Warga ”Dipaksa” Berlangganan Indihome

Tanpa Konfirmasi, Langsung Dipasang

1535
Grafis: Albar

SEMARANG – Makin tingginya kebutuhan internet di masyarakat, menjadi peluang bisnis bagi sejumlah internet service provider (ISP) atau penyedia jasa internet. Berbagai cara pun dilakukan penyedia layanan internet berlangganan tersebut untuk menggaet pelanggan. Namun sangat disayangkan, cara-cara yang digunakan kerap merugikan pelanggan. Mulai dari pemasangan tidak melalui konfirmasi hingga biaya bulanan tidak sesuai dengan penawaran awal. Ini seperti yang dikeluhkan sejumlah warga yang ”dipaksa” berlangganan internet service provider Indihome.

Seperti yang dikeluhkan Ranindipa, 31, (bukan nama sebenarnya) warga Ungaran. Dia bercerita, saat itu ada sales/marketing dari Indihome pada pertengahan Juli 2016, menawarkan beberapa paket langganan. Mulai paket sekitar Rp 100 ribu per bulan, Rp 300 ribu, hingga di atas Rp 800 ribu per bulan. Selain kuota internet, paket juga berisi layanan TV kabel dan telepon rumah.

”Ketika saya tanya apakah itu biayanya flat, salesnya meyakinkan dan memberi jaminan biaya tidak akan naik atau ada tambahan apa pun alias flat,” ceritanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ketika itu, Ranindipa mencoba bertanya terkait paket seharga Rp 300 ribu per bulan. Meski begitu, dia tidak langsung memutuskan berlangganan. Masih pikir-pikir. Namun sales justru meminta KTP dan nomor HP. ”Saya sudah bilang kalau belum mau berlangganan, tapi salesnya minta KTP dan memotretnya dengan HP, dia bilang hanya untuk pendataan saja. Bahkan saya juga diminta tanda tangan di beberapa lembar kertas. Katanya tidak perlu dibaca, itu hanya formalitas saja. Dan saya pikir itu mungkin buat bukti sales kalau sudah bekerja melakukan penawaran,” ujarnya.

Dua hari kemudian datang dua orang teknisi dari Telkom yang akan memasang jaringan Indihome. ”Saat itu saya bilang, tidak melakukan konfirmasi pemasangan, kenapa ini ada pemasangan,” katanya.

Salah seorang teknisi pun menunjukkan SMS dari pihak kantor yang berisi perintah pemasangan Indihome di rumah tersebut. ”Saya masih ngotot kalau tidak melakukan konfirmasi pemasangan. Namun teknisi tetap memasang jaringan,” ujarnya.

Hari berikutnya pihak Indihome kembali datang dan melakukan pemasangan modem. Karena sudah telanjur, akhirnya Ranindipa mencoba berlangganan. ”Sejak pemasangan itu saya juga tidak pernah lagi ditelepon salesnya. Saya tidak tahu nanti jatuh tempo pembayarannya kapan. Tahunya saya setelah internet tidak bisa digunakan, pada akhir 1 September 2016,” katanya.

Tagihan pertama keluar sebesar Rp 288 ribu. Nilai tersebut tidak jauh berbeda dengan paket Rp 300 ribu. Namun pada tagihan September yang keluar pada 1 Oktober sebesar Rp 778 ribu. ”Tagihan kedua kok besar, katanya paket Rp 300 ribu itu flat. Saya pun mencoba ngomong ke suami dan diminta jangan dibayar dulu,” ujarnya.

Hingga akhirnya sekitar satu minggu berselang pihak dari Indihome datang melakukan penagihan. ”Saat itu saya kaget, karena ada dua tagihan yang harus dibayarkan, yakni bulan Agustus dan September. Masing-masing senilai Rp 778 ribu untuk bulan Agustus dan lebih dari Rp 600 ribu untuk bulan September,” kata Awan, 32, suami Ranindipa.

”Saya bingung, kok bulan Agustus masih ada tagihan. Kata petugas yang datang saat saya membayar Rp 288 ribu itu untuk bulan Juli. Padahal saat pemasangan pertengahan bulan Juli itu, sales bilang jika pemasangan pertengahan Juli, tagihannya ikut bulan Agustus, yang Juli tidak dihitung,” tandasnya.

