Akses Darurat Untuk Aktivitas Warga Slento

271
SAMBUNG AKSES: Prajurit TNI Koramil 15/Singorojo Kodim Kendal bersama kepolisian dan warga bergotong royong membangun jembatan darurat Slento yang sebelumnya terputus akibat derasnya aliran sungai. (Budi Setiawan/Jawa Pos Radar Semarang)
SAMBUNG AKSES: Prajurit TNI Koramil 15/Singorojo Kodim Kendal bersama kepolisian dan warga bergotong royong membangun jembatan darurat Slento yang sebelumnya terputus akibat derasnya aliran sungai. (Budi Setiawan/Jawa Pos Radar Semarang)

KENDAL—Tentara Nasional Indonesia (TNI) Koramil 15/Singorojo Kodim Kendal bersama polisi dan puluhan warga bergotong royong  membangun jembatan penghubung Dukuh Slento dengan Desa Kaliputih, Kecamatan Singorojo sepanjang 50 meter, setelah roboh lantaran diterjang kencangnya arus Kali Bodri.

Diketahui, jembatan itu merupakan akses jalan satu-satunya bagi sebanyak 350 kepala keluarga (KK) yang tinggal di Dukuh Slento untuk keluar ke daerah lain. Jembatan darurat menggunakan bahan bambu yang dibuat anyaman.  “Jembatan ini akses satu-satunya untuk melakukan berbagai aktivitas warga. Jadi harus segera diperbaiki. Kasihan jika warga harus menyebrangi sungai karena arus Kali Bodri cukup deras dan membahayakan,” kata Dandim 0715 Kendal Leklol Inf Piter Dwi Ardianto melalui Danramil15 Singorojo, Kapt Inf Harmanto

Diakuinya memang ada akses lain selain jembatan. Tapi warga harus memutar yang jarakanya mencapai puluhan kilometer. Maka jembatan darurat ini penting bagi warga sini.

Salah satu warga Dukuh Slento, Ahmad, 45, mengatakan, dirinya sangat bersyukur sekali dengan adanya perbaikan jembatan darurat ini. Dengan begitu warga Dukuh Slento bisa beraktivitas lagi tanpa harus menyeberangi sungai seperti hari kemarin.

Meski jembatannya yang dibuat dari anyaman bambu, dan tidak boleh dilewati kendaraan, tapi setidaknya warga  bisa keluar masuk desa tanpa harus menempuh jarak jauh. “Kalau menyebrangi sungai sangat berbahaya memang. Kalau tidak banjir nggak apa-apa, tapi kalau sungainya  sedang banjir kasihan warga harus bertaruh dengan nyawa,” jelasnya.

Putusnya jembatan Slento itu karena bronjong penahan batu kali yang dibuat warga bersama TNI dan polisi, pada saat putus di pertengahan bulan Januari lalu roboh, karena tidak kuat menahan terjangan banjir. Dengan putusnya jembatan ini, perekonomian warga menjadi lumpuh, karena mobil omprengan yang biasanya mengangkut hasil pertanian warga, tak bisa melintas dan membawanya. (bud/zal)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here