Tak Akan Terjadi Longsor

130
DOKUMENTASI PRIBADI: Dwiyanto
DOKUMENTASI PRIBADI: Dwiyanto

PAKAR geologi dari Universitas Diponegoro (Undip), Dwiyanto menerangkan bahwa fenomena penurunan tanah di areal Desa Candi Garon Sumowono Bandungan Kabupaten Semarang sepanjang 1kilometer (km) lebih dengan kedalaman hingga 2 meter dari lapangan sepak bola hingga permukiman warga, merupakan gejala awal adanya longsor. Dikarenakan kondisi tanah dekat dengan tebing. ”Kalau tanah longsor awalnya memang seperti itu. Retak dulu, terus turun dan nanti berlanjut cepat atau lambat tergantung kondisi tanahnya,” ungkapnya.

Dwiyanto mengatakan apabila melihat dari retakan yang terjadi, tanah itu akan langsung ambrol tanpa ada pergerakan pelan. Namun ia juga menjelaskan bahwa hal itu tidak perlu dikhawatirkan, karena panjang penurunan yang terjadi lebih dari normalnya bencana tanah longsor. ”Kalau dilihat dari retakannya memang disebabkan curah hujan. Sebab daerah tersebut merupakan daerah perbukitan sehingga lempeng tanah bergeser,” ujarnya.

Dirinya mengungkapkan bahwa pencegahan sementara dapat dilakukan dengan memasukkan larutan semen di sepanjang penurunan tanah. Ia menjelaskan bahwa hal ini dilakukan sebagai upaya merekatkan antara tanah yang ambles dan tidak, sehingga bisa menahan. ”Sepanjang itu dimasuki atau diisi dengan larutan semen, nanti setelah kering akan merekat jadi seperti lem. Nah itu sudah bisa menahan untuk beberapa waktu,” tuturnya.

Dwiyanto menambahkan warga tidak perlu khawatir atas kejadian itu. Menurutnya, tidak akan menimbulkan bencana tanah longsor. ”Warga tidak perlu khawatir, jika penurunannya sepanjang 1 km itu kemungkinan terjadinya longsor kecil. Umumnya tanah longsor hanya sepanjang 50 meter bahkan jarang sekali yang sampai 100 meter,” pungkasnya. (mg26/ida/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here