Laporkan Penyidik ke Propam Polda

281
KECEWA PENYIDIK: Alex Harijanto saat melaporkan penyidik Polrestabes Semarang ke Propam Polda Jateng, kemarin. (Ismu P/Jawa Pos Radar Semarang)
KECEWA PENYIDIK: Alex Harijanto saat melaporkan penyidik Polrestabes Semarang ke Propam Polda Jateng, kemarin. (Ismu P/Jawa Pos Radar Semarang)

SEMARANG – Kasus dugaan penipuan rumah hadiah Olimpiade milik mantan pelatih taekwondo nasional Alex Harijanto, 77, memasuki babak baru. Selasa (28/2) kemarin, Alex melaporkan penyidik Polrestabes Semarang ke Propam Polda Jateng. Alex kecewa karena penyidik Polrestabes Semarang mengabaikan laporannya terkait dugaan penipuan tersebut.

”Kami melaporkan penipuan tersebut secara pidana serta menggugat perdata. Untuk perdata sudah masuk ke sidang, tapi untuk kasus pidana di mana kami melaporkan tiga orang yang kami anggap melakukan penipuan sejak lebih dari 3 tahun yang lalu tapi tidak ditindaklanjuti pihak penyidik Polrestabes Semarang. Kami kecewa, ada apa? Kami mendengar ada gelar perkara tapi kami tidak pernah diberitahu atau diundang. Bahkan kami dengar kasus ini sudah dihentikan. Karena itu kami melapor ke Propam Polda Jateng,” tandas Alex, ditemani kuasa hukumnya, Johanes Dipa Widjaja.

Dipaparkan Johanes, kasus bermula ketika tokoh sepuh taekwondo Indonesia yang akrab disapa Master Alex ini meminjam uang sebesar Rp 500 juta dengan jaminan surat hak milik tanahnya di Puri Anjasmoro Blok M2 No 1 Semarang Barat, pada 2011 silam kepada Kris Wiluan, koleganya di Jakarta. Oleh Kris, proses gadai dikuasakan kepada Anton Kamajaya. Oleh Anton, diterbitkan surat pengakuan utang dengan tempo 1 tahun dan surat kuasa menjual yang bisa digunakan apabila Alex tidak bisa melunasi utang pada saat jatuh tempo.

Masalah timbul ketika dua bulan sebelum jatuh tempo, Anton secara sepihak menjual surat tanah tersebut kepada seorang bernama Ivone Haliman Wijaya, sebesar Rp 900 juta melalui notaris Liliana Tedjosaputro. Yang mencengangkan, pada hari yang sama, Ivone lalu menjaminkan surat tanah seluas 570 meter persegi tersebut ke Bank Ganesha cabang Semarang, dengan nilai fantastis yakni Rp 2,2 miliar.

Alex baru sadar surat tanahnya sudah berada di pihak Bank Ganesha, ketika dia akan membayar utang kepada Anton saat jatuh tempo, namun ditolak Anton. Oleh Anton dikatakan, surat tanah sudah dijual dan ada penyerahan uang senilai Rp 400 juta kepada istri Alex.

Johanes mengatakan, Alex sama sekali tidak pernah ingin menjual tanah tersebut karena merupakan hadiah atas prestasinya sebagai pelatih kepala tim taekwondo Indonesia pada Olimpiade Barcelona 1992. Saat itu, Alex bersama para taekwondoinnya membawa pulang 3 medali perak dan 1 perunggu untuk Indonesia, meski taekwondo saat itu masih berstatus ekshibisi. ”Selain itu penjualan tidak sepengetahuan Alex. Uang yang diserahkan sebesar Rp 400 juta ke istri Alex juga tidak dikomunikasikan, karena saat itu memang sedang ada masalah keluarga. Uang itu sampai sekarang masih utuh,” tandasnya.

Karena itulah, Alex melaporkan Anton Kamajaya, Ivone Haliman Wijaya, Bank Ganesha, dan notaris Prof Dr Liliana Tedjosaputro. Laporan pidana Johanes ke Polrestabes terkait dengan penipuan dan penggelapan yang dilakukan oleh Anton dan Ivone. Sementara Liliana dianggap telah melakukan keteledoran sebagai notaris, terkait dengan jual beli tanah milik Alex dari Anton kepada Ivone. ”Ternyata Ivone sebelumnya menjadi DPO Polda Jateng karena kasus serupa. Sekarang dia menghilang,” ujar Johanes.

Kasubag Humas Polrestabes Semarang Kompol Suwarna menegaskan setiap laporan atau aduan yang masuk ke Polrestabes Semarang akan tetap ditindaklanjuti. Suwarna menambahkan, pihak penyidik juga memberikan surat pemberitahuan kepada pihak korban ataupun terlapor terkait perkembangan hasil penyidikan dalam penanganan laoran kasus yang ditangani. ”Karena mestinya, pihak penyidik harus mengirimkan surat pemberitahuan perkembangan hasil penyidikan. Jadi itu haknya korban atau pelapor untuk mendapatkan pemberitahuan hasil perkembangan penyidikan. Kalau SP3 kan pihak korban ditembusi kasih surat, penghentian kalau dihentikan,” imbuhnya. (smu/mha/zal/ce1)

 

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here