31 C
Semarang
Rabu, 12 Mei 2021

Pernah Jualan Buah, sampai Diancam Golok

Karir Kepala Seksi (Kasi) Tindak Pidana Umum (Tipidum) Kejaksaan Negeri (Kejari) Semarang, Anton Rudianto, cukup cemerlang. Namun siapa sangka perjuangannya saat masih duduk di bangku sekolah hingga kuliah begitu berat. Seperti apa?

JOKO SUSANTO

HIDUP dari keluarga sederhana dan pas-pasan, anak bungsu dari tujuh bersaudara pasangan Suharjo dan Nyonya Suharjo ini terus membulatkan tekad untuk menempuh pendidikan lebih tinggi. Jaksa kelahiran Dusun Gondangan, Desa Sardonoharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman ini, tak pernah lupa akan amalan dari kedua orang tuanya hingga kini, yakni selalu jujur, fokus, ikhlas dan amanah saat bekerja. Selain itu, orang tuanya selalu membiasakan dirinya puasa sunah Senin dan Kamis. Hal itu ia lakukan sejak masih duduk di bangku SMP hingga sekarang.

Anton bercerita, ia menempuh pendidikan sekolah dasar di SD Negeri Sardono, lalu melanjutkan ke SMP Negeri 30 Sleman. Setelah itu, ia meneruskan ke SMA Negeri 2 Ngaglik.

Begitu lulus SMA, Anton harus mengubur dalam-dalam keinginannya melanjutkan kuliah. Pasalnya, kondisi ekonomi orang tuanya saat itu sedang kekurangan. Anton pun memilih bekerja. Hingga tiga tahun lamanya ia terus bekerja untuk mengumpulkan pundi-pundi uang yang akhirnya bisa mengantarkannya kuliah di Fakultas Hukum Universitas Atmajaya Jogjakarta

”Saya lulus SMA 1997, tapi baru kuliah 2000. Waktu itu, saya hidup prihatin. Setiap Senin dan Kamis saya puasa. Waktu itu, saya kuliah sambil bekerja. Kalau ndak kerja ya ndak bisa bayar kuliah,” kata Anton yang mengaku pernah berjualan buah, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (27/2).

Setelah lulus kuliah, Anton mendaftar seleksi jaksa dan diterima. Ia menjadi Calon Pengawai Negeri Sipil (CPNS) pada 2005, lalu mengikuti Pendidikan Pembentukan Jaksa (PPJ) pada 2008. Anton ditugaskan kali pertama menjadi jaksa di Kejari Namlea hingga 2009. Selanjutnya dipindah di Kejari Kota Semarang menjabat Kasubsi Pra Penuntutan bidang Tipidum hingga 2012.

Setelah itu, Anton pindah menjadi Kasi Intelijen Kejari Kalianda, Lampung Selatan. Pada 2014, ia dipindah menjadi Kasi Tipidsus Kejari Kota Metro Lampung. Kemudian pada 2016 kembali dimutasi ke Kejari Kota Semarang menjabat Kasi Tipidum. Pada 2017 ini, ia akan dipindahtugaskan menjadi Kasubag Wilayah II Biro Kepegawaian Kejagung RI.

Selain karir yang cemerlang, prestasi yang dimiliki Anton juga cukup banyak. Di antaranya, dipercaya menjadi Wakil Ketua Senat saat PPJ gelombang I, 2008. Predikat jaksa terbaik yang diikuti 30 Kasi se-Indonesia dalam Diklat Kepemimpinan 4 tahun pada 2013. Ia juga pernah mendapatkan piagam pendampingan penyuluhan hukum dari Pemda Lampung Selatan.

Tak hanya itu, Anton pernah menyelamatkan keuangan Pemda Metro Lampung yang digugat Rp 130 miliar oleh pihak swaswa. Ia dipercaya sebagai jaksa pengacara negara. Anton juga pernah menuntaskan sidang penyelundupan narkoba jenis sabu yang digagalkan BNN dengan barang bukti sabu berat 970 kilogram berjumlah 8 tersangka, melibatkan jaringan internasional.

