Jangan Ada Diskriminasi pada Difabel

263
SALING MENGUATKAN: Sri Lestari berpamitan dengan ibu-ibu yang memiliki putra di Kongsi, Bumirejo Mojotengah. (Ahmad zainudin/jawa pos radar kedu)
SALING MENGUATKAN: Sri Lestari berpamitan dengan ibu-ibu yang memiliki putra di Kongsi, Bumirejo Mojotengah. (Ahmad zainudin/jawa pos radar kedu)

WONOSOBO – Berbagai kesulitan masih dihadapi keluarga maupun penyandang difabel atau orang berkebutuhan khusus di Indonesia. Di antaranya, belum adanya jaminan kesehatan yang menyeluruh dari pemerintah, sulitnya mengakses pendidikan, hingga diskriminasi masyarakat terhadap penyandang difabel.

“Mereka berhak dihormati, tidak dipandang sebelah mata, bisa mengakses pendidikan sama dengan anak yang lain. Dan yang paling penting adalah adanya jaminan kesehatan yang menyeluruh dari pemerintah,” kata Sri Lestari, seorang motivator asal Solodiran, Manisrenggo, Klaten saat berkunjung ke kelompok pendukung keluarga difabel, di Kongsi, Bumirejo, Mojotengah, belum lama ini.

Perempuan 42  tahun yang pernah menjelajahi Indonesia dengan kursi roda itu menjelaskan, diskriminasi sosial sangat dirasakan para penyandang difabel. Padahal, di beberapa kasus difabel, mereka masih memiliki akal yang normal seperti yang lain. Diskriminasi yang ada kerap memperparah depresi. Ujung-ujungnya mereka lebih menutup diri, tak berani beraktivitas selayaknya orang normal. “Rata-rata yang saya jumpai itu. Karena ada tekanan dari masyarakat ia jadi manusia minder. nggak berani keluar rumah. Padahal tubuhnya sebetulnya kuat dan masih bisa beraktivfitas layaknya orang lain yang sehat.”

Masalah yang kedua, kata Sri, belum adanya jaminan yang menyeluruh bagi penyandang maupun keluarga difabel. Padahal, penyandang difabel sangat rentan terhadap penyakit dan membutuhkan biaya pengobatan maupun biaya perawatan sangat tinggi. Parahnya lagi, rata-rata penyandang difabel memiliki latar belakang keluarga miskin.

Adapun masalah yang ketiga masalah aksebilitas sekolah terhadap para penyandang. Masih sering dijumpai, difabel ditolak ketika mendaftar sekolah. Padahal mereka sebenarnya memiliki hak sama dalam mengakses pendidikan. (cr2/ton)

 

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here