31 C
Semarang
Kamis, 6 Mei 2021

Saluran Air Tertutup Sampah

WONOSOBO – Hujan deras masih mengguyur kawasan Dieng, Senin (27/2). Curah hujan yang tinggi masih berdampak pada meluapnya air sungai ke jalan raya, meski debitnya tidak sebesar sehari sebelumnya. Namun di sepanjang jalan dari Kejajar menuju Dieng, harus ekstra hati-hati, karena air sungai meluap ke jalan raya.

Informasi yang dihimpun koran ini, sejak siang hujan deras menyiram kawasan Dieng hingga pukul 18.00 WIB. Lantaran sungai tidak mampu menampung air hujan, air bercampur lumpur meluap ke jalan raya. Pemandangan itu tampak di pintu masuk ke kawasan Dieng di Desa Patak Banteng. Selain itu, air sungai meluap juga tampak di wilayah Kecamatan Kejajar. Sepanjang jalan tampak coklat karena air hujan dan erosi lahan pertanian.

Menurut aktivis LSM Bhinekka Karya, Tafrihan, pemicu banjir karena saluran air dari Rowojali Desa Tieng, Gataksari dan sekitar Pasar Kejajar mampet. “Saluran tidak berfungsi karena tertutup sampah, harus segera diperbaiki,” katanya.

Tafrihan mengatakan, peristiwa serupa sebenarnya kerap terjadi saat hujan tiba. Karena memang ada kesalahan dalam manajemen pembuangan air di sepanjang jalan dan sungai di kawasan itu. “Jadi tiap curah hujan tinggi, air larinya lewat jalan raya,” katanya.

Sementara itu Syarif, warga Dieng, mengatakan, hujan deras terjadi sepanjang hari membuat sejumlah titik terjadi genangan air di jalan raya. Paling parah masih berada di Desa Patak Banteng tepatnya di Hotel King.

Bangunan Hotel King selama ini berada di kawasan larangan. Bagian belakang bangunan tersebut berada di sepadan sungai Serayu. Pemkab Wonosobo sudah menegur pengelola hotel dan melarang beroperasi. Namun sampai hari tetap beroperasi dan belum ada tindakan tegas dari Pemkab Wonosobo.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Tata Ruang (DPUSDATR) Jawa Tengah Prasetyo Budie Yuwono menjelaskan, banjir yang menggenangi Wonosobo, Minggu (26/2) lalu akibat tanah longsor yang terjadi di lereng Gunung Prahu di hari yang sama. Longsoran tanah Gunung Prahu tersebut menutup aliran Sungai Serayu yang paling ujung, dekat mata air, hingga terjadi genangan.

Genangan air kemudian mengikis tanah longsoran yang menghambat aliran sungai. Ketika tanah tersebut hanyut, genangan air yang volemenya sudah tinggi, turun bersamaan. “Jadilah seperti banjir bandang. Tadi malam saya cek, air banjirnya keruh. Itu karena bercampur tanah dari longsoran Gunung Prahu, Dieng. Kebetulan sore itu hujan deras, jadi volume airnya bertambah,” tegasnya, Senin (27/2).

Dijelaskan, longsornya tebing Gunung Prahu disebabkan karena berubahknya tata guna lahan. Daerah yang seharusnya menjadi resapan air, disulap menjadi lahan pertanian kentang. Termasuk menyingkirkan pohon perdu yang bisa berfungsi menahan tanah longsor.

Prasetyo juga meminta pemerintah setempat untuk memperhatikan daerah aliran sungai (DAS) agar sesuai fungsinya sebagai resapan air. Jika dibiarkan terbengkalai, sungai di hilir akan cepat mengalami sendimentasi hingga menyebabkan banjir. “Kami juga meminta BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai) untuk mengecek DAS. Jika ada bangunan di bantaran sugai yang menghambat aliran air, minta dibongkar saja,” bebernya.

Anggota DPR RI Abdul Kadir Karding berharap, banjir dan longsor di kawasan Dieng pada Minggu (26/2) lalu bisa menjadi pembelajaran untuk lebih siaga bencana. Pemerintah kabupaten/kota seharusnya menyiapkan anggaran dana tak terduga antara Rp 4-5 miliar untuk antisipasi bencana. “Saya dengar Provinsi Jateng juga sudah menyiapkan anggaran dana tak terduga hingga Rp 42 miliar,” ujarnya.

Selain menyiapkan relawan tanggap bencana, Karding mendesak masing-masing pemerintah kabupaten dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperkuat mitigasi dengan memasang sistem peringatan dini longsor di beberapa tempat rawan. Kemudian juga melakukan reboisasi kawasan rawan longsor, sosialisasi kepada warga di daerah rawan longsor dan melatih masyarakat untuk siap menghadapi banjir maupun longsor.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jateng memperkirakan, musim penghujan akan berakhir sampai Maret 2017, meski intensitas curah hujan mulai menurun. Kemudian musim pancaroba akan mulai berlangsung pada April mendatang.

Koordinator BMKG Jateng Tuban Wiyoso mengatakan, musim penghujan awal tahun ini puncaknya memang Januari sampai Februari. Saat ini, intensitas hujan dan angin kencang sudah mulai menurun. Tapi cuaca ekstrem akan masih terjadi lagi saat pancaroba. “Memang sekarang angin kencang dan hujan mulai menurun, namun April mulai pancaroba dari musim hujan ke kemarau, jadi cuaca ekstrim berupa hujan lebat dan angin kencang masih terjadi,” katanya. (ali/amh/ton)

 

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here