33 C
Semarang
Kamis, 2 Juli 2020

Menilik Upaya Band Lokal Screaming School Tembus Kancah Nasional

Sindir Kekerasan di Dunia Pendidikan Lewat Lagu

Another

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru...

Kemajuan dunia musik di beberapa daerah seperti Solo, Jogjakarta, Surabaya, Bandung serta beberapa kota lainnya, ternyata tak diikuti Semarang. Ditengarai, ketertinggalan ini lantaran minimnya ruang publik bagi band lokal Semarang dalam mengembangkan diri, menunjukkan eksistensi, pamer skill atau unjuk kemampuan. Karena itulah, band Screaming School lebih memilih memasarkan karyanya secara indie. Seperti apa?

ADENNYAR WYCAKSONO

BAND beraliran music rock asal Semarang, Screaming School yang berdiri sejak tahun 2005 ini, digawangi oleh Jonerd Arjuna gitar dan vocal, Ricky Hary drum, dan Yudha Sastro bass. Di dunia music indie, band ini telah malang melintang di Kota Semarang dan Jawa Tengah. Bahkan band asli Semarang yang mengidolakan Nirvana ini, telah mengeluarkan album. Dimana mulai dari proses produksi, rekaman, shooting video clip, serta pemasaran produk dilakukan secara swadaya yang dihimpun dari anggota band.

“Untuk menembus pasar nasional, kami cukup kesusahan. Saat ini, kami terganjal proses distribusi dan promosi. Padahal selama ini proses tersebut kami lakukan secara swadaya,” kata pentolan Screaming Schol, Jonerd Arjuna.

Ia mengungkapkan bahwa untuk menjalankan band tersebut harus diperjuangkan dengan ekstra keras. Apalagi, anak band di Semarang, belum bisa mengandalkan bidang musik sebagai pekerjaan utama. “Band ini pekerjaan sampingan, pekerjaan asli kami karyawan swasta. Gaji yang kami dapat pun selain untuk hidup, juga harus disisihkan untuk operasional grup band, mulai dari rekaman, biaya produksi sampai promosi. Sementara untuk promo, kami memanfaatkan hubungan pertemanan antarband,” jelasnya.

Disinggung perhatian pemerintah terhadap band asal Semarang, Jonerd hanya tersenyum. Jangankan perhatian kepada band lokal, ruang publik untuk band indie di Semarang pun terbilang sangat kurang. Bahkan, sama sekali tidak diperhatikan. “Itu bisa dilihat, jika ada band besar datang, band lokal tidak diundang untuk mengisi acara pembuka atau apapun. Eksistensi kami hanya sebatas pada manggung dari cafe ke cafe,” ucapnya.

Saat ini Jonerd mengaku setelah beberapa tahun vacum, band miliknya mencoba menjajal dunia musik dengan merilis karya baru dengan judul  Kegiatan Belajar Mengajar sebagai ajang pemanasan dan menunjukkan eksistensi bahwa band asal Semarang bisa bersaing dengan kota lain. Single yang juga disertai dengan video klip ini bercerita seputar masalah yang dijumpai di dalam dunia pendidikan. Untuk lagu kali ini, konsentrasi pada permasalahan penganiayaan yang masih terjadi di lingkungan sekolah maupun perkuliahan. “Tema dari lagu yang kami ciptakan sebagai sindirian banyaknya masalah kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan. Untuk detail tema lagunya diangkat dari sisi korban yang mengalami penganiayaan itu sendiri,” imbuhnya.

Meski begitu, pembuatan video clipnya, dilakukan secara profesional. Video tersebut disutradarai oleh Aldian Jack Kusni dan Jesta dengan durasi kurang lebih tiga setengah menit. Video tersebut banyak menampilkan adegan band, serta video visual yang menggambarkan sosok teraniaya secara fisik maupun verbal.

Dalam pembuatannya dirinya, sengaja menyelipkan pesan lewat tulisan bahwa kekerasan dan penganiayaan nyata terjadi di sekolah maupun lingkungan perkuliahan, tempat dimana seharusnya membangun karakter seseorang melalui pendidikan. “Lewat lagu dan video ini, selain ingin menghibur sekaligus untuk merangsang dan mengajak semua pihak mencari tahu dan mengenal lebih dalam tentang faktor yang mempengaruhi terjadinya penganiayaan. Selain itu, mengenal tindakan apa saja yang termasuk dalam kategori penganiayaan, serta betapa pentingnya bagi korban untuk memiliki keberanian,” paparnya.

Dalam pesan tersebut, ia mengungkapkan harus ada keberanian agar tidak menjadi korban kekerasan. Dan otoritas sekolah akan membantu menghentikan praktik penganiayaan di kemudian hari. “Saat ini, banyak penganiayaan terjadi berkelanjutan bahkan turun temurun. Hal ini karena faktor ketidakpedulian dan masih bungkamnya korban dalam menguak atau mengungkap praktik penganiayaan,” katanya. (*/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

Tambah Puyeng, Suami Nganggur

RADARSEMARANG.COM, LADY Sandi, 38, harus siap menanggung beban dua kali lebih besar setelah menjatuhkan talak suaminya. Bukan tanpa alasan, John Dori, 45, yang gagah...

Tiga Bersamaan

Tiga orang hebat ini punya ide yang mirip-mirip. Hafidz Ary Nurhadi di Bandung, dr Andani Eka Putra di Padang dan Fima Inabuy di Kupang,...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Padukan Citarasa Asia dan Italia

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Kuliner Asia yang khas dengan citarasa kaya rempah cukup diakui kenikmatannya. Begitu juga dengan kuliner Italia dengan citarasa yang tak kalah...

Ternyata Bahasa Jawa ‘Masih Ada’

PERUBAHAN peradaban dan kemajuan teknologi diyakini menjadi salah satu penyebab rendahnya minat terhadap Bahasa Jawa. Penutur Bahasa Jawa pada kelompok usia produktif semakin menurun....

Anggaran Terbatas, Pengadaan Buku Perpusda Jateng Kurang Maksimal

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG—Di tengah suasana hening ruang baca Perpustakaan Daerah (Perpusda) Provinsi Jawa Tengah, Raditya, 20, mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta di kota Semarang, tampak bersungut-sungut. Ia tampak galau, ketika usahanya untuk mendapatkan buku sebagai...

Bupati Salurkan Bantuan Korban Kebakaran

RADARSEMARANG.COM, KENDAL - Bupati Kendal, Mirna Annisa memberikan bantuan bagi delapan kepala keluarga yang tertimpa bencana kebakaran pada malam takbiran atau malam sebelum perayaan...

Pengusaha Harus Peka Sosial

WONOSOBO - Badan Pengurus Cabang Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPC Hipmi) Wonosobo mengadakan kegiatan Roadshow Fantastik Ramadhan, Kamis (8/6). Kegiatan berupa buka bersama dan...

Titik Pertama Api di Lantai 2 Blok B

RADARSEMARANG.COM, PEKALONGAN – Tim Puslabfor Pola Jateng telah melakukan l olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) selama kurang lebih 3 jam di lokasi kebakaran kompleks...