Revitalisasi GOR Tri Lomba Juang Tak Sesuai Standar

Megah, tapi Tak Layak Gelar Kejuaraan Nasional

387
VENUE ATLETIK: Lintasan lari venue atletik baru disediakan enam lintasan, sedangkan standar internasional, menggunakan delapan lintasan dan beberapa item venue atletik lainnya.
VENUE ATLETIK: Lintasan lari venue atletik baru disediakan enam lintasan, sedangkan standar internasional, menggunakan delapan lintasan dan beberapa item venue atletik lainnya.

PEMENUHAN standardisasi olahraga menjadi sangat penting, karena nantinya akan berimbas pada kelayakan masing-masing venue GOR Tri Lomba Juang Semarang untuk menggelar beragam event bertaraf nasional bahkan internasional.

Di venue tenis lapangan, dalam pantauan Jawa Pos Radar Semarang, renovasi sebenarnya berjalan cukup baik. Kondisi tribun penonton, lapangan maupun fasilitas lain jauh lebih baik dibanding kondisi sebelum direnovasi. Namun sayang, pembangunan court (lapangan) terkesan asal-asalan dan tidak memperhatikan standardisasi aturan yang diterapkan oleh International Tennis Federation (ITF), terutama masalah batas ukuran antara satu lapangan dengan lapangan lainnya.

Total terdapat enam court di venue tersebut. Hanya saja dua court terakhir terkesan dipaksakan dengan kondisi mepetnya lahan yang dimiliki oleh GOR yang terkenal dengan nama GOR Mugas tersebut.

”Dua lapangan terakhir yaitu lapangan 5 dan 6, samping kanan kirinya kurang lebar jadi linesman-nya nanti terlalu dekat. Kalau dari aturan standar ITF mungkin kurang lebar sekitar setengah meter. Posisinya juga kurang enak karena dua lapangan itu miring,” kata Kepala Bidang (Kabid) Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Pengurus Provinsi (Pengprov) Persatuan Lawn Tenis Indonesia (Pelti) Jateng, Tri Nurharsono.

Oleh karena itu, pria yang juga pelatih tim tenis PON Jateng ini berpendapat bahwa GOR Tri Lomba Juang kurang layak digunakan untuk menggelar kejuaraan bergengsi bertaraf nasional maupun internasional. ”Kalau permukaan lapangan sudah cukup bagus dengan lapisan plexi pave asalkan rata tidak bergelombang,” lanjutnya.

Sementara kondisi lebih memprihatinkan terjadi di venue indoor yang digunakan untuk cabang olahraga bulu tangkis. Banyak sekali fasilitas penunjang venue tersebut yang justru keberadaannya cukup mengganggu.

Keberadaan ventilasi cahaya misalnya, dari pantauan Jawa Pos Radar Semarang, terdapat 51 ventilasi cahaya dengan ukuran sedang yang justru mengganggu pebulu tangkis ketika menggunakan venue tersebut.

51 ventilasi cahaya itu 22 di antaranya terdapat di sebelah timur tembok venue, kemudian 22 di sebelah barat dan 7 di bagian selatan. Jadi kalau pagi, cahaya terlalu banyak masuk dari sebelah timur. Kemudian siang hingga sore terlalu banyak masuk dari ventilasi sebelah barat, keberadaaan ventilasi cahaya malah sangat mengganggu. ”Jadi kalau untuk menggelar kejuaraan, menurut saya tidak recommended,” kata pelatih PB Tugu Muda, Rudy Darmawan yang juga pengguna setia GOR Bulu Tangkis Tri Lomba Juang.

Selain ventilasi cahaya, ventilasi udara yang terdapat di atas bangunan GOR indoor kata Rudy juga cukup mengganggu. Menurutnya, keberadaan ventilasi udara cukup berpengaruh terhadap keluar masuknya angin ke dalam venue.

”Jadi, kadang angin terlalu kencang sehingga mengganggu laju shuttlecock. Selain itu, kalau hujan cukup lebat disertai angin, air hujan bisa masuk ke GOR melalui ventilasi udara di atas. Menurut saya, yang paling layak adalah kondisi permukaan lapangan yang cukup bagus,” sambung Rudy Darmawan.

Senada dengan Rudy, pelatih sekaligus ketua PB Sehat Semarang, Suwardito mengatakan, secara standardisasi venue bulu tangkis Tri Lomba Juang masih belum layak digunakan menggelar event bergengsi.

Kondisi pencahayaan dari lampu GOR, kata Suwardito, juga menjadi problem utama. ”Jadi kalau main tenis pada malam hari, kondisi lampunya malah mirip di kafe remang-remang. Harusnya memang ada aturan soal pemasangan lampu agar tetap terang, tapi cahayanya tidak mengganggu pebulu tangkis,” kata Suwardito.

Selain itu, kapasitas penonton venue bulu tangkis Tri Lomba Juang juga turun secara drastis. Dari pantauan Jawa Pos Radar Semarang, saat ini tribun penonton GOR tersebut hanya menyisakan di sebelah selatan dan juga sedikit di sebelah barat.

”Secara pastinya saya tidak tahu kapasitas asli GOR tersebut. Namun yang jelas, saat ini kapasitasnya turun sekitar separo dari kapasitas semula. Karena dulu di sebelah utara dan timur atas juga ada tribun penonton,” pungkas Suwardito. (bas/ida/ce1)

 

Venue Atletik Harus Lebih Baik

SELAIN dua venue yang telah rampung pengerjaannya, proses renovasi GOR Tri Lomba Juang Semarang saat ini telah menunggu penyelesaian tahap akhir yang meliputi perbaikan venue atletik dan beberapa fasilitas lain di sisi timur GOR.

Pembangunan tahap akhir tersebut bisa dibilang cukup penting mengingat venue yang akan direnovasi adalah venue utama yang menjadi pusat kegiatan olahraga prestasi maupun olahraga masyarakat di GOR tersebut.

”Beberapa waktu lalu PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia) Kota Semarang sudah diajak berembuk dengan konsultan terkait renovasi venue atletik. Harapannya tahun ini bisa segera rampung, apalagi Semarang rencananya akan bertindak sebagai tuan rumah sejumlah multievent seperti Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jateng dan Pekan Olahraga Nasional (Popnas),” kata pelatih atletik Kota Semarang, Pariyanto.

Sama dengan venue lain, Pariyanto yang juga pengguna setia venue atletik GOR Tri Lomba Juang berharap penyelesaian renovasi mendatang sesuai dengan standar yang berlaku sehingga selain akan digunakan untuk pembinaan, venue juga bisa digunakan untuk menggelar event-event bergengsi.

Standardisasi yang dimaksud, Pariyanto mencontohkan untuk lintasan lari venue atletik. Sesuai standar internasional, diharapkan menggunakan delapan lintasan dan beberapa item venue atletik lainnya.

”Kalau yang saat ini ada, baru enam lintasan dengan permukaan dari bata halus. Kalau yang baru besok sudah sesuai standar, delapan lintasan dengan permukaan menggunakan bahan sintetis,” beber Pariyanto.

Selain lintasan lari, venue atletik menurut Pariyanto juga terdapat beberapa fasilitas lain seperti lapangan tolak peluru, lompat jauh, lempar cakram, lompat tinggi dan beberapa venue lain yang diharapkan juga bisa sesuai standar. (bas/ida/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here