348 Pecandu Narkoba Direhabilitasi

164
TES URINE : Petugas BNNK Temanggung memeriksa urine pegawai pemasyarakatan di wilayah Kemenkumham Jateng yang sedang mengikuti pengarahan penguatan SDM di Magelang, Sabtu (4/3). (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
TES URINE : Petugas BNNK Temanggung memeriksa urine pegawai pemasyarakatan di wilayah Kemenkumham Jateng yang sedang mengikuti pengarahan penguatan SDM di Magelang, Sabtu (4/3). (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

MAGELANG– Sejak 2015 hingga awal 2017 ini, Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Temanggung telah merehabilitasi 348 pecandu narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba). Rinciannya 312 pecandu narkoba di 2015, 18 orang pada 2016 dan awal 2017 ini ada 18 orang.

“Awal 2017 ini saja sudah 18 orang yang direhabilitasi, tidak tahu nanti sampai akhir tahun. Sedangkan untuk operasi penangkapan kami sudah menangkap 303 orang tersangka sepanjang 2016 lalu,” jelas Kepala BNNK Temanggung Istantiyono di sela pemeriksaan urine bagi Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) se-Jawa Tengah di sebuah resto di Kota Magelang, Sabtu (4/3).

Istantiyono melanjutkan, sebagian besar pecandu narkoba yang direhabilitasi bukan dari hasil operasi penangkapan. Mereka menyerahkan diri ke BNNK Temanggung atas kesadaran sendiri dan memohon untuk direhabilitasi. “Ada klausul kalau mereka mengakui kesalahannya (memakai narkoba) lalu datang ke BNN maka biaya rehabilitasi akan ditanggung BNN, baik rawat inap, jalan dan sebagainya,” ungkapnya.

Sebagian besar pecandu yang direhabilitasi berada pada usia produktif, di atas 18 tahun. Tapi ada juga pecandu yang masih pelajar. “Ada anak usia 13 tahun di salah satu Kecamatan di Temanggung yang sudah kita rehab,” jelasnya.

Sementara itu, 61 pegawai Kemenkumham se-Jateng dinyatakan bersih dari narkoba. Pemeriksaan diklaim bersifat mendadak dan rahasia.“Sebelum kita membersihkan narkoba di tempat lain, di lingkungan kita harus bersih terlebih dulu,” kata Kepala Kanwil Kemenkumham Jateng Bambang Sumardiono.

Tes urine ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana komitmen dari petugas pemasyarakatan. Selama ini mereka kerap diterpa isu tak sedap, terkait tempat peredaran narkoba atau keterlibatan sipir dalam kasus narkoba. “Kalau dinyatakan postif akan ditelusuri, sanksinya pasti dipecat,” tegasnya.

Sejauh ini, pihaknya lebih intensif melakukan tes urine. Baik bekerjasama dengan BNNK maupun BNN Provinsi. Dari kegiatan ini, pihaknya mendapati 3 pegawai terbukti melanggar penyalahgunaan narkoba.

“Saat ini masih dalam proses pembuktiannya di pengadilan, dan mereka mendapatkannya dari luar membawa masuk ke dalam,” ungkapnya.

Pengawasan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), kata Bambang, dilakukan secara berjenjang. Mulai dari Kanwil, hingga ke level terbawah. Kemudian, membentuk tim untuk mengoperasi peredaran narkoba.

“Bahkan sekarang, ada beberapa alat didrop dari Jakarta untuk mengantisipasi yang berkaitan dengan barang-barang haram masuk ke Lapas.” (san/put/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here