31 C
Semarang
Kamis, 6 Mei 2021

Sempat Ditolak Keluarga, Buktikan Bisa Hidup Mandiri

KATA cinta dan sayang, belum bisa mewakili kedalaman pasangan suami istri (Pasutri) Mahmudah, 31, dan Jito, 32, warga Perumahan Jatisari Asri, Mijen Semarang. Hidup dalam keterbatasan karena mengalami kebutaan tentu tidak mudah. Karena memiliki kekurangan, Jito susah untuk diterima bekerja dan hanya mengandalkan skill-nya sebagai tukang pijat, namun siapa sangka kekurangan dari Jito bisa diterima oleh istrinya Mahmudah. Namun pasutri yang menikah pada tahun 2011 dan kini sudah dikaruniai dua anak ini, harus berjuang untuk bisa mendapatkan restu dari orang tua Mahmudah. “Keahlian saya hanya memijat. Itupun saya dapat dari pelatihan Komunitas Sahabat Mata Semarang,” kata Jito membuka pembicaraan.

Kala itu, sekitar tahun 2010, Jito dan Mahmudah kondisinya tidak memiliki cacat fisik dipertemukan. Mahmudah yang kala itu bekerja di Sabahat Mata Semarang, melihat sosok Jito. Singkat cerita, keduanya pun jatuh cinta, hingga melakukan perkenalan dengan cara ta’aruf. Dengan keberanian yang dimiliki, Jito mencoba melamar pujaan hatinya. Namun mendapat penolakan, karena ia memiliki kekurangan yakni tidak bisa melihat. “Saat dilamar, orang tua saya tidak setuju karena bapak (Jito, red) buta. Lamaran pertama pun ditolak, dengan alasan orang tua saya takut jika nantinya malah saya hidup susah karena suami tidak bekerja,” tutur Mahmudah.

Pasca ditolak, keduanya pun kehilangan kontak masing-masing selama setahun. Namun cinta keduanya teramat besar, hingga pada tahun 2011, Jito kembali melamar Mahmudah untuk kali kedua. Pada lamaran kedua ini, usaha keduanya berhasil dan mendapat restu dari orang tua Mahmudah. “Saya berusaha meyakinkan orang tua. Bagaimanapun Pak Jito pilihan saya, hingga akhirnya kami mendapatkan restu dan langsung menikah,” jelasnya.

Kurang lebih enam tahun membina biduk rumah tangga, kedua pasangan ini dikarunai dua anak yakni Salwa yang kini berusia 5 tahun dan Ibrahim yang berusia 1,5 tahun. Kedua buah cintanya ini, lahir normal tanpa kekurangan apapun, walaupun Jito adalah seorang tuna netera. “Dua anak kami normal. Kami sangat bersyukur. Kami pun bisa membuktikan, walaupun Pak Jito punya kekurangan, kami bisa hidup normal tanpa meminta belas kasihan orang lain,” tegasnya.

Jito dan Mahmudah mengaku sempat canggung pada awal-awal membina hubungan rumah tangga. Keduanya pun agak canggung dengan tetangga dan menutup diri. Pasalnya masih banyak ditemui paradigma dan stigma negatif masyarakat kepada penyandang difabel. “Dulu waktu ngontrak kami sempat canggung dengan tetangga. Ada acarapun kami enggan ikut. Namun Alhamdulillah, lama-lama stigma negatif masyarakat hilang hingga akhirnya kami bisa hidup berdampingan dengan warga lainnya,” kenangnya.

Selain membuka praktik pijat tuna netra, pasangan bahagia ini membuka usaha setrika uap dan laundry yang sudah berjalan selama tiga tahun. Usaha tersebut coba dilakukan oleh Mahmudah, untuk menambah keuangan keluarga. Kini usaha tersebut, bisa menghidupi keluarga kecilnya. Bahkan Mahmudah memiliki satu karyawan yang siap membantunya. “Penghasilan bapak tidak menentu, akhirnya saya buka usaha laundry. Karena bisa dikerjakan sambil mengurus anak. Selain itu, saya punya satu karyawan yang sistemnya dibayar per kilogram saat bekerja. Alhamdulillah semua kebutuhan bisa tercukupi,” lanjut Mahmudah haru.

Bertahun-tahun membina rumah tangga membuat Mahmudah semakin mengerti akan arti cinta yang sebenarnya. Menurutnya, cinta bukan hanya dipandang dari fisik atau meteri semata, melainkan komitmen untuk hidup bersama, bisa menerima kekurangan dan yang terpenting adalah menjalankan perintah agama. “Kalau ditanya bagaimana caranya agar tetap romantis, saya bingung menjawabnya. Menurut saya, ini adalah pilihan hidup dan merupakan amal saya untuk berbakti kepada suami,” katanya.

Saat ditanya apakah ada perhatian pemerintah terhadap kalangan difabel, Jito hanya tersenyum dan dengan lugas menjawab belum ada. Menurutnya pemberdayaan terhadap penyandang difabel belum bisa dirasakan olehnya. Iapun lebih memilih untuk berusaha mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri. “Harapannya sih pemerintah bisa memfasilitasi tempat atau memberdayakan tuna netra. Fasilitas umumpun belum berpihak banyak, semoga saja ke depan ada perhatian khusus,” sambung Jito. (den/ida)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here