Mencari Pemicu Longsor dan Banjir di Kawasan Dieng

Tanpa Tanaman Keras, Air Langsung Los ke Bawah

260
LINGKUNGAN RUSAK: Bagian tepi sungai Serayu di Kelurahan Kejajar Kecamatan Kejajar yang longsor dan merobohkan rumah warga. (AHMAD ZAINUDIN/RADAR KEDU)
LINGKUNGAN RUSAK: Bagian tepi sungai Serayu di Kelurahan Kejajar Kecamatan Kejajar yang longsor dan merobohkan rumah warga. (AHMAD ZAINUDIN/RADAR KEDU)

Ulah manusia turut menjadi pemicu bencana banjir dan longsor di kawasan dataran tinggi Dieng. Kontur kemiringan tanah sekaligus setingan pola lahan yang keliru turut memperbesar ancaman banjir longsor untuk kawasan lembah. Selain, tidak adanya tanaman keras juga menjadi masalah tersendiri.

ASISTEN Perhutani Kedu Selatan Muhammad Surahmad menjelaskan, lereng dengan kemiringan 15 persen atau lebih sebenarnya tidak pas jika ditanami tanaman produktif. Lereng dengan kemiringan seperti itu lebih tepat ditanami tanaman keras dengan jarak rapat.

“Yang jadi soal itu, lahan di atas (kawasan Dieng) adalah tanah milik, (bukan hanya milik Perhutani). Sementara warganya juga bergantung pada kentang,” katanya.

Tak hanya itu, pola setting lahan yang ada di kawasan Dieng menurutnya keliru. Tanah miring seperti itu mestinya dibuat pola teras bangko (pola melintang) bukan pola lurus ke bawah. “Kita lihat kan, di mana-mana polanya kaya gundukan kuburan yang lurus ke bawah. Airnya jadi los nggak ada penahan,” katanya.

Lagi-lagi, sambung dia, pola teras bangko kurang menguntungkan bagi petani kentang. Soalnya, buah kentang dipastikan akan membusuk jika ada air yang menggenang di atasnya. Akan tetapi, seting pola lahan seperti sekarang ini, dipastikan makin memperbesar ancaman banjir, juga erosi.

Lain daripada itu, belum adanya pohon keras di dataran tinggi Dieng butuh dicarikan solusi bersama tanpa saling menyalahkan satu sama lain. Khusus lahan milik Perhutani, Surahmad meyakini telah ditanami pohon keras sesuai ketentuan. Adapun penyebab hilangnya pohon keras Surahmad enggan berspekulasi.

“Gampang-gampang susah ngomong itu. Satu sisi, mungkin Perhutani sudah menanam, cuma dicabutin karena alasan menaungi tanaman produktif,” ujarnya.

Khusus mengenai hutan, ada dua kategori yang perlu diketahui. Yakni hutan lindung dan hutan produksi. Yang dimaksud hutan lindung, salah satunya hutan yang berada di kemiringan 15 persen lebih. Di hutan lindung itu, tak diizinkan ditanami tanaman produktif apapun. Sementara, hutan produksi sedikit berbeda. Untuk hutan kategori dua itu masih bisa ditanami tanaman produktif di sekitar pohon tegakan. Tentu dengan catatan tidak mengubah fungsi hutan.

Mengenai langkah antisipasi bencana Dieng, menurutnya, perlu ada upaya lintas sektor. Yakni, dari pemerintah, Perhutani dan masyarakat. Pemerintah melakukan penyadaran kepada masyarakat, Perhutani menanam pohon, masyarakat harus sadar agar tidak merusak tanaman.

“Memang tidak mudah, butuh kerja keras. Tapi mau bagaimana lagi. Upaya pengembalian kelestarian hutan harus mulai dilakukan,” katanya.

Petugas Perhutani Qodiran menjelaskan, penanaman pohon keras di lahan Perhutani sejatinya berbeda sesuai kategori dan tujuan hutan. Secara umum, setiap satu hektare lahan sedikitnya ditanami sekitar 1.200 bibit pohon untuk kategori hutan lindung dan 800 bibit pohon untuk hutan produktif.

“Setiap 5 tahunan dilakukan pemeliharaan dan penjarangan. Startnya minimal segitu,” jelasnya. (cr2/ton)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here