Seniman Suara Yang Memperjelas Visi Radio

438
Nadia Ardiwinata di tempat kerjanya (Foto-foto Nur Chamim/Jawa Pos Radar Semarang)
Nadia Ardiwinata di tempat kerjanya (Foto-foto Nur Chamim/Jawa Pos Radar Semarang)

Semakin berkembangnya peradaban, peran media massa dituntut untuk berdiri pada posisi yang dibutuhkan masyarakat, terlebih media elektronik seperti Radio. Jika tidak mengarahkan visi secara jelas, maka radio pasti gulung tikar atau hanya sekadar hidup saja karena keberadaanya tidak mampu mengisi kebutuhan informasi yang dibutuhkan pendengar.

Adalah Nadia Ardiwinata, yang sudah 30 tahun menekuni profesinya sebagai penyiar. Ia pun memahami persoalan radio yang tidak memiliki visi.  Nadia menolak keras jika fungsi radio hanya berisi konten hiburan saja. Menurutnya, radio harus memiliki arah tujuan untuk mengisi kebutuhan pendengar. Arah tersebut akan membawa radio diterima oleh masyarakat.

“Radio itu tidak sekadar hiburan. Radio harus punya visi yang  jelas. Radio harus punya konten. Konten itu isinya hiburan, inspirasi, edukasi, dan informasi. Pendengar memang butuh hiburan, tapi kalau isi radio cuma hiburan saja ya kita tidak memenuhi kebutuhan masyarakat,” katanya saat Jawa Pos Radar Semarang menyambangi kantornya di radio Idola 92.6 FM Semarang.

Wanita kelahiran Jakarta 22 Desember 1967 ini mengawali karir di sebuah radio bersaluran AM di Kota Semarang tahun 1987. Saat itu ia berstatus masih mahasiswi semester I Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Ia berpindah lima radio semasa berstatus mahasiswa Undip.   Perjalanan karirnya cukup panjang, ia pun berpindah-pindah kota dan telah 8 kali bekerja di radio yang berbeda hingga saat ini.

Pada awal karir tahun 1987, Ibu dari Reine Endika Juwita, 22, ini menjadi penyiar hanya sekitar tiga bulan. Nadia menceritakan, dahulu saat audisi masuk radio ia lolos 3 besar dari 30 orang. Bertahan tiga bulan ia tidak meneruskannya karena suaranya dianggap kurang (Jawa, Red).

Setelah itu ia pindah ke Radio Lusiana FM. Kemudian berpindah lagi di Radio Imelda FM, Gajahmada FM dan RCT FM, Yasika FM Jogjakarta dan Radio CPP Magelang sampai tahun 1994 sebelum berpindah ke Radio jaringan Smart FM di Jakarta.

Sekembalinya ke kota kelahirannya di Jakarta, ia menghabiskan waktunya selama 11 tahun bekerja di daerah yang dahulu bernama Batavia itu. “Di Jakarta selain siaran juga menjabat sebagai program director . Di Smart FM itu titik balik siapa saya. Karena Smart FM ini berjejaring luas membuat nama  saya semakin dikenal,” kata anak ke delapan dari pasangan Rustana Ardiwinata-Fatimah tersebut.

Karirnya tidak berhenti disitu, ia pernah menjadi presenter di televisi lokal setempat sekaligus program manajer. Setelah itu pada 2011 bersama suaminya, ia hijrah ke Semarang mengelola Radio Idola 92.6 FM Semarang. Di sini selain masih aktif siaran, ia sekaligus menjadi marketing director.

Wanita yang memiliki suara khas bagi pendengarnya ini juga mengikuti berbagai macam organisasi di Kota Semarang. Dua diantaranya, Badan Promosi Wisata Kota Semarang, dan Forum Kota Sehat.

Radio Idola, lanjutnya mencari segmen yang lain dari radio lain. Empat unsur itu dipoles sedemikian rupa agar dibutuhkan oleh masyarakat. Konten radio ini hidup, sang suami Andi Odang lah sebagai otak yang membuat segala konten dalam program radio ini.

Misalnya setiap pagi pukul 07.00-09.00 WIB ada program Great To Great, diman acara diskusi live on air ini membahas segala isu-isu yang hangat baik politik, sampai ekonomi. Berbagai narasumber berkompeten dibidangnya turut andil memberikan tanggapan.

“Semua konten yang menggarap bapak (Andi Odang, Red). Saya dan yang lain mengeksekusinya. Tentu materi-materi yang demikian harus diangkat dengan cara tertentu agar tidak (boring) untuk pendengar. Aku sebagai penyiar punya tanggung jawab ini,” tambah wanita yang memiliki hobi bernyanyi ini. (mg30/zal)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here