Cuaca Buruk, Nelayan Nekat Melaut

294
TAK PUNYA PILIHAN : Nelayan di Kecamatan Wonokerto nekat melaut meski cuaca di perairan Selat Jawa masih buruk. (Taufik hidayat/jawa pos radar semarang)
TAK PUNYA PILIHAN : Nelayan di Kecamatan Wonokerto nekat melaut meski cuaca di perairan Selat Jawa masih buruk. (Taufik hidayat/jawa pos radar semarang)

KAJEN – Meski cuaca masih ekstrim, ratusan nelayan di Desa Wonokerto, Sijambe dan Pecakaran, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan nekad pergi melaut. Mereka mengaku tak tahan karena sudah sebulan menganggur tak bekerja.

Mawardi, 48, warga Desa Sijambe RT 06 RW 02, Kecamatan Wonokerto, mengungkapkan, meski ada imbauan dari syahbandar bahwa cuaca di laut belum bersahabat, dirinya bersama nelayan lain tetap nekad melaut. Sebab mereka tak memiliki pekerjaan lain.

Menurutnya saat ini sering terjadi ombak besar dengan ketinggian lebih dari 2 meter. Hujan dan badai juga sering terjadi. Namun karena tidak adanya pekerjaan lain, para nelayan tetap melaut untuk mencari ikan.

“Badai dan hujan masih sering terjadi. Kami melaut karena tidak ada pekerjaan lain selain nelayan, dan harga ikan juga masih sangat bagus,” ungkapnya.

Mawardi juga mengatakan, untuk saat ini harga ikan naik hingga 40 persen. Kebutuhan ikan meningkat, sementara jumlah ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) sangat sedikit, karena jarang nelayan yang melaut dengan adanya cuaca buruk.

Menurutnya meski risiko yang dihadapinya juga besar, namun hasil tangkapan ikan yang diperoleh sebanding dengan harga jual ikan di TPI. Sehingga cuaca buruk tak menjadi halangan untuk melaut.

”Harga ikan tongkol saja dari Rp 21 ribu, naik menjadi Rp 30 ribu per kilogram. Demikian juga dengan ikan cumi, dari Rp 20 ribu menjadi 35 ribu per kilogramnya,” kata Mawardi Sugiri.

Sementara itu, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI), Kabupaten Pekalongan, Wiranto mengingatkan, para nelayan yang nekad melaut disarankan untuk tidak melaut terlalu jauh. Mengingat arus laut masih sangat deras dan badai masih sering terjadi.

Menurutnya jika selama syahbandar belum menurunkan bendera hitam, nelayan untuk lebih hati-hati. Sebab pertanda cuaca masih sangat buruk dan keselamatan juga harus dipikirkan. Nelayan juga harus membekali diri dengan peralatan keselamatan dan harus terus memantau perkembangan cuaca dengan BMKG.

”Dengan kondisi cuaca seperti ini, maka biaya operasional akan membengkak, karena arus sangat deras, laju kapal tidak bisa cepat, dan yang terpenting bekali diri dengan peralatan keselamatan,” tegas Wiranto. (thd/ric)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here