Lakukan Pendekatan, Hendi Datangi Pedagang Tengah Malam

165
BUJUK PEDAGANG: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mendatangi pedagang ikan basah Rejomulyo, Sabtu (4/3) malam, sekitar pukul 23.00. Dia berharap pedagang mau menempati bangunan baru Pasar Rejomulyo.
BUJUK PEDAGANG: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mendatangi pedagang ikan basah Rejomulyo, Sabtu (4/3) malam, sekitar pukul 23.00. Dia berharap pedagang mau menempati bangunan baru Pasar Rejomulyo.

SEMARANG – Suasana Pasar Rejomulyo mendadak berubah riuh ketika Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi datang ke ‎pasar tersebut sekitar pukul 23.00, Sabtu (4/3) malam. Wali kota yang akrab disapa Hendi tersebut tampak tak canggung menelusuri jalan-jalan pasar yang becek untuk bertemu dengan pedagang ikan basah di pasar yang lebih dikenal dengan Pasar Kobong tersebut.

Tak hanya sekadar bertemu, Hendi pun mengajak makan bersama para pedagang untuk berdiskusi terkait upaya menghidupkan Pasar Rejomulyo. Hendi mengharapkan dukungan dari para pedagang untuk menghidupkan Pasar Rejomulyo pasca revitalisasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Semarang.

Revitalisasi tersebut sejalan dengan program revitalisasi 5.000 pasar yang dilakukan oleh Presiden Jokowi. Namun upaya revitalisasi pasar yang dilakukan Pemkot Semarang tersebut bukanlah tanpa kendala. Salah satunya adalah keengganan pedagang untuk pindah ke pasar yang dibangun oleh pemerintah.

Sebelumnya keengganan pedagang Pasar Rejomulyo menempati kios baru karena lantai pasar pasar dinilai licin dan tidak sesuai untuk berjualan ikan basah. Kini setelah lantai pasar diperbaiki Pemkot Semarang dan telah diubah menjadi berpermukaan kasar, pedagang tetap enggan menempati dengan alasan luasan kios yang tidak sesuai keinginan mereka.

Untuk itulah Wali Kota Hendi merasa perlu untuk berbicara secara khusus dengan para pedagang pasar. ”Hari ini saya yang sowan kepada para pedagang untuk bicara dari hati ke hati tentang apa yang sebenarnya diinginkan oleh kawan-kawan pedagang,” tutur Hendi. ”Kalau diskusinya santai kan enak, daripada berbondong-bondong demo, saya saja yang ke sini kan lebih baik,” imbuhnya.

Untuk mencegah pasar rakyat di Kota Semarang mangkrak, Pemkot Semarang sendiri melalui Dinas Perdagangan Kota Semarang bahkan sampai terpaksa melakukan penyegelan 350 kios di 44 pasar di Kota Semarang karena tak kunjung ditempati pedagang lama.

‎Hal itu sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 9 tahun 2013. Dalam pasal 17 disebutkan, setiap pedagang yang menempati toko/kios dan los di kawasan pasar wajib mempunyai izin.

Serta dalam pasal 38 point H disebutkan, ”Setiap pemegang ijin dilarang menutup tempat usaha (tidak memanfaatkan/tidak melakukan aktifitas) dalam jangka waktu 3 bulan berturut-turut atau 6 bulan terputus-putus tanpa persetujuan Walikota atau pejabat yang ditunjuk.

Dan salah satu pasar yang berpotensi dilakukan penindakan serupa adalah Pasar Rejomulyo. Namun Hendi sangat menyayangkan jika penindakan serupa juga terjadi di Pasar Rejomulyo.

”Sedulur-sedulur ini kan sudah lama berjualan di sini dan menjadi prioritas kami, ini yang perlu dicatat,” tegas Hendi. ”Namun karena menjadi prioritas tersebutlah sehingga besar harapan saya sedulur-sedulur pedagang dapat bersinergi dengan kami, dan segera menempati Pasar Rejomulyo yang baru,” jelasnya.

Perwakilan pedagang Pasar Rejomulyo, Zainal pun mengapresiasi yang dilakukan wali kota. ”Saya senang beliau mau terjun melihat secara langsung teman-teman pedagang,” tutur Zainal. ”Ini demi mendukung perekonomian pasar ikan basah Rejomulyo alias pasar kobong yang legendaris,” imbuhnya. (zal/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here