Terus Longsor, Empat Keluarga Diungsikan

308
MASIH BAHAYA: Petugas DPU Kabupaten Wonosobo menormalkan sungai Serayu di wilayah Dusun Krakal Kecamatan Kejajar menggunakan alat berat. Langkah ini untuk mengantisipasi agar jembatan penyambung Wonosobo- Temanggung tidak terputus. (SUMALI IBNU CHAMID/ JAWA POS RADAR KEDU)
MASIH BAHAYA: Petugas DPU Kabupaten Wonosobo menormalkan sungai Serayu di wilayah Dusun Krakal Kecamatan Kejajar menggunakan alat berat. Langkah ini untuk mengantisipasi agar jembatan penyambung Wonosobo- Temanggung tidak terputus. (SUMALI IBNU CHAMID/ JAWA POS RADAR KEDU)

WONOSOBO – Sedikitnya 4 keluarga warga Dusun Krakal Wetan dan Krakal Kulon Kecamatan Kejajar terpaksa diungsikan. Hal ini menyusul curah hujan masih tinggi dan bangunan rumah mereka terus tergerus arus sungai Serayu yang berhulu dari Dieng tersebut. Bahkan setelah satu rumah ambrol, kini tiga rumah lainnya dalam kondisi bahaya.

Pantauan Jawa Pos Radar Kedu di lokasi, Jumat (3/3), bangunan rumah yang kondisinya berbahaya milik Edi, Kasihman dan Marham. Rumah ketiganya berada di wilayah Krakal Kulon. Bangunan ini berada di sebelah barat sepadan sungai Serayu.

Bangunan milik Edi misalnya, kondisi fondasi semakin terkikis, bahkan nyaris terseret air sungai. Hal yang sama terjadi pada rumah milik Kasihman dan Marham, bangunan rumah nyaris menggantung lantaran tanah pada bagian bawah rumah terus tergerus.

“Bagian bawah rumah saya tiap hari tergeris air setelah air meluap pada hari Minggu (26/2) lalu,” kata Marham.

Marham mengaku, kondisi rumahnya saat ini semakin mengerikan. Lahan dengan luas sekitar lima meter kali lima belas meter di sebelah rumahnya telah hanyut dibawa arus sungai. Sebelumnya di atas tanah tersebut berdiri beberapa pohon dan tanaman buah. Namun saat ini sudah hanyut dan tanah terus terkikis. “Kami sudah tidak berani tinggal di rumah, terpaksa mengungsi ke rumah orang tua, karena tiap hari terus terkikis air sungai,” ujarnya.

Suparman, tokoh Dusun Krakal Kulon mengatakan, sejak banjir bandang terjadi pada Minggu lalu, kondisi sungai di wilayahnya semakin mengancam permukiman warga. Karena curah hujan masih tinggi sungai terus melebar ke permukiman warga. “Untuk mengantisipasi ancaman, kami lakukan koordinasi dengan warga Wadasputih. Apabila hujan (mereka) memberitahukan ke kami. Karena dua hari ini, di sini tidak hujan, tapi tiba-tiba air sungai volume naik,” tandasnya.

Ketua LSM Bhinekka Karya Tafrihan yang mendampingi warga Krakal mengatakan, kondisi sungai Serayu di wilayah Dusun Krakal terus melebar akibat volume air yang terus naik. Berdasarkan penelitiannya pada 2010, lebar sungai Serayu di wilayah Krakal sekitar 6 meter. Namun saat ini melebar mencapai 32 meter. “Sehingga permukiman warga serta lahan pertanian yang sebelumnya aman, sudah habis tergerus air,” ujarnya.

Dikatakan dia, pemicu meluapnya air di Krakal dan menghantam permukiman warga adalah longsoran gunung Prahu di Patak Banteng. Material longsoran menutup sungai Jarak sub DAS sungai Serayu. Karena curah hujan tinggi dan dalam tempo yang lama, sungai meluap dan sempat terjadi banjir lokal.

“Karena air terus menumpuk, material longsor kemudian hanyut bersamaan dengan curah hujan air panjang tersebut ke lokasi di bawahnya,” katanya.

Dari Patak Banteng, lanjut Tafrihan, aliran Serayu menuju sebelah timur Desa Wadasputih, kemudian masuk ke medan curam Desa Surengede atau sebelah timur Jalan raya menuju Dieng. Air terus mengalir dan masuk ke wilayah Kelurahan Kejajar di Dusun Krakal. “Karena pasokan air besar, air mencari jalan dan menggerus semua tepian sungai sampai menggerus ke permukiman warga, sampai merusak jembatan,” tegasnya.

Kepala Bidang Bina Marga DPU Kabupaten Wonosobo Nurudin Ardiyanto menjelaskan, pihaknya masih konsentrasi dalam pengamanan jembatan penyambung Wonosobo – Temanggung yang membentang 12 meter di Dusun Krakal. Langkahnya dengan melakukan normalisasi sungai di seputar jembatan. Kemudian bagian bawah jempatan akan ditanam bronjong agar fondasi tidak kian terkikis.

“Tiap hari kami kerahkan alat berat untuk normalisasi sungai seputar jembatan, tujuannya agar jembatan tidak sampai hanyut,” katanya.

Nurudin mengatakan, sungai Serayu mestinya ditata secara menyeluruh dari Dieng hingga melewati bagian barat kota Wonosobo. Apabila tidak ditata, bencana bisa mengancam permukiman kawasan di sepanjang sungai Serayu. Selain terjadi pendangkalan, pelebaran sungai juga perlu dibuat lebih memadai. “Membutuhkan peran banyak pihak, karena tanggung jawab sungai juga tanggung jawab banyak instansi pemerintah,” jelasnya. (ali/ton)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here