31 C
Semarang
Selasa, 11 Mei 2021

Ekstrakurikuler Membatik di SMPN 1 Borobudur

Ekstrakurikuler sekolah (ekskul) tidak saja mengasah kemampuan siswa. Namun lebih jauh mengajak mengembangkan kemampuan dalam berwirausaha. Seperti ekskul unggulan membatik yang dijalankan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Borobudur di Kabupaten Magelang.

Kepala SMPN 1 Borobudur Nur Cholik mengaku, keterampilan membatik yang kini masuk dalam pelajaran muatan lokal sudah diajarkan sejak 1986. Hingga sekarang, seni mencanting ini wajib diajarkan kepada siswa, utamanya kelas XI.

”Dalam seminggu siswa mendapatkan pelajaran membatik selama dua jam. Baik secara teori dan praktik,” kata Cholik.

Cholik menjelaskan, kegiatan ekskul tidak melulu berhubungan dengan pelajaran sekolah. Ekskul juga harus mampu merangsang kreativitas bahkan dapat bermanfaat bagi kehidupan. Salah satunya sebagai bekal berwirausaha.

”Setidaknya setelah lulus sekolah, siswa sudah memiliki bekal dasar. Andaikata belum bisa meneruskan ke jenjang SMA, diharapkan mereka dapat mengembangkan keterampilan melalui wirausaha,” papar dia.

Guru pengampu keterampilan membatik, Ishaningsih menuturkan, membatik juga mengajarkan siswa untuk melestarikan budaya nusantara. Bukan itu saja, siswa juga diajarkan memanfaatkan aneka ragam tumbuhan di lingkungan sekitar sebagai pewarnaan alami. ”Misalnya warna merah di dapat dari kayu secang, krem dari daun kersen, dan kuning dari kunir,” ujarnya.

Masih menurut Ishaningsih, beberapa hasil membatik dari siswa di antaranya berbentuk taplak meja, seprei dan jarik. Bahkan, beberapa hasil kreasi mereka dijadikan seragam yang kini sudah digunakan sebagian besar guru SMPN 1 Borobudur. Seperti yang dikenakan guru Bahasa Indonesia, Margowati dengan motif bunga warna-warni. ”Harapannya, semua guru bisa mengenakan seragam batik karya siswa dan menjadi identitas sekolah,” harap Ishaningsih.

Salah satu siswi, Dea Aisyah Hermawan, yang tengah melangsungkan ujian praktik mengungkapkan, dibutuhkan waktu sekitar dua minggu untuk menyelesaikan hasil karyanya. Hal paling sulit yang dirasakan siswi kelas XI-F ini yakni saat mencanting. “Saat mencanting warna mbeleber ke mana-mana. Jadi harus dicanting bolak balik agar hasilnya bagus,” sambung Dea. (cr1/ton)

 

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here