Mengenal Komunitas Ketimbang Ngemis Semarang

Bantu Para Lansia yang Tetap Giat Bekerja

476
PEDULI SOSIAL: Anggota Komunitas Ketimbang Ngemis Semarang saat membantu keluarga yang tetap bekerja di tengah keterbatasan. (SHEILA LESTARI GIZA PUDRIANISA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PEDULI SOSIAL: Anggota Komunitas Ketimbang Ngemis Semarang saat membantu keluarga yang tetap bekerja di tengah keterbatasan. (SHEILA LESTARI GIZA PUDRIANISA/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Sekelompok anak muda dari berbagai profesi tergabung dalam Komunitas Ketimbang Ngemis Semarang. Mereka memiliki tujuan yang mulia. Yakni, ingin mengajak dan membantu warga agar tidak mengemis sekalipun usianya sudah tidak muda lagi. Seperti apa?

SHEILA LESTARI GIZA P

 

MENGEMIS adalah jalan keluar paling instan bagi mereka yang mudah menyerah. Hanya dengan menadahkan tangan, rupiah demi rupiah terkumpul tanpa kerja keras yang nyata. Tak jarang mereka yang tertangkap razia pengemis justru berusia muda dan berbadan sehat. Rasa malas membuat mereka terbuai, padahal masih banyak hal yang bisa dilakukan.

Ironisnya, ternyata banyak orang lanjut usia (lansia) yang justru penuh semangat mengerjakan apa saja yang bisa mereka lakukan untuk menyambung hidup hari demi hari. Tersentuh oleh perjuangan para lansia yang giat bekerja itu, Rizki Pratamawijaya, mahasiswa asal Jogjakarta, membuat akun sosial media yang menyarankan masyarakat untuk membeli barang yang dijajakan mereka.

Salah satu foto pedagang kali pertama ditampilkan pada akun yang diberi nama Ketimbang Ngemis pada 18 Juni 2015. Kini, akun serupa berkembang hingga 44 kota, di antaranya Jakarta, Palembang, termasuk Kota Semarang. Bukan hanya di dunia maya, akun sederhana Ketimbang Ngemis kemudian berubah menjadi sebuah komunitas di mana para relawannya aktif mencari sosok-sosok renta yang perjuangan hidupnya dianggap menginspirasi dan layak diapresiasi.

Ketua Komunitas Ketimbang Ngemis Semarang, Erik Prakoso, mengatakan, komunitas yang dipimpinnya memiliki anggota 30 orang. Mereka berasal dari beragam kalangan dan profesi. Kebanyakan masih berstatus mahasiswa.

Agenda Komunitas Ketimbang Ngemis Semarang pun beragam. Mulai dari survei sosok yang akan diberikan donasi, garage sale, donasi, hingga gathering. Survei dilakukan dengan tujuan mengantisipasi agar tidak salah sasaran dalam memberikan donasi. Karena zaman sekarang banyak orang tua yang berpura-pura berjualan, tetapi memiliki harta yang berlebih. Dari survei tersebut, mereka akan melihat bagaimana kondisi ekonomi serta kehidupan sehari-hari sosok yang menjadi sasaran.

”Saat survei, biasanya kami melakukan penyamaran agar tidak menimbulkan kegaduhan bagi warga sekitar,” jelas Erik Prakoso kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dalam melakukan survei sasaran, biasanya dilakukan oleh tim yang dipimpin oleh koordinator lapangan. Di Kota Semarang, jelas dia, dibagi menjadi beberapa koordinator, yakni wilayah Semarang Timur, Barat, Utara dan Selatan. Hal tersebut digunakan untuk mengefektifkan waktu dan jarak.

Dijelaskan, ada sejumlah kriteria dalam menentukan sosok yang menjadi sasaran komunitas ini. Di antaranya asli Semarang, memiliki rumah tinggal di Semarang, kebutuhan ekonomi kurang, serta latar belakang keluarga yang sulit.

