terminal. Diakui, hal itu membutuhkan waktu tidak sebentar, agar data yang masuk benar-benar valid. Termasuk status pegawai non ASN nanti akan menjadi kewenangan Kemenhub. ”Kalau masalah gaji tidak usah khawatir, anggarannya kan sudah ada. Nanti semua gaji ditransfer langsung ke rekening masing-masing pegawai,” katanya.

Ia menambahkan, penataan terminal akan mengacu kepada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 132 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Terminal Penumpang Angkutan Jalan. Di antaranya, dengan diberlakukan zonasi di Terminal Mangkang. Rinciannya, zona pertama untuk kedatangan bus temasuk penumpang dan pengantar. Zona kedua, tempat pembelian tiket di mana pembeli dan pengantar masih boleh memasuki zona tersebut. Zona ketiga, tempat yang sudah steril, yakni tempat penumpang menunggu keberangkatan bus, serta zona keempat, tempat keberangkatan bus-bus untuk penumpang naik. ”Jadi nanti akan lebih tertata. Hanya mereka yang sudah memiliki tiket yang bisa masuk,” bebernya.

Karena anggaran terbatas, untuk penataan Terminal Mangkang masih belum bisa dialokasikan anggaran dari APBN 2017. Saat ini, kata dia, masih dilakukan kajian dan disusun Detail Engineering Design (DED) Terminal Mangkang. Dengan pengalihan pengelolaan tersebut, lanjut dia, otomatis pemerintah pusat memiliki kewenangan untuk menata Terminal Mangkang karena sudah menjadi aset pemerintah pusat.

Plt Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang Tri Wibowo, menuturkan, jika pegawai Dishub PNS maupun honorer yang ditugaskan di Terminal Mangkang, mulai Oktober tahun lalu ditarik oleh Kementerian Perhubungan. ”Kalau jumlahnya saya tidak hafal, hampir semua ditarik oleh Kementerian Perhubungan,” jelasnya.

Pihaknya juga mengaku telah mendengar mantan anak buahnya yang kini ditarik oleh Kementerian Perhubungan belum mendapatkan gaji. Bahkan beberapa mantan petugas Dishub ini mengeluh kepada dirinya. Pihaknya mengaku telah menyampaikan keluhan tersebut kepada pihak kementerian. ”Kalau keluhannya sudah kami teruskan, memang selama dua bulan lebih belum mendapatkan gaji. Tapi pasti dibayar kok dengan sistem rapel,” tuturnya.
Tertundanya gaji, lanjut dia, masih terganjal dengan SK mutasi dari Kementerian Perhubungan. Menurut dia, saat ini SK tersebut belum keluar, yang membuat gaji para petugas belum bisa terbayarkan.

”Kalau dibayarkannya kapan, saya tidak bisa memastikan, mungkin bisa bulan depan sambil menunggu SK-nya turun. Saya harapkan bisa cepat terbayar. Kasihan juga mereka bekerja tapi belum mendapat gaji,” jelasnya.

Karena sudah ditarik oleh Pemerintah Pusat, terkait kerusakan yang ada di Terminal Mangkang pihaknya enggan memberikan statemen. Tri Wibowo menjelaskan, jika fokus dari Dishub Kota Semarang kini pada Terminal Cangkiran, Terminal Terboyo dan Terminal Gunungpati. ”Nanti ketiga terminal ini akan dimaksimalkan, khusus Terminal Cangkiran akan dibangun. Terminal Terboyo difungsikan untuk pangkalan truk dan angkutan kota yang saat ini menyesuaikan desainnya,” tuturnya.

Terkait anggaran pembangunan Terminal Cangkiran, rencananya akan diserahkan ke Pemerintah Kota Semarang. Sementara Terminal Gunungpati, akan dimaksimalkan karena infrastrukturnya masih memadai dan masih cukup layak.  (mg30/fth/den/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here