Pernah Jadi Ajudan Menko PMK

205
Intari Setya Eka Putrianti (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Intari Setya Eka Putrianti (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

MENJADI ajudan Menteri Koordinator (Menko) Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Puan Maharani, benar-benar menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi Bripda Viandika Intari Setya Eka Putrianti. Pasalnya, untuk bisa menjadi ajudan, harus mengikuti beragam tahapan seleksi mulai tingkat Polda hingga Mabes Polri.

“Iya, dulu pernah dapat tugas menjadi ajudan beliau (Puan Maharani, Red). Hampir satu tahun. Didampingi juga satu orang perwira dari Jakarta,” ungkap Polwan yang akrab disapa Vian kepada Jawa Pos Radar Semarang ini.

Tugas tersebut dirasakan mulai pertengahan April 2015 hingga Pebuari 2016. Namun, tugas tersebut tidak serta merta hanya ditunjuk memakai jari oleh pimpinan. “Jadi perwakilan Polda ada 18 orang. Terus di Mabes Polri diseleksi lagi. Seleksinya meliputi penampilan, kecakapan, kerapian, psikologi termasuk kesehatan. Alhamdulillah terpilih,” kata perempuan kelahiran Jayapura 13 Januari 1993 yang saat ini bertugas di Satuan Lalulintas Polrestabes Semarang ini.

Diakuinya, kali pertama menjalani tugas tersebut sempat merasa grogi, karena belum tahu karakternya dan belum pernah kenal. Namun dengan kesabaran dan kecekatannya, tugas tersebut berjalan dengan lancar. “Targetnya satu minggu harus sudah lancar. Makanya, setiap kata yang disampaikan, saya cerna terlebih dulu, baru diambil keputusan untuk dilaksanakan,” katanya.

Tak hanya itu, aktivitas yang dilakukan setiap hari membutuhkan stamina yang fresh terus. Karena itulah, untuk menjaga tubuh agar selalu tampil prima, Vian selalu menyempatkan berolah raga setiap hari. “Sebulan sekali juga minum vitamin. Terus diimbangi joging kecil,” ujarnya.

Vian menambahkan, aktifitas yang dilakukan tersebut membawanya berkeliling Indonesia. Selain membuatnya bangga, tugas tersebut juga menambah pengetahuan dan pengalaman baru. Bahkan, Vian juga memiliki kenangan bertugas melakukan pengawalan hingga ke daerah pedalaman di Kalimantan. “Paling terkesan ya di Kalimantan. Tidak menyangka saja, bisa sampai ke pelosok daerah suku anak pedalaman di Kalimantan,” pungkas anggota Satlantas yang tinggal di Kecamatan Candisari. (mha/ida)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here