Banjir Sungai Serayu Menyisakan Trauma Bagi Warga

Tiga Rumah Sudah Menggantung di Sungai

163
MASIH TAKUT : Sejumlah ibu dan anak-anak mereka masih mengungsi di rumah warga yang aman di Kelurahan Kejajar Kecamatan Kejajar. (AHMAD ZAINUDIN/RADAR KEDU)
MASIH TAKUT : Sejumlah ibu dan anak-anak mereka masih mengungsi di rumah warga yang aman di Kelurahan Kejajar Kecamatan Kejajar. (AHMAD ZAINUDIN/RADAR KEDU)

Warga yang tersapu banjir bandang sungai Serayu sepekan lalu masih berada dalam bayang-bayang ketakutan. Tiga keluarga di Kelurahan Kejajar, Kecamatan Kejajar, masih mengungsi ke rumah warga yang dinilai lebih aman. Mereka belum berani kembali ke rumah masing-masing lantaran masih trauma.

KETIGA rumah yang masih dikosongkan penghuninya masing-masing milik Marham, Budiyono dan Kasihman. Barang-barang berharga telah dipindahkan. Dan mereka, bersama istri dan anak-anak menginap di salah satu rumah warga.

“Tidak ada yang berani nginep di rumah. Saya saja mau ngungsi ini,” aku Munadah, istri Budiyono, Minggu (5/3) sore.

Bencana banjir Sungai Serayu di Dusun Krakal sepekan lalu, sedikitnya menghancurkan satu rumah. Rumah yang hancur disapu banjir itu juga sudah ditinggal penghuninya. Sementara 4 rumah yang berada di tanggul, satu diantaranya juga sudah dibongkar.

Adapun pemilik 3 rumah yang berada tepat bibir sungai (tanggul) masih memilih bertahan, meski dalam bayang-bayang ketakutan dan terus mengungsi. “Gimana lagi, saya asli sini, itu juga rumah satu-satunya nggak mungkin saya tinggal,”jelas Budiyono saat diwawancarai di rumah pengungsian.

Diceritakannya, banjir pada Minggu (26/2) dan Senin (27/2) lalu luar biasa besar. Bahkan, selama ia hidup, belum pernah menjumpai banjir sebesar kemarin. Dibeber, ketinggian banjir mencapai 5 meter hingga mampu menghancurkan bronjong dan fondasi rumah. Airnya coklat pekat bercampur tanah. Selain itu ada material lain seperti batu-batu besar dan kayu.

“Kata petugas, sebab banjir karena ada longsoran Gunung Prahu,” katanya.

Pengungsi lain, Kasihman menambahkan, yang dikhawatirkan saat ini yakni adanya banjir susulan. Sebab, tanggul dari bronjong dan senderan sudah hanyut bersama banjir. Sehingga jika ada banjir serupa ke-3 rumah sangat mungkin ikut hanyut. “Ibaratnya sekarang benar-benar telanjang, dan sudah ngepres dengan fondasi rumah,” imbuhnya.

Yang dikhawatirkan selanjutnya, yakni adanya banjir terusan dari atas perkampungan. Digambarkan dia, sekira 100 meter di atas perkampungan warga terdapat cekungan atau tikungan sungai. Jadi, apabila ada banjir besar dimungkinkan tidak akan mengalir melalui jalur sungai saat ini, melainkan menerjang lahan pertanian, kemudian menyapu perkampungan warga.

“Itu yang kedua. Kalau yang dikhawatirkan kita ini terjadi, yang kena bukan hanya 3 rumah. Tapi semuanya,” katanya.

Adapun yang dikhawatirkan berikutnya yaitu banjir yang dipicu longsor. Soalnya, kata Kasihman, di bagian atas desa, tepatnya di Desa Suren Gede sudah terdapat rekahan tanah yang sangat lebar. Jika rekahan tersebut melorot ke sungai bisa jadi akan memicu banjir bandang seperti banjir sepekan lalu.

“Semoga sih nggak ada kejadian itu lagi. Cukup kali ini saja,” harapnya.

Harapan masyarakat di sekitar lokasi, ke depan ada pengerukan sungai Serayu secara rutin. Selain itu, mereka berharap agar di sepanjang sungai kembali dibangun senderan penahan banjir. Baik dengan bronjong seperti dulu maupun senderan memakai tembok semen.

“Alat berat yang di situ setiap hari beroperasi. Petugas juga sudah pada datang sudah ada wacana mau disender, cuma waktunya entah kapan,” jelasnya. (cr2/ton)

 

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here