Sales Indihome Tak Berikan Informasi Lengkap

218

SEMARANG – Pemasangan internet service provider Indihome di rumah konsumen yang diduga dipaksakan pihak pemasang tanpa persetujuan konsumen, dinilai Ketua Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K), Ngargono, ada distorsi informasi yang tidak lengkap dari perusahaan ke konsumen. Informasi tidak lengkap ini diberikan oleh sales, namun informasi tersebut tidak penuh dan tidak bisa dimengerti pelanggan.

”Kami sebenarnya telah menerima keluhan-keluhan pelanggan Indihome. Atas keluhan ini, pada Jumat (24/2) lalu, saya bertemu dengan pihak pimpinan perusahaan. Nah di situ perusahaan mengaku ada distorsi informasi,” katanya.

Ngargono memaparkan, kesalahan-kesalahan yang dilakukan sales itu karena kebutuhan kejar target. Sehingga, sales tidak menjalankan tugas sesuai SOP (Standard Operating Procedure). Idealnya, lanjut Ngargono, sales menawarkan perjanjian yang harus dipahami terlebih dahulu oleh konsumen. Konsumen diberi waktu untuk mempelajari perjanjian, hingga ada penandatanganan kesepakatan dari kedua belah pihak.

”Minimal, konsumen diberikan waktu satu hari untuk mempelajari perjanjian. Perjanjian juga dibuat dua rangkap untuk bisa dijadikan bukti tertulis. Konsumen harus paham betul dengan kesepakatan perjanjian tersebut. Konsumen bisa menolak bila pemahaman yang diterima ternyata tidak jelas,” tegasnya.

Selanjutnya Ngargono mengatakan, bila konsumen merasa ada ketidakberesan atau hal-hal yang di luar kesepakatan terjadi, bisa dilakukan pembatalan. ”LP2K menyarankan pelanggan Indihome untuk mengajukan pembatalan kesepakatan, karena hal itu merupakan hak konsumen. LP2K bisa mendampinginya,” tandasnya.

Sedangkan Pengamat Ekonomi Universitas Diponegoro (Undip), FX Sugianto menilai bahwa bisnis internet serta jaringan TV kabel seperti Indihome sebenarnya tidak sesuai dengan peraturan yang ada. Lantaran konsumen tidak diberikan keleluasaan untuk memilih serta tidak adanya pemberitahuan yang jelas tentang kenaikan tarif. Serta tagihan bulanan yang tidak sesuai dengan penawaran di awal langganan. Hak-hak yang dimiliki konsumen sepertinya diabaikan oleh pihak perusahaan, lantaran Indihome merasa menjadi penguasa pasar telekomunikasi saat ini.

”Saya rasa, pihak Indihome memang kurang fair karena seenaknya menaikkan tarif maupun tagihan bulanan tanpa ada pemberitahuan secara tertulis. Itu namanya melanggar aturan. Saya juga salah satu konsumen, meski tidak mengecek secara pasti, bagaimana kondisi yang ada,” tutur FX Sugianto saat dihubungi wartawan Jawa Pos Radar Semarang melalui sambungan telepon, Sabtu malam (4/3) kemarin.

Menurutnya, banyak alasan mengapa pelanggan menggunakan Indihome sebagai pilihan. Salah satunya karena telepon rumah yang sudah digunakan bertahun-tahun dapat digunakan sebagai sambungan internet yang dilengkapi TV kabel. ”Itu dapat digunakan sebagai target sasaran dalam memanjakan konsumen. Tapi, jangan sampai kepercayaan konsumen dinodai dengan upaya pemaksanaan monopoli,” katanya.

Ditegaskan, pihak perusahaan harus memberikan pemberitahuan secara tertulis. Dengan begitu, konsumen dapat menentukan pilihan untuk melanjutkan maupun menyudahi langganan. Sehingga tidak ada pihak-pihak yang merasa dirugikan.

”Saya pikir kinerja Indihome memang perlu dikritik. Artinya kalau naik ataupun ada permasalahan lain, harus diberitahu sebagai solusinya. Jangan sampai pelanggan kecewa dan berpindah ke tempat lain. Nanti perusahaan sendiri yang akan rugi,” pungkasnya.

Menanggapi hal tersebut, Senior Manager Marketing and Customer Care Telkom Wilayah Jateng-DIJ, Arif Nurjayanto menyatakan bahwa keberadaan Indihome untuk memberikan layanan internet cepat. Adapun proses penawaran produk Indihome diakuinya melalui berbagai cara, bisa door to door, lewat telepon dan lainnya. Menurutnya, keterkaitan berbagai keluhan tersebut, dimungkinkan hanya persepsi saja.

Ia juga mengaku setiap pelanggan yang setuju memasang program Indihome, terlebih dahulu dimintai KTP, tanda tangan dan mengisi form persetujuan. Termasuk saat teknisi datang ke kediaman pemasang, juga harus meminta izin ke pelanggan atau keluarga dari pemasang.

”Jadi kalau teknisi datang, pasti minta izin. Kalau keberatan juga langsung balik kanan teknisinya. Bahkan saat pelanggan sudah setuju, namun saat ditinjau pelanggan tidak ada di rumah, juga tidak bisa langsung dipasang,” kata Arif saat menghubungi koran ini.

Adapun prosedur standar pemasangan Indihome, lanjut Arif, kali pertama sales menawarkan ke pelanggan atau pelanggan datang ke plaza. Kemudian mengisi form pelanggan, melampirkan fotokopi KTP, dan lainnya. Kemudian teknisi menemui pelanggan di tempat yang akan dipasang.

Sedangkan terkait tagihan yang semakin naik, Arif menjelaskan, hal tersebut hanya kesalahan persepsi. Biasanya saat pelanggan pasang di tengah bulan, otomatis awalnya bayar setengah bulan, kemudian bulan berikutnya juga bayar, namun di bulan ketiga baru bayar penuh. ”Bahkan sekarang menggaet pelanggan juga bisa pakai aplikasi android, jadi pelanggan bisa pilih sendiri menu yang mau diambil,” ungkapnya.

Dia juga memastikan semua kelemahan-kelemahan tersebut akan diperbaiki. Ia juga menyebutkan kalau Indihome merupakan produk baru dari Telkom. ”Kalau pelanggan Indihome komplain bisa memakai aplikasi My Indihome. Jadi bisa dilacak lebih cepat atau telepon ke-147,” sebutnya. (mg30/mg29/jks/ida/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here