”Target sosok biasanya dapat info dari teman-teman. Selain kita juga mencari sendiri. Waktu itu pernah kita menemukan sosok tua yang berjualan buah. Nah pas kita survei, ternyata dia termasuk orang berada. Punya tanah dan hasil jualannya berasal dari kebun milik sendiri. Sehingga setiap kita memilih sosok, kita melakukan survei lapangan agar benar-benar membantu mereka yang lebih membutuhkan,” katanya.

Dikatakan, hanya sosok terpilih yang akan didonasi oleh komunitas tersebut melalui survei terlebih dahulu. Setiap bulan minimal ada 2 sosok yang akan dibantu, dengan donasi berupa uang tunai, maupun kebutuhan rumah tangga yang dibutuhkan.

Ia mencontohkan, bila sosok tersebut sakit, anggota komunitas yang berprofesi di bidang kesehatan akan membantu dalam penyembuhan. Selain itu, apabila sosok membutuhkan kendaraan atau sepeda, maka anggota komunitas yang berprofesi di bidang teknik akan membantu merancangkan serta membuatkannya. Hal tersebut yang menjadi keunikan komunitas ini dengan lainnya.

Kegiatan lainnya, yakni garage sale yang diadakan setiap minggu ketiga di sekitaran Taman KB Semarang dengan menjual baju layak pakai dengan harga terjangkau. Hasil penjualannya akan digunakan untuk mendonasi sosok tersebut. Untuk baju yang berasal dari sumbangan masyarakat, dapat diantarkan ke basecamp maupun diambil oleh anggota komunitas.

Selanjutnya adalah donasi, yang merupakan bantuan dari masyarakat berupa uang maupun barang-barang layak pakai yang akan disalurkan kepada sosok tersebut. Untuk sumbangan bisa dilakukan melalui rekening yang tercantum di setiap posting-an baik melalui Instagram maupun Line.

”Program lainnya adalah gathering setiap 3 bulan sekali dengan tujuan mengevaluasi kegiatan komunitas, dengan selipan games serta talkshow bersama sosok-sosok yang telah dibantu,” ujarnya.

Erik menjelaskan, untuk menjadi member Komunitas Ketimbang Ngemis Semarang tidak sulit. Yang terpenting memiliki 3K, yakni Kontribusi, Komitmen dan Konsisten. Rekrutmen anggota biasanya dibuka setiap 3 bulan sekali.

”3K itu artinya, setiap anggota harus berkontribusi dalam acara yang diadakan komunitas, seperti ikut survei atau membantu berjualan saat garage sale. Kontribusi tersebut didukung dengan komitmen supaya komunitas ini semakin solid. Sedangkan konsisten diperlukan agar komitmen dalam berkontribusi berjalan terus-menerus. Bukan hanya sekali kegiatan setelah itu selesai, tetapi berlanjut terus,” jelasnya.

Menurut salah satu anggota Komunitas Ketimbang Ngemis Semarang, Angga Andaru Wisnu, komunitas ini memberikan banyak pelajaran hidup yang dapat diambil, seperti melihat bagaimana sulitnya mencari uang, namun tetap bertahan meski kondisi ekonomi sulit tanpa meminta belas kasih orang lain. Selain itu, banyak suka dan duka yang dialami selama menjadi anggota Komunitas Ketimbang Ngemis Semarang.

”Sukanya, bisa gabung dalam kegiatan sosial, banyak temannya, saling membantu teman-teman yang membutuhkan. Kalau dukanya sih lebih ke masalah waktu aja, soalnya jarang komplet kalau kumpul. Makanya kita masih membutuhkan banyak volunteer,” tuturnya.

Erik maupun Angga berharap, dengan adanya komunitas ini membuat masyarakat lebih terbuka membantu mereka yang kekurangan. Juga digunakan sebagai jembatan bagi masyarakat yang ingin menyisihkan sebagian hartanya dengan cara yang tepat.

Basecamp Komunitas Ketimbang Ngemis Semarang berada di Jalan Wonodri Sendang IV No 23. Kalau ada temen-temen mau menyumbangkan barang atau baju layak pakai bisa datang aja. Atau bisa konfirmasi melalui Official Instagram di @ketimbang.ngemis.semarang atau Line @lxd6043p,” pungkas Angga. (*/aro/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here