Gadis-Gadis Satpol PP Digerayangi Senior

272
Grafis
Grafis

SEMARANG – Dua gadis anggota honorer baru di Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Semarang, merasa menjadi korban pelecehan seksual saat dilakukan kegiatan caraka malam (serupa jurit malam) di daerah Candi Gedongsongo, Bandungan, Kabupaten Samarang.

Malam itu, alih-alih memberikan pendidikan dan pelatihan dasar Kesamaptaan. Para korban justru digerayangi di bagian payudara dan sempat diminta melepas celana oleh seniornya di Satpol PP Kota Semarang, berinisial K. Tentu saja, hal itu membuat para korban marah dan malu.

Kedua korban tersebut adalah anggota Satpol PP honorer yang bertugas menjadi Satgas Linmas. Masing-masing; berinisial NOC dan RAN. Kasus ini mencuat, karena sudah dilaporkan ke atasan Satpol PP, namun tidak ada penanganan dan tindak lanjut. ”Tidak ada respons, pelaku juga tidak diberikan sanksi apa pun. Bahkan korban malah diminta membuat surat pernyataan agar tidak menyebarluaskan masalah ini,” kata kuasa hukum korban, Dio Hermansyah, Rabu (1/3) kemarin.

Diceritakan Dio, kasus ini bermula saat Satpol PP Kota Semarang menggelar kegiatan pendidikan dan pelatihan dasar untuk anggota honorer baru di daerah Candi Gedongsongo Kecamatam Bandungan, Kabupaten Samarang pada 3-4 Februari 2017 lalu. Salah satu kegiatan di dalam acara itu ada penggemblengan fisik dan mental, yang dilakukan tengah malam. ”Seperti kegiatan jurit malam lah. Nah, saat proses kegiatan di tengah malam, salah satu korban diduga digerayangi di bagian payudara. Ada juga yang lainnya diminta melepaskan celana. Tapi ditolak oleh korban,” katanya.

Dikatakan Dio, sebenarnya ada 7 korban dalam kasus dugaan tindak asusila ini. Pelakunya satu orang yakni anggota Satpol PP berinisial K yang juga berstatus honorer. Korban yang berani melapor resmi baru dua orang. Sementara 5 korban lainnya takut dan malu. ”Para korban sudah melaporkan kasus tersebut kepada atasannya. Tapi tidak ada tindak lanjut. Bahkan, bukannya para pelaku ditangani dan diberi sanksi, tapi korban malah diminta membuat surat pernyataan agar masalah ini tidak disebarluaskan,” katanya.

Isi pernyataan tersebut sebagai berikut ”Saya tidak akan menyebarluaskan kepada siapapun kejadian yang saya alami dalam kegiatan Caraka Linmas di Gedongsongo. Saya tidak akan menuntut Pemerintah Kota Semarang khususnya Satpol PP Kota Semarang dalam bentuk apapun, baik pidana ataupun perdata terhadap permasalahan ini. Saya menuntut yang bersangkutan diberikan sanksi sesuai ketentuan. Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan keadaan sadar dan tanpa ada paksaan dari pihak manapun.”

”Karena tidak ada tindakan, korban mengadukan ke tempat kami. Kemudian kami tindaklanjuti melaporkan ke Badan Pengawas Daerah (Bawasda) Kota Semarang atau Inspektorat Kota Semarang, terkait adanya dugaan tindak asusila sesuai Pasal 281. Jika ini tidak ada tindakan penanganan lebih lanjut, maka kami selaku kuasa hukum pihak korban akan melaporkan ke Polda Jawa Tengah,” tegasnya.

Dalam kejadian ini, pelaku sempat berdalih bahwa itu dilakukan untuk membersihkan baju korban yang kotor. Tetapi pihak kuasa hukum menilai hal itu hanya modus atau alibi saja. ”Salah satu korban diminta untuk melepas pakaian sendiri karena alasannya pakaian kotor. Itu hanya modus,” kata Dio.

Kepala Inspektorat Kota Semarang, Cahyo Bintarum membenarkan bahwa pihaknya telah menerima laporan tersebut sejak Senin lalu. ”Penanganannya kami kembalikan ke komandan SKPD (Satpol PP) untuk melakukan pemeriksaan. Nanti kami menunggu laporan dari sana. Laporan resmi ke kami sudah masuk,” katanya.

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 53/2010, kata dia, prosedurnya memang seperti itu. ”Komandan atau pimpinan SKPD harus mengadakan pemeriksaan. Setelah itu hasilnya diteruskan ke Inspektorat dan Wali Kota Semarang,” katanya.

Kepala Satpol PP Kota Semarang, Endro Pudyo Martantono pun membenarkan terkait adanya aduan masalah tersebut. ”Iya, internal Satpol PP melalui provos sudah memeriksa pelapor dan terlapor. BAP (berita acara pemeriksaan) lengkap. Hanya saja, unsur, bukti dan saksi sangat minim. Saya tidak tahu, laporannya juga sampai Bawasda. Semua sudah memenuhi panggilan juga ke sana. Saat ini sedang dalam proses penanganan,” katanya.

Saat ini, kata Endro, terlapor berinisial K telah dipindahtugaskan. Pihaknya mengaku akan memberikan sanksi tegas apabila memang terlapor terbukti melakukan tindak asusila tersebut. ”Sanksi berikutnya menunggu kajian Inspektorat. Karena ini menyangkut peristiwa yang harus dibuktikan kebenarannya. Jadi kami masih menunggu hasilnya,” katanya.

Endro menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan kegiatan resmi pendidikan dan pelatihan dasar Kesamaptaan yang dilaksanakan oleh Satpol PP Kota Semarang. ”Iya, itu kegiatan resmi. Panitia juga melibatkan pihak eksternal Satpol PP, dari Kodim dan Basarnas. Ini kegiatan yang ke-9. Sehingga tidak benar pimpinan Satpol PP membiarkan. Itu bukan jurit malam, tapi Caraka Malam. Pelatihan dasar, untuk meningkatkan mental dan fisik anggota dan wajib sifatnya,” terang dia.

Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Agung Budi Margono sangat menyayangkan jika hal itu benar-benar terbukti terjadi seperti itu. ”Apalagi Satpol PP merupakan SKPD terhormat dalam konteks penegakan Peraturan Daerah. Perlu ada pembuktian, jika memang jelas terbukti perlu ada tindakan disiplin sesuai aturan. Prinsipnya harus cepat direspons agar tidak menjadi isu yang berkembang ke mana-mana. Aparat pemerintah harus memberikan ketauladanan, perilaku etika sosial dan moralitas yang bisa menjadi panutan masyarakat,” katanya. (amu/ida/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here