31 C
Semarang
Minggu, 9 Mei 2021

Banjir Akibat Lahan Ditanami Kentang

SEMARANG – Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Tata Ruang (DPUSDATR) Jateng, Prasetyo Budihe Yuwono menyatakan banjir yang menggenangi Wonosobo, Minggu (26/2) lalu terjadi akibat tanah longsor di lereng Gunung Prau di hari yang sama. Longsoran tanah Gunung Prau tersebut menutup aliran Sungai Serayu yang paling ujung, dekat mata air, hingga terjadi genangan.

Genangan air kemudian mengikis tanah longsoran yang menghambat aliran sungai. Ketika tanah tersebut hanyut, genangan air yang volumenya sudah tinggi turun bersamaan. “Jadilah seperti banjir bandang. Tadi malam saya cek, air banjirnya keruh. Itu karena bercampur tanah dari longsoran Gunung Prau, Dieng. Kebetulan sore itu hujan deras, jadi volume airnya bertambah,” tegasnya, Senin (27/2).

Dijelaskan, longsornya tebing Gunung Prau disebabkan berubahnya tata guna lahan. Daerah yang seharusnya menjadi resapan air, disulap menjadi lahan pertanian kentang. Termasuk menyingkirkan pohon perdu yang bisa berfungsi menahan longsor.

Dia mengakui, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo pernah menginstruksikan petani di Dieng untuk meningkatkan kapasitas produksi kentang. ”Tapi harus diimbangi dengan kaidah konservasi tanah dan air. Kalau pertanian di tebing, seharusnya dibuat terasering. Selama ini kan lahan miring langsung ditanami. Ini yang membuat tanah gampang longsor,” paparnya.

Prasetyo juga meminta pemerintah setempat untuk memperhatikan daerah aliran sungai (DAS) agar sesuai fungsinya sebagai resapan air. Jika dibiarkan terbengkalai, sungai di hilir akan cepat mengalami sedimentasi hingga menyebabkan banjir.

”Kami juga meminta BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai) untuk mengecek DAS. Jika ada bangunan di bantaran sungai yang menghambat aliran air, minta dibongkar saja,” bebernya.

Dalam kesempatan itu, dia juga meminta masyarakat untuk selalu waspada terjadinya banjir bandang. Apalagi, kejadian banjir di Wonosobo membuktikan bahwa banjir tidak hanya terjadi di dataran rendah. Menurutnya, banjir bandang tidak bisa diprediksi, tapi bisa dideteksi.

Jika ketika aliran sungai menurun atau tidak sederas biasanya, warga setempat diminta mengecek hulu sungai. Siapa tahu terjadi sumbatan. Entah tanah longsoran atau pohon tumbang. Jika melihat ada sumbatan, segera menghubungi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, atau Posko Sumber Daya Air.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jateng memperkirakan, musim penghujan akan berakhir sampai Maret 2017 meski intensitas curah hujan mulai menurun. Kemudian musim pancaroba akan mulai berlangsung pada April mendatang.

Koordinator BMKG Jateng, Tuban Wiyoso, mengatakan, musim penghujan awal tahun ini puncaknya memang Januari sampai Februari. Saat ini, intensitas hujan dan angin kencang sudah mulai menurun. Tapi cuaca ekstrem akan masih terjadi lagi saat pancaroba. ”Memang sekarang angin kencang dan hujan mulai menurun, namun April mulai pancaroba dari musim hujan ke kemarau, jadi cuaca ekstrem berupa hujan lebat dan angin kencang masih terjadi,” katanya. (amh/ric/ce1)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here