Nenek 93 Tahun Dipaksa Mengemis

Jadi Viral di Media Sosial

263
DUH NASIBMU MBAH: Nenek Supini keluar dari ruang Unit PPA Polrestabes Semarang dibantu oleh Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu, kemarin. (bawah) Suwarno saat digelandang aparat Reskrim Polrestabes Semarang. (FOTO-FOTO: NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DUH NASIBMU MBAH: Nenek Supini keluar dari ruang Unit PPA Polrestabes Semarang dibantu oleh Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu, kemarin. (bawah) Suwarno saat digelandang aparat Reskrim Polrestabes Semarang. (FOTO-FOTO: NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG Perbuatan Suwarno sungguh tak beradab. Dia mengeksploitasi nenek renta berusia 93 tahun, Supini, warga Grabag, Magelang untuk mengemis di jalanan. Kisah tragis itu direkam oleh seorang warga yang kemudian di-upload di akun Instagram @lambe_turah pada Senin (6/3) sekitar pukul 03.00 kemarin. Ada empat video yang diunggah menunjukkan aksi biadab Suwarno kepada nenek yang wajahnya menghitam lantaran kerap terkena terik matahari tersebut.

Dalam video itu, Suwarno yang sebelumnya diduga cucu dari nenek tersebut hanya menunggui si mbah yang belakangan diketahui bernama Supini mengemis dan meminta hasil mengemisnya. Berdasarkan rekaman video tersebut, terlihat Mbah Supini memakai kaus putih sedang duduk dan memberikan sejumlah uang kepada seorang Suwarno yang berkaus merah yang tampak jauh lebih muda darinya. Dari suara yang terdengar dari rekaman video, si perekam merasa trenyuh hingga seakan menangis dan mengucapkan kalimat kutukan kepada si pria berbaju merah.

Video eksploitasi pengemis itu pun langsung menjadi viral di media sosial. Ratusan netizen pengikut @lambe_turah pun mencibir ulah semena-mena Suwarno. Mereka menganggap Suwarno sudah tak mempunyai rasa iba kepada si nenek-nenek. Bukan hanya cibiran, sejumlah netizen lantas melontarkan sumpah serapah yang ditujukan kepada Suwarno. ”Manusia laknat itu, mudah-mudahan itu orang hancur ketabrak kereta, biar hancur badannya,” tulis pengguna akun @dd-syahril.

Pengelola akun @lambe_turah juga menautkan kiriman tersebut dengan akun milik Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Dua pemimpin daerah itu lantas bertindak cepat dengan meminta alamat lokasi kejadian untuk didatangi. Tak lama kemudian, Hendi—sapaan akrab Hendrar Prihadi—mengabarkan wanita tua tersebut sudah ditangani petugas dari Dinas Sosial Kota Semarang, sementara pria yang sebelumnya diduga sebagai cucu si wanita tua sudah digelandang ke Mapolrestabes Semarang untuk dimintai keterangan. Suwarno berhasil dibekuk aparat Reskrim Polrestabes Semarang di sekitar bangjo RSUP dr Kariadi dengan barang bukti  uang tunai berbagai pecahan sebesar Rp 600 ribu.

Saat diinterogasi polisi, Suwarno membantah dirinya melakukan eksploitasi. Ia mengaku jika perbuatan tersebut dilakukan untuk menolong Mbah Supini, dan tidak adanya pemaksaan. Suwarno mengakui telah mengambil sebagian dari uang tersebut dengan alasan untuk ditabung. ”Dia (Supini) sehari dapat Rp 50 ribu sampai Rp 70 ribu. Berangkat pagi, pulang sore naik angkot. Dikasihkan saya Rp 40 ribu untuk nabung. Niat saya nolong,” dalihnya.

Menurut Suwarno, awal kenal dengan nenek tersebut sudah menggelandang di daerah Yaik, Johar, Semarang Tengah. Bahkan ia juga membantu nenek tersebut saat terkena razia Satpol PP. Ia mengaku sebagai cucunya saat mengeluarkan Supini dari Panti Rehabilitasi Among Jiwo Semarang.

