18 Tahun Keliling Sebelum Menetap

1781
KHAS SEMARANGAN: Bakmi Jowo Pak Gareng yang berada di Jalan Wotgandul Dalam. Memasak menggunakan tungku dirasa dapat menambah kualitas masakan. (Selly/Jawa Pos Radar Semarang)
KHAS SEMARANGAN: Bakmi Jowo Pak Gareng yang berada di Jalan Wotgandul Dalam. Memasak menggunakan tungku dirasa dapat menambah kualitas masakan. (Selly/Jawa Pos Radar Semarang)

Sardjono sendiri telah membuka usaha bakmi Jowo sejak tahun 1973. Saat itu berjualan keliling menggunakan gerobak di sepanjang kawasan Jalan Wotgandul dan Plampitan. Ide nama Bakmi Jowo Pak Gareng sendiri berasal dari para langganannya.

Selama berkeliling di kawasan Plampitan dan Wotgandul yang mayoritas pendudukanya keturunan Tionghoa dan umumnya cadel memanggilnya “bakmi goleng”. “Dulu kan manggil saya bakmie goleng sampai ada juga yang teriak bakmi galeng karena nggak bisa bilang R, akhirnya saya plesetkan sekalian menjadi Pak Gareng yang Insyaallah sampai sekarang jadi berkahnya,” jelas Puspito, istri Sardjono.

Selama 18 tahun berkeliling dengan gerobak, akhirnya pada tahun 1991 Sardjono memutuskan menetap. Yakni mencari lokasi yang strategis untuk berjualan Mi Jowo. Akhirnya dia mendapat tempat di Jalan Wotgandul Dalam Nomor 173 sampai sekarang.

Suka duka berjualan di jalan ia ceritakan sebagai memori indah hingga kini mampu menyekolahkan 6 anaknya hingga sarjana dan membelikan ke enam anaknya rumah serta untuk beribadah haji.

Sardjono kini lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dengan sang istri menyiapkan bahan, lantaran dalam 5 tahun terakhir ia terkena diabetes. Namun hal itu tidak mengurangi semangatnya dalam memproduksi bumbu untuk di jual di warungnya.

“Sekarang karyawan semua yang jaga warung, karena bapak sudah nggak kuat berdiri dan beraktifitas banyak, cukup di rumah saja bantu semampunya. Alhamdulillah karyawan sudah bisa dilepas dan sudah mahir membuat bakmi dengan rasa yang sama,” ungkap pasangan yang memiliki 6 orang anak.

Kini, ia telah mempekerjakan 14 orang dan memiliki cabang di Foodcourt Citra Land. Ia tidak berniat untuk menambah atau meluaskan warung yang ada saat ini karena terkendala dana yang terbatas dan merasa apa yang ada saat ini sudah cukup.

“Sudah tua mbak, punya dua itu saja sudah cukup, sebetulnya dulu sempat punya cabang di Jakarta tetapi karena tidak lancar dan karyawannya ngawur ya sudah kita stop saja dan fokus di Semarang saja,” pungkasnya. (mg26/zal)

 

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here