Fondasi Jembatan Dua Kota Terkikis

Dieng Kritis, Waspadai Banjir Bandang

244
PENGALIHAN ARUS SUNGAI: Petugas Dinas Bina Marga melakukan pengalihan aliran sungai serayu di titik Desa Krakal Kejajar agar aliran sungai tidak memicu fondasi jembatan terkikis ambrol. PENGALIHAN ARUS SUNGAI: Petugas Dinas Bina Marga melakukan pengalihan aliran sungai serayu di titik Desa Krakal Kejajar agar aliran sungai tidak memicu fondasi jembatan terkikis ambrol.
PENGALIHAN ARUS SUNGAI: Petugas Dinas Bina Marga melakukan pengalihan aliran sungai serayu di titik Desa Krakal Kejajar agar aliran sungai tidak memicu fondasi jembatan terkikis ambrol. PENGALIHAN ARUS SUNGAI: Petugas Dinas Bina Marga melakukan pengalihan aliran sungai serayu di titik Desa Krakal Kejajar agar aliran sungai tidak memicu fondasi jembatan terkikis ambrol.

WONOSOBO–Hujan deras yang mengguyur wilayah Dieng patut diwaspadai. Kini, ancaman bencana semakin mengintai. Selasa (28/2) pagi kemarin, misalnya, rumah milik Darmadi, di Dusun Krakal, RT 1 RW 4, Kelurahan Kejajar, ambrol terseret aliran Sungai Serayu. Tak hanya itu. Akibat hujan juga mengikis fondasi jembatan penyambung dua kota: Wonosobo-Temanggung, wilayah utara.

Informasi yang dihimpun koran ini, hujan deras masih terus mengguyur kawasan Dieng. Air hujan masuk ke area pertanian dan mengalir di sepanjang arus Sungai Serayu, membawa lumpur erosi lahan pertanian.

Hal ini membuat kondisi Serayu semakin meluap. Air menghantam tepian di sepadan sungai di wilayah Desa Parikesit. Air juga meluap, menyapu lahan pertanian warga di wilayah Kelurahan Kejajar. Aliran air yang cukup kencang bahkan menghantam rumah warga bernama Darmadi. Akibatnya, rumah korban mengalami ambrol.

Rumah tersebut berdiri di sepadan Sungai Serayu. Bangunan rumah terseret air. Beruntung tidak ada korban jiwa. Sebab, sejak sepekan, rumah sudah dikosongkan.

Dampak lain, akibat curah hujan tinggi, mengikis fondasi jembatan penyambung Wonosobo – Temanggung yang terletak di sebelah timur Kecamatan Kejajar menuju wilayah Temanggung bagian barat. Jembatan yang berada di Dusun Krakal, berdekatan dengan rumah Darmadi, sebagian besar fondasinya sudah ambrol. “Rumah ambrol akibat hujan deras terjadi di wilayah Kejajar,” kata Tafrihan, warga Kejajar.

Kepala Bidang Bina Marga Pemkab Wonosobo Nurudin Ardiyanto kemarin meninjau lokasi jembatan. Selain rumah Darmadi, masih ada tiga rumah lainnya yang terancam ambrol. Sebab, berdiri di lahan kawasan lindung sepadan sungai. Curah hujan yang tinggi, lanjut Nurudin, mengakibatkan penggerusan di kanan kiri Serayu. “Selain empat rumah warga yang terdampak, bangunan jembatan terancam putus,” katanya.

Mengatasi hal ini, Bina Marga langsung melakukan upaya antisipatif. Yakni, mengalihkan aliran sungai ke sisi barat. Tujuannya, agar ketika hujan deras turun, air tidak menghantam fondasi jembatan sebelah timur. Juga agar aliran air tidak menerjang pagar sungai sebelah timur yang terdapat permukiman warga. “Upaya awal yang kami lakukan, mengarahkan aliran sungai dengan alat berat.”

Kepala Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Bappeda Agus Dwi Atmojo menambahkan, curah hujan yang masih tinggi, mengancam lahan pertanian dan bangunan rumah di sepadan Sungai Serayu. Sebab, curah hujan memicu erosi kecil lahan pertanian sekaligus longsor di beberapa titik. Aliran sungai beserta lumpur, jika tersumbat, bisa memicu banjir bandang seperti yang terjadi pada Minggu (26/2) lalu. “Banjir bandang bisa terjadi dalam waktu yang cepat. Untuk itu, warga di sepanjang Serayu harus waspada.”

Ngabidin, warga Garung, mengatakan, dampak hujan selama tiga hari merusak lahan pertanian di Desa Sitiharjo, Kecamatan Garung. Lahan pertanian warga seluas empat hektare siap panen rusak karena tergerus air sungai yang meluap. “Kerugian petani sangat besar, karena mendekati panen, tanaman habis.” (ali/isk)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here