31 C
Semarang
Rabu, 5 Mei 2021

Produk Handmade untuk Anak Digemari

Berbagai produk handmade dinilai cukup potensial sebagai salah satu ladang bisnis, termasuk halnya handmade dolls. Kreativitas serta pemilihan bahan yang ramah anak menjadi salah satu kunci dalam mengembangkan pasar.

Beberapa handmade dolls karya Mireille’s Stories salah satunya. Sebagian besar mengadopsi bentuk hewan, namun disajikan dalam ragam warna maupun tampilan yang lebih jenaka. Kucing bermotif polkadot, beruang biru dengan wajah yang menggemaskan maupun kelinci dengan mata cantiknya.

Pemilik Mireille’s Stories, Agnes Magdalena Susanto mengungkapkan, anak-anak biasanya suka dengan beragam warna. Oleh karena itu, dalam memproduksi boneka ia hanya berpatokan pada bentuk dasar hewan maupun tokoh. Sedangkan warna dan desain dikembangkan sesuai dengan imajinasinya.

Namun begitu, ada satu hal yang menurutnya harus sangat diperhatikan. Pemilihan bahan yang ramah anak. Ya, tak hanya bentuknya yang menggemaskan, produk-produk yang diperuntukan bagi anak ini baiknya memang berbahan aman dan nyaman.

“Seringkali yang memilih boneka memang ibu atau orang dewasa. Desain bisa jadi sesuai selera orangtua. Tapi pada akhirnya boneka-boneka ini akan jadi mainan anak. Oleh karena itu perlu kita perhatikan materialnya,” ujar Agnes.

Dua tahun berjalan, bisnis di sektor ini menurutnya cukup menjanjikan. Tak sedikit yang menjadikan handmade dolls sebagai souvenir maupun hantaran untuk berbagai acara. Mulai dari souvenir ulang tahun hingga hampers baby untuk kado kelahiran.

Ukuran pun beragam dan disesuaikan kebutuhan. Untuk souvenir maupun hantaran yang digabung dengan produk-produk lain, boneka yang disisipkan biasanya berukuran lebih kecil dengan tinggi sekitar 20 centimeter atau di bawahnya. Sedangkan satu atau dua boneka yang dijadikan kado, biasanya berukuran lebih besar dengan tinggi di atas 30 centimeter. “Karena buatan tangan jadi dinilai lebih orisinil dan bisa custom, jadi nggak pasaran,” ungkapnya.

Menggunakan sistem pemasaran melalui bazaar dan sosial media juga semakin mendukung perluasan pasar. Produk-produk buatan tangan ini tak hanya beredar di Semarang dan sekitarnya, tapi juga memasuki pasar luar kota hingga luar pulau.

“Pasar kami 70 persen ada di Jakarta dan Surabaya, sisanya Semarang dan luar Jawa. Kalau untuk pasar luar negeri, kami belum langsung sentuh. Biasanya ada rekan dari dalam negeri yang membeli dalam porsi agak besar dan dibawa ke luar,” tandasnya. (dna/ric)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here