Bahasa Jepang dengan Autonomous Learning

302
Husnatun Nikmah, S.Pd, M.Pd
Husnatun Nikmah, S.Pd, M.Pd

KURIKULUM 2013 dikembangkan dengan penyempurnaan pola pikir yaitu penguatan pola pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2015: 7). Munculnya pemikiran tentang cara-cara pembelajaran yang lebih bersifat student centered karena proses pembelajaran mestinya tidak tergantung sepenuhnya pada guru.

Peserta didik tidak lagi dipandang sebagai objek dari aktivitas pembelajaran yang kosong dan pasif. Sebaliknya peserta didik adalah subjek belajar yang telah memiliki sejumlah modal yang dapat dijadikan titik berangkatnya proses pembelajaran, sehingga muncullah pembelajaran yang berpusat pada peserta didik atau Student Centered Learning (SCL).

SCL menurut Harden dan Crosby (2000) menekankan pada siswa sebagai pembelajar dan apa yang dilakukan siswa untuk sukses dalam belajar dibanding dengan apa yang dilakukan oleh guru. Salah satu bentuk dari SCL adalah autonomous learning atau dalam bahasa Jepang disebut dengan jiritsu gakushuu adalah pembelajaran yang menitikberatkan pada aktivitas peserta didik, baik secara individual maupun kelompok dengan memberikan otonomi yang seluas-luasnya dalam memilih substansi yang akan dipelajari, metoda di dalam mempelajarinya, serta sumber pembelajarannya.

Autonomous yang berarti mandiri alias otonom mengharuskan setiap peserta didik sampai kepada keyakinan akan kebenaran berdasarkan pemahamannya sendiri. Bukan sekedar karena diberitahukan (diajari) oleh guru kepadanya. Kecuali itu, dalam proses pembelajaran yang otonom peserta didik tidak mesti menggantungkan diri kepada guru. Cukuplah guru memainkan perannya sebagai penyedia pengalaman belajar, memberikan kegiatan yang merangsang keingintahuan peserta didik, menyediakan sarana yang membuat peserta didik berfikir produktif.

Peserta didik adalah subjek belajar yang telah memiliki sejumlah modal yang dapat dijadikan titik berangkatnya proses pembelajaran, apalagi dalam pembelajaran bahasa Jepang, peserta didik telah memiliki modal karena adanya berbagai anime, dan komik Jepang yang beredar di Indonesia. Dalam anime, sering peserta didik dapat belajar berbagai salam sapaan ketika bertemu dan berpisah serta beberapa ungkapan dalam percakapan sehari-hari misalnya Ohayou (pagi !!!), ja… ne (sampai jumpa), dan chotto matte (tunggu sebentar).

Selain dari media belajar di luar kelas, peserta didik mendapatkan pengalaman autonomous learning dari rangkaian kegiatan kiite iimashou yaitu mendengarkan saja, kemudian menirukan kata atau pola kalimat yang telah diperdengarkan, kegiatan kikimashou (mendengarkan) yaitu guru cukup memperdengarkan percakapan, dan peserta didik mengisi jawaban pada lembar kerja. Kegiatan yomimashou (membaca) yaitu membaca gambar atau denah dengan pola kalimat yang telah mereka dengar sebelumnya. Kegiatan hanashimashou (berbicara) pada kegiatan ini peserta didik dapat melakukan tanya jawab bersama teman atau dengan guru hingga akhirnya harus merefleksikan atau menyimpulkan fungsi dari pola kalimat yang telah dipelajari dengan kalimat sendiri yang mudah dipahami oleh peserta didik. Dalam membuat fungsi dari pola kalimat, tidak ada fungsi yang salah, karena itu merupakan keyakinan dari masing-masing peserta didik agar mereka menjadi individu yang kreatif.

Autonomous Learning Memfasilitasi CI+BI

Selama ini kita lebih sering mendengar Remidi pada peserta didik. Padahal anak-anak didik kita juga memiliki CI+BI yaitu Cerdas Istimewa+Bakat Istimewa. Dalam pembelajaran bahasa Jepang peserta didik CI+BI dapat difasilitasi dengan Autonomous Learning karena sumber belajar dapat ditentukan secara bebas oleh peserta didik. Sumber belajar tersebut dapat berupa, 1) Manusia misalnya guru, teman, dan penutur asli. 2) Benda misalnya buku, majalah, koran, dan pamflet. 3) Masyarakat misalnya sekolah, perpustakaan, konsulat jendral, Japan Foundation, dan Internet. Sumber belajar yang perlu mendapat sorotan pada era digital saat ini adalah internet.

Autonomous Learning salah satu sifatnya adalah mengetahui keunggulan cara belajar peserta didik itu sendiri, peserta didik sekarang lebih melek teknologi sehingga dapat dengan memanfaatkan situs-situs belajar E-Learning untuk bahasa Jepang misalnya http://minato-jf.jp. Di situs ini dapat bertemu dengan teman baru dari penjuru dunia yang juga belajar bahasa Jepang sehingga dapat mempraktikkan pelajaran bahasa Jepang yang telah dipelajari. Selain Situs, peserta didik juga dapat men-download gratis HIRAGANA/KATAKANA Memory Hint untuk iPhone dan Android, sehingga belajar huruf Jepang menjadi menyenangkan dengan gambar mnemonic. Seiring perkembangan teknologi, sumber belajarpun semakin banyak dan kita sebagai orang tua dan guru juga harus selalu memperbarui pengetahuan kita tentang teknologi dan sumber belajar yang sesuai, sehingga kita dapat memberikan tambahan info tentang sumber belajar kepada peserta didik agar peserta didik semakin merasa belajar adalah sesuatu yang menyenangkan. (*/ida)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here