Rekahan Meluas hingga Kebun Kopi

285
OBJEK WISATA BARU: Puluhan warga dan aparat Polsek Sumowono saat melihat lokasi penurunan tanah di Desa Candi Garon, Kecamatan Sumowono, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
OBJEK WISATA BARU: Puluhan warga dan aparat Polsek Sumowono saat melihat lokasi penurunan tanah di Desa Candi Garon, Kecamatan Sumowono, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

UNGARAN – Penurunan tanah di Desa ‎Candi Garon, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang semakin meluas. Setidaknya rekahan tanah sudah menjalar hingga ke lahan perkebunan kopi yang lokasinya bersebelahan dengan titik sentral penurunan tanah, di lapangan sepak bola Pandan Murti, desa setempat.

Kepala Desa Candi Garon, Margowanto, mengungkapkan kekhawatirannya terkait hal itu. ”Bagaimana kalau semakin meluas,” kata Margowanto waswas, Kamis (2/3).

Meski bukan hal yang baru, peristiwa penurunan tanah tersebut juga membuat psikologis warga sekitar menjadi panik. Apalagi sudah ada empat rumah yang terdampak dari penurunan tersebut. Satu rumah di antaranya harus dirobohkan. Meski begitu, penurunan tanah yang berada di kebun kopi milik warga tersebut tidak begitu dalam jika dibandingkan dengan awal peristiwa tersebut.

Margowanto meminta warganya untuk tetap waspada. Apalagi saat intensitas hujan semakin tinggi. ”Untuk 3 rumah yang terdampak lainnya, belum kita ungsikan. Yang satu kemarin sudah ngungsi di rumah saudaranya,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Di sisi lain, fenomena tanah amblas tersebut menarik perhatian warga. Bahkan lokasi tanah amblas, khususnya di lapangan sepak bola Pandan Murti mendadak ramai dikunjungi warga. Tak sedikit yang mengabadikan dan foto selfie di tanah yang merekah.  Alhasil, lokasi taah amblas itu pun menjadi objek wisata baru.

Salah satu warga yang datang untuk menyaksikan fenomena alam tersebut adalah Tri Arsi, 42, warga Kecamatan Pabelan. Ia mengaku penasaran setelah membaca berita peristiwa tersebut di media cetak. ”Kebetulan melintas di Sumowono, karena mau ke Temanggung. Jadi ingin melihat langsung. Saya tahunya dari media,” katanya.

Selain masyarakat luar, warga lokal juga masih ramai melihat kejadian tersebut. Pihak desa tetap mewanti-wanti agar warga setempat tetap berhati-hati. ”Karena tanah kalau diinjak kok langsung amblas. Kita juga harus hati-hati,” ujar salah seorang warga, Winarno, 37.

Kemarin aparat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang sempat meninjau lokasi tersebut.

Kepala BPBD Kabupaten Semarang, Heru Subroto, mengatakan, pihaknya masih mengkaji penyebab penurunan tanah di Desa Candi Garon tersebut. ”Data sudah kita berikan ke pihak Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng untuk diteliti penyebabnya apa,” katanya.

Dikatakan Heru, penurunan tanah sebenarnya tidak hanya terjadi di Desa Candi Garon, namun juga di tiga kecamatan lain. Yakni, Kecamatan Bancak, Ungaran Timur dan Pringapus. ”Bantuan ke Candi Garon sudah kita berikan,” katanya.

Selain itu, ia juga mengimbau agar warga yang terdampak untuk segera mengungsi ke tempat yang lebih aman. ”Bisa ke saudara atau tetangga, yang penting aman,” tuturnya.

Di Kecamatan Bancak, terjadi rekahan tanah singkapan mulai Makam Kutukan hingga wilayah Dusun Pereng, Desa Jlumpang. Panjang rekahan mencapai 500 meter dengan lebar 20-50 sentimeter, mengakibatkan dua rumah rusak parah, dan enam rumah rusak sedang.

Di Kecamatan Ungaran Timur, fenomena alam terjadi di wilayah Desa Mluweh. Rekahan dan penurunan tanah akibatkan Jalan Susukan-Mluweh terputus, sehingga akses jalan terganggu. Sementara di Kecamatan Pringapus, rekahan dan tanah amblas terjadi di Desa Penawangan yang memicu terputusnya jalan penghubung Gondoriyo – Penawangan.

”Khusus di Penawangan ini, informasi dari masyarakat diawali suara kretek-kretek pertanda tanah merekah,” ujar Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Semarang, Joner Hutajulu.

Langkah awal antisipasi, kata dia, BPBD telah membuat jalur evakuasi di wilayah yang rentan bencana. Ia meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan melalui kegiatan siskamling serta langsung mengungsi ke tempat aman jika terjadi bencana alam.

Berdasarkan data BPBD Kabupaten Semarang, sampai Februari ini, telah terjadi 119 peristiwa bencana di beberapa kecamatan. Di antaranya, tanah longsor, angin puting beliung dan kebakaran. Ia meminta para camat dan kades untuk segera melaporkan kejadian bencana yang terjadi agar segera mendapatkan penanganan.

”Kita siapkan empat posko di Kecamatan Getasan, Banyubiru, Sumowono dan di markas BPBD di Ungaran untuk tanggap darurat bencana alam maupun kebakaran,” katanya.

Ditanya jumlah warga korban bencana, saat ini telah terdata 38 korban yang akan mendapat bantuan sosial dari APBD Kabupaten Semarang. Besaran bantuan bervariasi antara Rp 3 juta sampai Rp 10 juta tergantung tingkat kerusakan dan kerugian yang diderita korban.

Anggaran BPBD untuk dana bantuan sosial bencana alam sebesar Rp 780 juta, dan saat ini telah terserap sekitar Rp 200 juta. Jika diperlukan, pihaknya siap menganggarkan tambahan di APBD perubahan 2017. (ewb/aro/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here