Jateng Diajak Stabilkan Harga Pangan

231
BASMI TENGKULAK: Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat saat menemui Gubernur Jateng Ganjar Pranowo di Gubernuran, kemarin. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BASMI TENGKULAK: Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat saat menemui Gubernur Jateng Ganjar Pranowo di Gubernuran, kemarin. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Pemprov DKI Jakarta mengajak Pemprov Jateng untuk menstabilkan harga pangan dan produk pertanian. Salah satu upayanya dengan membangun gudang besar yang mampu menampung semua produk pangan dari Jateng untuk DKI.

Hal itu diutarakan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat saat bertandang ke kantor Gubenur Jateng, Jumat (3/3). Dia menilai, tingginya inflasi di DKI terjadi akibat harga pangan dan produk pertanian seperti bawang merah, cabai, bawang putih, beras, dan lainnya yang melambung tinggi. ”Karena DKI bukan produsen, jadi harus kerja sama dengan beberapa wilayah penghasil pangan, termasuk Jateng,” ucapnya.

Pihaknya berencana membangun gudang besar untuk menampung semua produk pangan dari Jateng untuk DKI. Entah dibangun di wilayah Jateng atau di DKI Jakarta. Gudang tersebut akan didesain sedemikian rupa agar bisa menyimpan produk pangan selama enam bulan. ”Nanti ketika masa paceklik baru dikeluarkan untuk menstabilkan harga. Selama ini kan dimainkan para tengkulak-tengkulak, ini yang mau kami potong,” tegasnya.

Selain diharapkan dapat stabilisasi harga, juga dapat membantu petani ketika musim panen raya. Sebab saat panen, biasanya harga anjlok. Maka petani mesti dilindungi, yakni pemerintah DKI Jakarta akan mengambil produk pangan dari Jateng dengan harga yang ditentukan, sehingga petani tak merugi. ”Misalnya harga bawang ketika panen turun, akan kami beli agar petani tidak rugi. Istilahnya, pemerintah sebagai distributor atau agen yang baik hati,” kata politikus PDI Perjuangan ini.

Kerja sama lain yang dimungkinkan dilakukan dengan Pemprov Jateng, lanjut Djarot, adalah penggemukan sapi. Pemprov DKI memiliki banyak Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang bisa mengimplementasikannya. ”Kebetulan saya dengan Pak Ganjar orangnya sama, partainya sama, sama-sama orang Jateng. Jadi ini untuk warga Jateng dan DKI,” katanya.

Sementara itu, Ganjar menyambut baik rencana kerja sama dengan membangun gudang komoditas pertanian dari Jateng untuk menyuplai kebutuhan di DKI Jakarta. ”Ini salah satu upaya menekan inflasi. Harga-harga yang melambung tinggi ini sebenarnya bisa didorong kerja sama antardaerah,” katanya.

Dia mengusulkan, sebaiknya gudang dapat dibangun di dua tempat, satu di Jakarta dan satu di Jateng. Pemprov DKI Jakarta memiliki APBD yang sangat besar, jika bisa ada kerja sama antardaerah diyakini mampu mengendalikan inflasi dari daerah.

”Duitnya Jakarta banyak, turah-turah, kalau dia semacam inves tapi bentuknya kerja sama, ini sama-sama bisa mengendalikan inflasi dari daerah. Kita juga ada ikatan batin luar biasa karena sebagian besar warga DKI dari Jateng,” kata Ganjar.

Contoh konkret bentuk kerja sama yang ada selama ini, adalah penanganan orang telantar antara Dinas Sosial Pemprov Jateng dan DKI Jakarta. Semisal ketika ada orang Brebes yang hilang di Jakarta, maka komunikasi antardinas bisa langsung dilakukan cukup lewat media sosial Twitter tanpa melalui gubernur.

Menurut Ganjar, ini juga peluang bagi petani di Jateng untuk mendapatkan untung yang lebih. Sebab harga jual di wilayah Jateng tentu akan menjadi tinggi ketika dijual di Jakarta.

Misalnya harga komoditas cabai rawit saat ini di Jateng seharga Rp 47.000 per kilogram sementara di Jakarta mencapai Rp 80 ribu per kilogram, namun untuk harga cabai rawit merah masih Rp 120 ribu per kilogram sama dengan Jakarta. (amh/ric/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here