”Awalnya kenal di Yaik sebelum tahun baru lalu (Desember 2016). Sebelum kenal, dia juga sudah bekerja di situ. Dia kalau buang air besar di dalam pakaian, saya yang bantu membersihkan di kamar mandi,” katanya.

Suwarno tak menampik jika mempergunakan uang tersebut untuk keperluan dan kebutuhan sehari-harinya. Di antaranya, untuk membayar uang sewa kos yang ditempatinya di daerah Tawang, Semarang Utara sebesar Rp 300 ribu per bulan. ”Untuk makan dan bayar kos di daerah Tawang. Kerja saya ngernet bus,” akunya.

Kasat Reskrim Polrestabes Semarang AKBP Wiyono Eko Prasetyo menjelaskan, penangkapan itu berawal dari informasi masyarakat yang menyampaikan adanya seorang nenek dieksploitasi oleh cucunya. Informasi tersebut juga telah viral di media sosial. Petugas Satreskrim Polrestabes Semarang dan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA)  langsung turun ke lapangan. Suwarno kita amankan bersama nenek Supini di sekitar bangjo RSUP dr Kariadi.

Dikatakan Wiyono, pada awalnya nenek tersebut pernah ditampung di kos Suwarno di daerah Tawang, Semarang Utara. Namun nenek Supini tidak betah dan kembali menggelandang di jalanan sebagai pengemis. ”Memang pada awalnya ditampung di tempat kos pelaku. Tapi hanya dua hari saja, tidak betah kemudian nenek Supini kembali ke tempat ia menggelandang,” katanya.
Namun demikian, niatan awal rasa iba tersebut diduga hanya sebuah modus kejahatan yang dilakukan oleh Suwarno. Ia justru memanfaatkan kerja keras nenek tersebut dan meminta sebagian uang yang diperoleh dari hasil minta-minta di jalanan yang dilakukan mulai pagi sampai sore hari. Atas perbuatannya, pelaku akan dijerat undang-undang perdagangan orang. Ancaman hukumannya minimal 3 tahun dan maksimal 15 tahun.

Menanggapi adanya korban ataupun pelaku lain, Wiyono mengatakan, kasus ini masih dalam penyelidikan dan pengembangan. Namun demikian, ia telah mendapat informasi jika nenek tersebut menjadi rebutan sejumlah preman lantaran menghasilkan banyak uang. Kemarin, Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu sempat menemui Mbah Supini dan Suwarno di Mapolrestabes Semarang. Mbak Ita –sapaan akrabnya—merasa iba dengan kejadian tragis yang dialami Mbah Supini. ”Jika terbukti melakukan eksploitasi, pelaku harus dihukum berat,” ucapnya.

Terpisah, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, meminta Dinas Sosial untuk menggiatkan lagi pendampingan terhadap anak jalanan (anjal), pengemis, dan pengamen di setiap kota. Petugas tidak sebatas merehabilitasi saja, tapi juga melakukan investigasi untuk mengetahui latar belakangnya.

Dia memprediksi, kasus dugaan eksploitasi pengemis seperti Mbah Supini banyak terjadi. Hanya tidak ketahuan saja. ”Saya minta petugas Dinas Sosial atau bisa juga TKSK (Tenaga Kerja Sosial Kecamatan) mendatangi mereka yang di pinggir jalan. Telusuri siapa mereka dan latar belakang mereka,” katanya, Senin (6/3).

Untuk kasus Mbah Supini, lanjutnya, Pemprov Jateng bisa membantu menempatkan di panti rehabilitasi sosial. Jika ada keluarga Mbah Supini yang datang untuk menjemput, akan lebih baik.

Menurutnya, orang tua harus dilindungi dan dirawat. Tidak diibuang dan ditelantarkan, atau bahkan dieksploitasi. Ganjar pun tidak bisa langsung menuding Suwarno yang diduga memaksa Mbah Supini mengemis sebagai dalang eksploitasi. ”Harus ditelisik lebih dalam. Apakah memang benar Suwarno melakukan eksploitasi terhadap Mbah Supini atau justru Suwarno menolong,” tegasnya. (mha/amh/aro/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here