Awan pun merasa ditipu dengan penawaran dari pihak Indihome. Cara Indihome menarik pelanggan benar-benar tidak elegan. Ada beberapa hal yang membuat pelanggan kecewa. Pertama sales membuai dengan biaya langganan flat. Tidak ada kenaikan atau biaya tambahan lain, namun kenyataannya biaya membengkak. Kemudian langganan mulai diberlakukan pada awal bulan. Artinya, ketika pemasangan pertengahan bulan, maka tagihan yang dibayarkan hanya bulan berikutnya. Selain itu, melakukan pemasangan tanpa ada konfirmasi lebih dulu. ”Saya benar-benar kecewa dengan Indihome. Setelah saya cerita dengan teman saya, ternyata mereka mengalami hal serupa terkait pelayanan Indihome ini,” katanya.

Keluhan serupa juga dialami Setiawan, 24, warga Perum Panjangan Asri. Bedanya modus yang digunakan petugas Indihome yang datang ke rumahnya tidak menawarkan paket internet, melainkan akan melakukan penggantian kabel telepon rumah. ”Saat itu yang ada di rumah hanya paman saya. Alasannya (petugas Indihome) mau mengganti kabel telepon. Karena paman saya tidak tahu apa-apa akhirnya mempersilakan petugas memasang jaringan. Paman saya juga dimintai tanda tangan,” ceritanya.

Setiawan pun heran setelah melihat rumahnya terpasang modem internet. ”Saya pikir ibu saya langganan, tapi setelah saya tanya ternyata tidak. Saat itu juga saya copot modemnya, karena kami merasa tidak berlangganan. Apalagi tidak ada konfimasi sama sekali dari pihak Indihome. Saya juga sering mendengar komplain dari teman-teman terkait biaya Indihome yang terus membengkak,” kata pria tambun yang bekerja di salah satu stasiun radio di Kota Semarang ini.

Keluhan layanan Indihome juga diungkapkan warga di bilangan Ngaliyan. Wanita yang enggan disebutkan identitasnya ini merasa terpaksa langganan TV kabel Indihome karena sudah satu paket dengan line telepon rumah dari Telkom.

Dia merasa, petugas seolah-olah mengikat pelanggan agar terus menjadi pelanggan Indihome. Diceritakan, awalnya dia memang ingin langganan Indihome karena ingin menonton sejumlah channel yang tidak bisa disaksikan lewat antena UHF. Apalagi ada bonus fasilitas WiFi tanpa ada batasan kuota.

”Saat itu memang sedang ada promo. Seingat saya sebulan Rp 260 ribuan. Channel-nya lengkap, ada HBO juga. Internetnya pun kenceng,” ucapnya.

Beberapa bulan kemudian, dia mulai curiga lantaran ada kenaikan tarif tanpa ada pemberitahuan. Channel favorit pun mulai rontok satu per satu. Terutama channel movie, olahraga, dan beberapa tayangan kartun anak-anak. Setelah menelepon pihak Indihome, dia tidak mendapat jawaban yang memuaskan.

”Katanya Indihome sudah tidak bekerja sama dengan HBO. Soal aktivasi channel lain, harus tambah biaya lagi. Kalau tidak salah Rp 75 ribu per bulan,” ceritanya.

Akhirnya, dia memutuskan untuk tidak mengambil paket tambahan. Keluhan berikutnya muncul ketika koneksi internet Indihome yang mulai lemot. Dia kembali mengeluhkan persoalan tersebut ke pihak Indihome. Penjelasannya jika ingin mendapatkan internet cepat, harus menggunakan fiber optik. ”Biayanya memang lebih mahal. Tapi saya minat. Sayang, di Ngaliyan belum ada instalasi fiber optik,” tegasnya.

Tidak lama setelah itu, wanita dua anak ini kembali komplain soal layanan Indihome. Sebab, tagihan bulanannya melonjak tajam nyaris 100 persen. Harganya malah lebih mahal jika dibandingkan langganan dengan instalasi kabel optik. Merasa geram, dia berniat menghentikan langganan Indihome.

Dia merasa, respons petugas Indihome soal pencabutan langganan sangat lambat. Prosesnya pun sulit. Bahkan diancam akan mencabut line telepon yang sudah terpasang puluhan tahun lalu.

”Syarat pertama, saya harus lunasi tagihan yang melonjak tanpa pemberitahuan. Kedua, teleponnya harus ikut dicabut. Kata petugas, saluran telepon bisa dipasang lagi, tapi nomornya harus ganti. Nah, syarat kedua ini yang membuat saya berpikir dua kali. Kan nomornya sudah menyebar. Apalagi juga menyangkut bisnis,” ucapnya.

Setelah dipikir panjang, dia memutuskan untuk nekat tidak membayar tagihan Indihome. Biar nanti dicabut sendiri oleh petugas Indihome. Soal nomor telepon, dia sudah merelakannya. ”Kapok langganan TV kabel Indihome,” cetusnya. (zal/amh/aro/ce1)

BAGIKAN

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here