Pengalaman ekstrem pernah dialami jaksa yang masih berstatus lajang ini. Pertama, saat dirinya masih bertugas menjadi jaksa di Pulau Buru. Saat itu, ia menyidik perkara pembangunan SD yang letaknya di tengah pedalaman dekat Danau Rana. Selama proses penyidikan, waktunya membutuhkan perjalanan 2 hari 1 malam. Beruntungnya dalam waktu 3 bulan, perkara tersebut akhirnya inkracht dalam persidangan.

Anton juga mengaku pernah diancam golok (parang) dan hendak dibunuh saat menangani perkara korupsi di Pulau Buru yang menjerat pejabat setempat. Bahkan kantor Kejari Pulau Buru juga sempat akan dibakar. Namun setelah dilakukan berbagai pendekatan, dibantu ketua adat, pendukung penjabat tersebut menyadari dan berakhir menerima hingga perkaranya inkracht dalam persidangan.

Kisah ekstrem terakhir adalah saat kantor DPRD dan Kejari Kota Metro, Lampung didemo ribuan massa, padahal saat kejadian Kasi Intel dan Kajari sedang keluar ke kantor Kejati Lampung. ”Waktu itu, saya sebagai Kasi Tipidsus turun tangan menangani, awalnya ingin demo kantor Kejari dan DPRD terkait beberapa kasus, tapi setelah diberi pengertian akhirnya sadar dan mendukung permasalahan korupsi yang kami tangani waktu itu,” kenangnya.

Walau beragam pengalaman yang cukup menarik sebagai seorang jaksa, ternyata Anton tidak pernah bercita-cita menjadi seorang jaksa, namun ia ingin menjadi seorang dokter. Kebetulan semasa SMA, ia duduk di bangku Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Namun setelah lulus SMA, ia justru melanjutkan ke Fakultas Hukum.

Anton juga mengaku, begitu lulus kuliah sempat ada tiga perusahaan BUMN meminta dirinya untuk menjadi legal perusahaan. Namun setelah konsultasi dengan ibunya, ia dilarang. Padahal kampusnya sudah memberikan rekomendasi, karena ia dianggap salah satu mahasiswa yang berdedikasi baik.

”Secara pribadi minat dulu di BUMN, bahkan pengen berangkat tes, tapi ibu pengen salah satu anak jadi PNS, dan ibu terus mendorong, Alhamdulillah sekali melamar ternyata lolos,” kenangnya.

Bagi Anton, prinsip utama yang harus dijalankan sebagai seorang jaksa adalah tetap menjaga rasa keadilan, dan menegakkan keadilan. Menurutnya, setiap sudut kejaksanaan adalah demi keadilan, tentunya adil bagi tersangka, korban dan masyarakat. Selain itu, kerja harus jujur, ikhlas dan amanah sehingga akan dimudahkan oleh Tuhan.

”Semuanya dibuat nyaman, selama dijalankan dengan ikhlas dan nyaman semua enak. Jadi, saya siap bertugas di mana saja,” ujarnya.

Adapun perkara yang ditangani Anton selama bertugas di Kejari Kota Semarang bidang Tipidum sebanyak 900-an perkara. Itu artinya, dalam sebulan sekitar 80-an perkara. Untuk itu, ia mempunyai cara khusus agar tuntutannya bisa berdampak adil untuk semua pihak. Pertama adalah rasa kemanusiaan. Sebab, akibat kerugian dan meminta petunjuk Tuhan agar dalam melakukan penuntutan memenuhi rasa keadilan bagi korban, tersangka dan masyarakat.

Salah satu sahabat Anton, Ina, yang juga jaksa seangkatan, menilai Anton merupakan jaksa yang baik dan berkarir cemerlang. Ia juga senang akan segala prestasi yang diraih Anton.

”Kalau saya melihat dia (Anton, Red) baik, sopan dan gigih dalam bekerja, dia juga selalu membuat terobosan-terobosan,” sebutnya. (*/aro/ce1)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here