Ajak Jangan Termakan Isu Hoax

132

SEMARANG – Ribuan pemuda lintas iman memadati pelataran Balai Kota Semarang, Minggu (5/3). Mereka duduk lesehan menikmati atraksi hiburan dari berbagai budaya dan agama. Ada suguhan musik hasil duet Aloysius Budi Purnomo dan vokalis Power Slaves, Heydi Ibrahim. Lengkingan saksofon Romo Budi yang ditimpali suara khas Heydi terdengar renyah.

Gelaran bertajuk Srawung Lintas Agama besutan Keuskupan Agung Semarang (KAS) ini memang mengajak seluruh pemuda lintas agama duduk bersama mempererat tali persaudaraan.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi yang ikut srawung, menjelaskan, Kota Lunpia dihuni oleh berbagai agama tanpa ada gesekan sedikit pun. Nyaris tidak ada yang bertengkar gara-gara perbedaan agama.

”Kerukunan antarumat beragama ini harus dijaga. Jangan sampai termakan isu-isu hoax yang ingin memecah belah lintas agama,” ucapnya ketika ditemui di sela-sela acara.

Dalam gelaran tersebut, para pemuda beda agama membaur jadi satu. Para biarawati duduk berdampingan dengan perempuan-perempuan berkerudung dari komunitas muslim. Salah satu biarawati dari Gereja Paroki Kristus Raja Ungaran menuturkan, hoax yang kerap mengadu domba keragaman agama tidak pernah digubris.

”Saya memang baru kali pertama ikut acara lintas iman. Tapi saya yakin, Indonesia punya harapan besar untuk kembali bangkit setelah sekian lama mengalami luka akibat aksi intoleransi,” tegasnya

Dengan melihat banyaknya anak muda yang terlibat pada perayaan Srawung Lintas Agama, maka ia menegaskan bahwa sikap toleransi harus ditanamkan kepada anak sejak kecil, karena hal itu mampu membawa perdamaian bagi dunia.

Terlebih lagi, menurut Magret sebagai mahluk ciptaan Tuhan semestinya sebuah perbedaan bukan untuk memecah-belah umat beragama. Tetapi harus bisa saling melengkapi. ”Kita sebaiknya berkerja sama sebagai sesama ciptaan Tuhan,” harapnya.

Sementara itu, Intan Novia seorang mahasiswi muslim tampak nyaman duduk di antara biarawati. Dia mengaku senang bisa berkumpul dan ngobrol dengan tokoh agama lain, tanpa melihat latar belakang agama. ”Kumpul dengan biarawati, tanpa memandang agama. Ini bagus sekali,” ucapnya

Sementara itu, Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan KAS, Romo Budi berharap, Srawung Lintas Iman ini bisa menjadi gerakan awal untuk menguatkan paradigma menghadapi aksi radikalisme, toleransi dan terorisme. ”Kami ingin mewujudkan peradaban kasih melalui moralitas hidup yang rukun dan damai,” ucapnya.

Dijelaskan, acara ini digelar untuk menyambut hajatan empat tahunan Asian Youth Day (AYD). Selain di Semarang acara serupa juga digeber di Magelang, Jogjakarta dan Solo. Dia ingin para pemuda Katolik menunjukkan kontribusi positifnya dalam rangka menjaga perdamaian dunia. (amh/ric/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here