Jam Operasional Kendaraan Berat Dibatasi

Wali Kota Cek ”JalurTengkorak” Silayur

267
JALUR TENGKORAK: Petugas Dinas Perhubungan Kota Semarang memasang rambu-rambu rawan kecelakaan di Kawasan Silayur Jalan Prof Hamka. (kanan) Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menjenguk korban kecelakaan Silayur di RS Permata Medika, serta mengecek turunan Silayur bersama aparat kepolisian. ((ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
JALUR TENGKORAK: Petugas Dinas Perhubungan Kota Semarang memasang rambu-rambu rawan kecelakaan di Kawasan Silayur Jalan Prof Hamka. (kanan) Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menjenguk korban kecelakaan Silayur di RS Permata Medika, serta mengecek turunan Silayur bersama aparat kepolisian. ((ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Setelah berkali-kali terjadi kecelakaan beruntun di turunan Silayur Jalan Prof Hamka, Ngaliyan, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi pun akhirnya turun tangan mengecek kondisi kawasan yang dikenal sebagai ”jalur tengkorak” tersebut. Bahkan kemarin, Dinas Perhubungan langsung melakukan upaya penanganan sementara. Di antaranya, memperbanyak pemasangan rambu-rambu, pita penggaduh atau pita kejut, dan memberlakukan aturan pembatasan jam operasional bagi kendaraan bermuatan berat di jalur tersebut. Ke depan juga direncanakan akan dibangun jalur penyelamatan sebagai antisipasi kendaraan rem blong.

”Kami cukup prihatin dengan kecelakaan yang sering terjadi di Silayur. Karena itu, pemerintah kota melalui Dinas Perhubungan akan memberlakukan sistem pembatasan jam operasi khusus kendaraan berat,” kata Hendi –sapaan akrab Hendrar Prihadi— saat meninjau lokasi turunan Silayur, Jumat (3/3).

Ia menilai, seringnya terjadi kecelakaan di jalur tersebut membuat pihaknya perlu segera mengambil langkah antisipasi. Semua kendaraan bermuatan berat di atas 8 ton, hanya diperbolehkan melintas pukul 23.00 hingga 04.00. Pembatasan jam operasional ini akan diberlakukan mulai Senin (6/3) mendatang. Hanya saja, pembatasan tersebut diberlakukan khusus untuk kendaraan besar yang melintas dari arah Bukit Semarang Baru (BSB) atau dari selatan ke utara. Sementara kendaraaan besar dari arah utara tetap diizinkan melintas tanpa ketentuan waktu.

Hendi mengakui, adanya kawasan industri di daerah BSB menyebabkan intensitas kendaraan berat yang melintas di jalur Silayur cukup tinggi. ”Karena itu, kami mengimbau agar para pengusaha di kawasan industri BSB untuk menyiapkan armada dengan baik. Turunan Silayur memang cukup panjang, sehingga membutuhkan kendaraan dengan kondisi prima,” ujarnya.

Lebih lanjut, kata Hendi, Dishub Kota Semarang bersama Satlantas Polrestabes Semarang akan melakukan sosialisasi terkait pemberlakuan pembatasan jam operasional kendaraan berat yang melintas di jalur tersebut. Termasuk sosialisasi kepada para pengusaha di kawasan industri BSB. ”Nanti selama satu atau dua minggu, petugas akan berjaga. Jika ada yang melanggar akan diberlakukan sanksi tilang,” tegasnya.

Selain memberlakukan pembatasan jam operasional, Dishub saat ini juga memasang rambu-rambu bertuliskan ’Turunan Tajam Pindah Gigi Rendah’ di sisi kiri jalur turunan Silayur. ”Selain itu juga akan dipasang pita kejut, dan lampu kedap-kedip untuk meningkatkan kewaspadaan pengendara,” katanya.

Sedangkan untuk jangka panjang, pihaknya mempertimbangkan atas usulan dibangun jalur penyelamat untuk mengantisipasi adanya kecelakaan rem blong. Namun demikian, hal ini masih dilakukan kajian mendalam. ”Paling cepat bisa direalisasikan pada anggaran perubahan atau pada anggaran 2018,” ujarnya.

Hendi dalam kesempatan tersebut juga meluangkan waktu untuk menjenguk sejumlah korban luka di RS Permata Medika Ngaliyan. Mereka merupakan korban luka dalam kecelakaan truk kontainer yang diduga mengalami rem blong di turunan Silayur pada Kamis (2/3) lalu.

Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang, Suharsono, mengaku turut prihatin atas kecelakaan yang sering terjadi di turunan Silayur. ”Masyarakat meminta permasalahan ini segera direspons. Tentunya sebagai langkah antisipasi kerawanan kecelakaan di turunan Silayur. Maka harus segera dilaksanakan pembatasan jam operasional truk angkutan mulai pukul 23.00 hingga pukul 04.00,” katanya.

Selanjutnya, kata dia harus segera dibuatkan jalur penyelamatan di sekitar turunan Silayur termasuk pengawasan lebih ketat atas kapasitas muatan agar tidak melebihi batas maksimal. ”Selain itu, pelebaran jalan di depan Perumahan Permata Puri atau depan Rumah Sakit Permata Medika perlu segera dilaksanakan karena sangat rawan terjadi kecelakaan,” ujarnya.

Pihaknya mengapresiasi langkah Pemkot Semarang segera merespons masukan dari masyarakat. Untuk segera dilakukan penanganan. ”Pemkot tadi pagi (kemarin) langsung ke lokasi untuk mengecek kondisi turunan jalur Silayur,” katanya.

Mengenai kapan target pembangunan jalur penyelamatan bisa direalisasikan, Suharsono mengatakan hal ini perlu tahapan. Mulai dari kajian termasuk pengajuan anggaran. ”Karena belum masuk di anggaran murni 2017, sehingga dalam anggaran perubahan 2017 harus dimasukkan untuk pembebasan lahan dan pembangunannya,” ujarnya.

Pengamat Transportasi Unika Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno, mengatakan langkah pembatasan jam operasional truk-truk bermuatan berat di jalur Silayur Jalan Prof Hamka sudah cukup tepat.

”Sudah seharusnya diberlakukan jam operasional. Ruas jalan itu termasuk blackspot untuk Kota Semarang. Dari sisi geometrik, tanjakan atau turunan Silayur tidak mendukung untuk kendaraan barang bermuatan berat. Adanya kawasan industri BSB, menyebabkan mobil barang dengan muatan berat, mobilitasnya tak terkontrol,” katanya.

Dia menilai, seharusnya dapat dioperasikan jembatan timbang di kawasan industri BSB, agar muatan yang diangkut tidak melebihi beban maksimal. ”Ada kesalahan Pemkot Semarang ketika menetapkan kawasan BSB diberikan untuk kawasan industri. Mestinya, kawasan industri berdekatan dengan jalan nasional, minimal jalan provinsi. Bukan di jalan kota yang ramai lalu lintas lokalnya,” ujarnya. (amu/aro/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here