Pengunjung RS Dilarang Bawa Anak Kecil

293
PEMBUKAAN KONVENSI MUTU : Jajaran direktur RSUD bersama asisten 3 Setda, Sumaedi (kedua dari kanan) dalam acara konvensi mutu tingkat 1 RSUD Setjonegoro, Jumat (3/3). (Ahmad Zainudin/radar kedu)
PEMBUKAAN KONVENSI MUTU : Jajaran direktur RSUD bersama asisten 3 Setda, Sumaedi (kedua dari kanan) dalam acara konvensi mutu tingkat 1 RSUD Setjonegoro, Jumat (3/3). (Ahmad Zainudin/radar kedu)

WONOSOBO – RSUD Setjonegoro bertekad mendisiplinkan pengunjung yang melanggar standar operasional prosedur (SOP) rumah sakit maupun peraturan bupati. Pelanggaran tersebut antara lain banyaknya pengunjung yang masih membawa anak di bawah 11 tahun ke rumah sakit. Kemudian, merokok di area rumah sakit, hingga budaya gelaran (menggelar tikar kemudian makan bersama) di bangsal atau lorong rumah sakit.

Hal itu dinyatakan oleh Humas RSUD Setjonegoro, Tri Lestari di sela konvensi mutu tingkat 1 RSUD Setjonegoro, Jumat (3/3). Menurut Tri, mengajak anak di bawah umur untuk berkunjung ke rumah sakit sangat berisiko bagi anak.

Pasalnya, setiap rumah sakit memiliki potensi menularkan infeksi yang disebabkan oleh kuman maupun bakteri. Penyakit itu, kata Tri, merupakan infeksi nosokomial atau infeksi karena penyakit.

“Infeksi tersebut bisa ditularkan dari petugas medis ke pasien, dari pasien ke pasien. Bahkan dari pasien ke pengunjung rumah sakit. Nah yang ketiga ini yang kita antisipasi,” katanya.

Ia menjelaskan, potensi terkena infeksi nosokomial sangat tinggi ketimbang pengunjung dewasa. Sebab, sistem imun anak lebih rendah daripada orang dewasa.

“Kalau sayang anak, harusnya ibunya sadar diri, supaya tidak membawa anaknya saat berkunjung ke rumah sakit,” imbuhnya.

Pendisiplinan kedua yaitu terhadap para perokok yang kerap merokok di area rumah sakit. Pengakuan Tri, kasus merokok di tempat terlarang ini juga sangat sulit ditertibkan, meski telah berulangkali diingatkan oleh petugas. “Rumah sakit termasuk area yang dilarang merokok. Saya sangat berharap masyarakat bisa mematuhi ini. Merokok di area rumah sakit sangat merugikan banyak orang utamanya yang sedang sakit.”

Pendisiplinan pengunjung berikutnya yakni budaya makan bersama (gelaran) yang dilakukan saudara atau kerabat pasien. Kondisi tersebut, dinilai sangat mengganggu mobilitas petugas dalam memberi layanan. Selain itu, potensi makanan terpapar bakteri juga sangat tinggi.

“Gelaran memang membudaya di Wonosobo. Tapi yang perlu diingat, pasien butuh istirahat, petugas butuh tempat untuk jalan, dan pengunjungnya juga harus jaga diri agar tidak ikut sakit. Sebersih apapun ┬árumah sakit beda dengan rumah, masih banyak bakteri,” tandasnya.

Dijelaskan pula, agar larangan pertama bisa dipatuhi, RSUD berencana membuat taman bermain. Fungsinya jika terpaksa tetap membawa anak, anaknya bisa dititipkan di area bermain selama menunggu orang tuanya. “Rencananya (taman bermain, Red) di bawah (parkiran RSU sebelah selatan). Nanti kan bisa saudarannya gantian nungguin anaknya yang sedang main,” ujarnya.

Terkait dengan gelaran, pihak RSU masih memberi toleransi. Waktunya, mulai pukul 21.00 sampai 06.00. Selain waktu-waktu tersebut, petugas akan menertibkan.

Sementara itu, Asisten 3 Setda Kabupaten Wonosobo, Sumaedi, yang hadir dalam acara pembukaan konvensi mutu RSUD mewakili bupati, mengharapkan akan ada pembenahan ke depan.

Tak hanya itu, tema ‘mewujudkan RSUD Setjonegoro yang terunggul dan terpercaya’ juga digarisbawahi oleh dia. Menurutnya, cita-cita tersebut bisa dicapai jika RSUD terus meningkatkan kualitas pelayanannya terhadap masyarakat. “Evaluasi yang dilakukan masing-masing unit layanan, harus kemudian ditemukan solusinya. Setelah ketemu juga harus benar-benar dilaksanakan,” pesannya saat memberi sambutan. (cr2/lis)

BAGIKAN

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here