5.100 Pohon Peneduh Dipantau

292
BIKIN SEJUK : Pohon-pohon peneduh di bawah Gunung Tidar ini mendapatkan perawatan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Magelang. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
BIKIN SEJUK : Pohon-pohon peneduh di bawah Gunung Tidar ini mendapatkan perawatan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Magelang. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

MAGELANG – Pemkot Magelang makin intensif melakukan perawatan terhadap 5.100 pohon peneduh. Mulai dari pemangkasan hingga penebangan. Hal itu untuk mengantisipasi pohon roboh di tengah cuaca ekstrem saat ini.

“Setiap hari petugas berkeliling untuk memantau kondisi pohon. Kami juga rutin merawat,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Magelang, Machbub Yani Arfian, kemarin.

Berdasarkan kajiannya, musibah pohon tumbang akhir-akhir ini murni faktor cuaca. Hujan disertai terpaan angin kencang membuat pohon tumbang. Bukan karena kondisi pohon yang lapuk. “Yang tumbang di Jalan Gatot Soebroto itu pohonnya masih keras,” ujarnya.

Kendati demikian, ia memfokuskan perawatan di sekitar Jalan Pahlawan. Pohon-pohon ruas jalan ini sudah berusia sekitar 20 tahunan. “Kita melakukan perawataan tergantung keragaan pohon itu sendiri. Seperti mengurangi ranting, untuk mengurangi beban pohon. Serta reboisasi pohon angsana dengan pohon tabepuya, seperti yang kita lakukan di sekitar Jalan S Parman,” bebernya didampingi Kasi Pertamanan dan Penerangan Jalan Umum DLH, Yetty Setyaningsih.

Ia juga meninjau sejumlah taman kota. Diklaim tidak ada taman yang rusak karena banjir. “Di setiap taman hampir semua ada bioporinya dan berfungsi dengan baik, jadi aman.”

Selain pohon, Pemkot Magelang juga mengevaluasi drainase. Pekan lalu, di sejumlah titik tergenang air. Terparah, banjir di halaman kantor Pemkot Magelang, Jalan Sarwo Edhi Wibowo dan Jalan Soekarno-Hatta.

“Drainase tidak berfungsi baik,” ujar Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU-PR) Kota Magelang, Crisatrya Yonas Nusantrawan Bolla ditemui terpisah.

Setelah meninjau sejumlah lokasi pascabanjir, ia mendapati penyempitan dimensi pada drainase. Akibatnya, terjadi penyumbatan. “Perbedaan ukuran dimensi membuat arus deras nggak bisa mengalir sepenuhnya ke saluran,” jelas sekretaris DPU-PR ini.

Sebetulnya, saluran drainase di Kota Magelang berdimensi cukup besar. Sedangkan ukuran itu menyusut di Kabupaten Magelang. Inilah penyebab air kerap meluap saat hujan deras. “Tapi kita nggak bisa berbuat banyak,” ujarnya.

Kendala ini karena drainase tersebut berada di kawasan jalan nasional, dan perbatasan dua daerah. Ia hanya bisa menginformasikan ke satker pusat di Semarang. “Ini bukan wewenang kami. Dan karena menyangkut wilayah, kami sebatas mengusulkan saja ke provinsi atau pusat,” paparnya.

Terlepas banjir di jalan nasional, ia akan menangani banjir di kompleks kantor Wali Kota Magelang. Yakni dengan menormalisasi aliran Kali Manggis di sebelah gedung DPRD Kota Magelang. “Kami melakukan pengerukan, memperdalam paritnya. Ke depan kami buat sumur resapan,” jelasnya. (put/lis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here