Anisa Turwahyati, TKW di Hongkong Sekaligus Atlet Taekwondo

Waktu Libur untuk Berlatih, Target Raih Emas

258
MEMBANGGAKAN : Anisa Turwahyati (kiri) meraih juara 2 dalam poomsae kompetisi 2017 di Hongkong belum lama ini.
MEMBANGGAKAN : Anisa Turwahyati (kiri) meraih juara 2 dalam poomsae kompetisi 2017 di Hongkong belum lama ini.

Di tengah kesibukannya sebagai pekerja informal di Hongkong, Anisa Turwahyati mampu meraih prestasi. Atlet taekwondo ini menyabet medali perak dalam poomsae kompetisi 2017 di Hongkong belum lama ini.

PERLU diketahui, kompetisi olahraga taekwondo kategori poomsae ini terhitung bergengsi di Hongkong. Terbukti, selain diikuti atlet tuan rumah (Hongkong), Nepal, Filipina juga Indonesia turut menerjunkan atlet terbaiknya dalam kompetisi tersebut.

Anisa Turwahyati, warga Desa Lamuk, Kecamatan Watumalang ini berhasil menyabet medali perak dalam poomsae kompetisi 2017 di Hongkong belum lama ini. Khusus bagi Nisa, dididik dan dilatih oleh salah satu klub kenamaan, Jordan & Mongkok team, yang berada di bawah naungan, Foreigners Hongkong Taekwondo Association. Kendati begitu, saat di atas podium Nisa berdiri atas nama Indonesia.

“Seneng banget, di antara empat negara yang berebut, Indonesia bisa dapat,” katanya melalui telepon kemarin.

Tak henti sampai di situ, ambisinya menjadi juara poomsae akan terus dikejar. Bulan depan, kata dia, tepatnya 23 April, Hongkong akan menggelar kejuaraan Taekwondo Black Belt Kyorugi & Poomsae Championship 2017. Sedikitnya 23 klub terbaik poomsae dari Hongkong dan Tiongkok akan tanding. Di laga mendatang, ia mengaku sangat optimistis, bakal menaikkan prestasi, dari juara dua menjadi juara satu.

“Sangat optimistis, okelah kalau kemarin baru perak. Harap saya di poomsae championship nanti dapat gold medals (medali emas),”katanya optimisitis.

Perempuan berparas cantik ini bekerja di Hongkong sudah 4,5 tahun. Ia bekerja sebagai penjaga toko yang menyediakan berbagai kebutuhan hewan (pet shop). Dalam seminggu, libur sehari. Pada hari libur itulah, ia manfaatkan untuk berlatih bersama temannya. Kata dia, ada 10 atlet taekwondo dari Indonesia yang berlatih di klub yang sama.

“Kalau temen-temen banyakan yang berlibur. Kalau saya lebih suka berlatih di klub. Bareng temen-temen Indonesia yang masih sehobi,” jelasnya.

Dikatakan, meski taekwondo bukan olah raga yang berasal dari Indonesia, namun skill yang dimiliki atlet taekwondo Indonesia tak bisa dipandang sebelah mata.

Bahkan, di beberapa even taekwondo yang dihelat di Hongkong, kerap dimenangkan oleh atlet taekwondo asal Indonesia, yang sekaligus sebagai pekerja sektor informal di Hongkong.

“Teman-teman kita selalu aktif dalam setiap even. Dan kerap dapet juara juga,” imbuhnya.

Disayangkan oleh Nisa, perhatian pemerintah terhadap atlet mandiri asal Indonesia di luar negeri sangat kecil. Bahkan, untuk perhelatan sekelas poomsae kompetisi Hongkong saja, kata dia, pihak kedutaan Indonesia tak terlihat hadir.

“Makanya harus pinter (jadi TKI nyambi atlet). Pinter bagi waktu, pinter berkomunikasi dengan bos, apalagi perhatian dari pemerintah Indonesia masih sangat minim,” tandasnya.

Dengan berbagai kesulitannya, ia tetap mengaku bangga bahwa hobinya yang ia tekuni beberapa tahun terakhir itu, mulai menuai prestasi. Ia menganggap apresiasi yang diberikan sejatinya bukan untuk dirinya semata. Melainkan negara tercinta Indonesia.

“Siapa sih yang nggak pingin negaranya lebih dikenal, lebih diapresiasi. Saya di Hongkong hanya untuk kerja. Dan suatu hari nanti saya bakal balik ke tanah air,” jelasnya. (cr2/lis)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here