Sopir Angkot Tolak BRT Koridor V dan VI

255
AUDIENSI: Perwakilan sopir angkot, melakukan audiensi di ruang Serba Guna 2 Kantor DPRD Kota Semarang, Rabu (1/3) kemarin. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)
AUDIENSI: Perwakilan sopir angkot, melakukan audiensi di ruang Serba Guna 2 Kantor DPRD Kota Semarang, Rabu (1/3) kemarin. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Ribuan sopir angkot resah atas rencana pemberlakuan proyek rute baru Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang Koridor V dan VI. Terutama trayek yang melewati wilayah Kedungmundu, Ketileng, Undip, Tegal Wareng, Banyumanik dan Unnes. Para sopir angkot menilai, jika dua koridor baru itu diberlakukan, ada ribuan sopir angkot terancam kehilangan mata pencaharian.

Atas hal itu, puluhan sopir yang merupakan perwakilan paguyuban sopir angkot itu menggeruduk kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang. Mereka meminta agar dewan menjembatani persoalan tersebut. ”Ini permasalahan serius bagi para sopir angkot. Jika BRT Koridor V dan VI diberlakukan, maka para sopir angkot akan tergeser. Jumlah penumpang angkutan kota makin berkurang dan berganti ke BRT,” kata salah satu perwakilan sopir angkot, Widodo, usai audiensi di ruang Serba Guna 2 Kantor DPRD Kota Semarang, Rabu (1/3) kemarin.

Dikatakannya, kehadiran rute baru BRT tersebut akan sangat memengaruhi penghasilan para sopir angkot menurun. Tentu hal ini akan sangat menyulitkan. Padahal, selama ini di jalur-jalur tersebut, penghasilan para sopir angkot sangat minim. Apalagi kalau diberlakukan BRT rute baru itu. ”Kondisi sopir angkot saat ini sudah sangat kritis, ibarat pasien sakit di ruang ICU. Apalagi nanti kalau dioperasionalkan BRT, kami mau makan apa?” kata dia.

Penghasilan angkot saat ini tidak bisa diandalkan. Bahkan dalam kesehariannya, setiap angkot yang melayani penumpang, sekali tarikan atau berangkat dari Pasar Johar menuju Banyumanik, hanya memperoleh Rp 13 ribu. ”Kondisinya sudah memprihatinkan apalagi kalau sudah diberlakukan koridor V dan VI. Makanya ini membuat sopir angkot yang selama ini melewati jalur tersebut merasa waswas dan sedih,” katanya.

Dikatakan Widodo, sopir angkot di Kedungmundu, Tegal wareng, Banyumanik dan Unnes ini saja berjumlah ribuan orang. Trayek ini kurang lebih menempuh jarak 8 kilometer. Ia mengakui, banyaknya sopir angkot membuat persaingan semakin ketat dan pendapatan minim. ”Apalagi jika ditambah dengan dioperasionalkannya BRT. Maka, kami menolak adanya BRT Koridor V dan VI ini,” ujarnya.

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang, Agung Budi Margono mengatakan bahwa pihaknya sangat prihatin atas kondisi yang dialami oleh para sopir angkot tersebut. Penghasilan para sopir angkot ini memang terbilang minim. ”Kami menampung keluhan dari sopir angkot yang sudah lama bekerja melayani jasa transportasi di Kota Semarang,” katanya.

Pihaknya mengaku akan membantu mengurai masalah yang dihadapi para sopir angkot tersebut. Di antaranya akan dipertemukan dengan pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang dan pengelola BRT. ”Harapannya, nanti bisa memperoleh solusi atau jalur tengah atas permasalahan ini. Kami sangat prihatin, secepatnya akan kami agendakan pertemuan tersebut. Intinya agar dibuka komunikasi, baik pemerintah, dalam hal ini Dishub dan paguyuban sopir angkot. Nanti solusinya seperti apa dicarikan bersama-sama,” kata politisi PKS ini.

Dikatakan juga bahwa pihaknya mendukung langkah Pemkot Semarang untuk dioperasionalkan BRT Koridor V dan VI untuk melayani angkutan masal. Namun demikian, adanya BRT rute baru ini juga harus mempertimbangkan keberadaan angkot. ”Memang, seharusnya dengan adanya BRT bisa memberikan pelayanan transportasi publik. Termasuk bisa memberikan kesejahteraan kepada pengemudi. Hal ini harus jadi perhatian dan pertimbangan, dampak-dampaknya seperti apa,” katanya.

Rute Koridor V yakni Meteseh – Pemuda – Anjasmoro – Dinar Mas – Prof Suharso – Gendong – Ketileng – Kedungmundu – Tentara Pelajar – Mataram – Sriwijaya – Pahlawan –  Menteri Supeno –  Simpang Lima – Pandanaran – MH Thamrin – Pemuda – Balai Kota – Tugu Muda – Dr Soetomo – Kali Garang – Pamularsih – Kali Banteng – Sudirman – Anjasmoro – PRPP.

Sedangkan Koridor VI Unnes – Taman Diponegoro – RS Nasional Diponegoro, melalui Unnes – Banaran Raya – HR Hadianto – Menoreh Raya – Pawiyatan Luhur – Karangrejo Raya – Telaga Bodas Raya – Rajabasa – Semeru Raya – Sultan Agung – Taman Diponegoro – Teuku Umar – Setyabudi – Ngesrep Timur – Prof Sudarto – RS Nasional Diponegoro. (amu/ida/ce1)

 

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here