Keripik Picaso, Pengembangan dari Program Mahasiswa Wirausaha

Kerap Terkendala Bahan Baku yang Sulit

200
INOVATIF : Ari Prasetiyo berusaha membuka lapangan kerja dengan mengembangkan hasil Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) tahun 2011 silam. (MIFTAHUL A’LA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
INOVATIF : Ari Prasetiyo berusaha membuka lapangan kerja dengan mengembangkan hasil Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) tahun 2011 silam. (MIFTAHUL A’LA/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Inovasi Ari Prasetiyo dalam menyulap singkong yang kurang bernilai menjadi kripik dengan lima varian rasa yang memikat, semakin diminati. Seperti apa?

MIFTAHUL A’LA

SEBAGIAN orang masih menganggap jika singkong merupakan makanan ndeso yang kurang memikat. Tetapi di tangan, Ari Prasetiyo, anggapan tersebut tidak benar. Warga Jalan Jrobang Raya Ngesrep, Tembalang ini menyulap singkong menjadi sesuatu yang sangat bernilai tinggi, yakni menjadi kripik Picaso. Yang berarti keriPIk CAbai SingkOng.

Ia mengaku ide untuk membuat keripik Picaso ketika masih kuliah dengan sejumlah Mahasiswa di Politeknik Negeri Semarang (Polines). Usaha ini didukung penuh oleh Menristek Dikti dalam acara Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) 29 Oktober Tahun 2011 silam. Seiring dengan berjalannya waktu, ia mulai fokus menggeluti bisnis tersebut ketika melihat peluang bisnis keripik mulai menjanjikan. “Prospeknya sangat bagus, makanya saya langsung menjalankan usaha tersebut agar bisa lebih berkembang,” ujarnya.

Agar keripik yang diproduksi berbeda, akhirnya Ari berinovasi untuk menciptakan keripik yang tidak hanya asal pedas. Tetapi bagaimana biar berbeda dan bisa dinikmati oleh semua kalangan. Ada rasa bawang, BBQ, Jeruk, Keju dan Cokelat. Khusus untuk rasa Keju dan Cokelat merupakan varian tambahan. “Dua rasa itu memang khusus untuk anak-anak kecil. Jadi semua kalangan bisa menikmatinya,” akunya.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, ia harus bekerja keras. Mulai dari mencari bahan baku singkong serta berbagai bahan rempah dan cabe sebagai bahan baku utama. Ia harus rela keluar daerah untuk mendapatkan kualitas singkong yang bagus. “Tidak asal singkong, karena nanti akan berpengaruh ke cita rasa dan kegurihannya. Jadi harus kualitas bagus,” tambahnya.

Untuk penjualannya, Keripik Picaso justru dipasarkan melalui media online dan reseller. Langkah itu dilakukan karena selain simpel, hasil yang didapatkan lebih banyak. Selain itu, pemasaran bisa lebih cepat dan efektif. “Saya lebih fokus ke online, karena memang sasarannya anak-anak muda,” tambahnya.

Tidak hanya Semarang, Keripik Picaso yang diproduksinya sudah menyebar hampir di seantero Indonesia. Mulai dari Kalimantan, Riau, Aceh, Lombok dan kota-kota di Jawa. Animo masyarakat yang tinggi semakin membuat keripik Picaso semakin banyak peminatnya. Semua itu tidak terlepas dari cita rasa dan varian yang unik yang belum dimiliki produk lainnya. Keripik Picaso memiliki ciri khas renyah dan pedas, dengan cita rasa khas rempah rempah. “Kalau hanya keripik pedas itu sudah biasa. Tapi ada cita rasa lain itu yang membuat bisnis ini tetap eksis,” ujarnya.

Dalam satu bulan, setidaknya ia sudah sukses memproduksi 100 kg Keripik Picaso. Banyaknya permintaan terkadang membuatnya harus bekerja keras, karena bahan baku yang terkadang sulit didapatkan. Apalagi ketika harga bahan baku melambung tinggi, iapun harus memutar otak agar hasil produksinya tetap bisa bertahan di pasaran. Apalagi sekarang banyak produk-produk baru yang mulai bertebaran. “Kalau untuk harga jualnya Rp 15 ribu. Jadi masih terjangkau untuk semua kalangan,” katanya. (*/ida)

 

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here