31 C
Semarang
Rabu, 12 Mei 2021

Jadilah Sabahat Orang Difabel

“APAKAH mereka bisa melakukan ini? Dapatkah mereka melakukan itu?” Begitulah yang biasa dipikirkan dan dirasakan ketika seseorang melihat para penyandang kebutuhan khusus atau difabel.

Esther Helena Tulung, seorang pendeta yang juga sukarelawan yang bergiat dan bekerja pada komunitas difabel mengajak untuk menepis pemikiran tersebut. “Mari memperbaharui pemikiran kita bahwa orang-orang difabel juga manusia yang sama seperti kita, orang-orang yang diberkati secara lengkap oleh Yang Maha Kuasa,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dalam kesempatan tersebut, Esther mengaku lebih suka menggunakan istilah difabel ketimbang disabilitas. Menurutnya, disabilitas merupakan serapan dari kata bahasa Inggris disable akan memberikan makna negatif, sehingga kesannya, mereka hanya akan menerima nasib. Namun, dengan kata difabel, masih ada hal-hal yang bisa digali dari orang-orang berkebutuhan khusus tersebut.

“Kalau disabilitas, mereka tampak seperti orang yang sangat berkekurangan dan no-thing. Penggunaan kata disabilitas dapat memengaruhi perlakuan orang-orang sekitarnya dan mental orang yang mengalaminya,” paparnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (24/2) kemarin.

Dalam menyikapi dan berhubungan dengan orang-orang difabel agar selalu harmonis dan mendapatkan perlakuan selayaknya orang-orang normal, Esther menyarankan untuk dapat menerima keadaan mereka. Jika tidak, berakibat munculnya ketidakmampuan bersosialisasi. Setelah menerima keadaannya, maka langkah selanjutnya adalah bersahabat dengan mereka. Langkah ini adalah langkah yang paling berat, karena orang yang normal akan masuk dalam keadaan mereka, namun tidak menjadi mereka. “Dua langkah ini penting, karena kedua hal ini berhubungan erat dengan kehidupan spiritual. Sebab Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda,” katanya.

Menerima mereka sebagai manusia, kata Esther, adalah sikap yang seharusnya masyarakat lakukan, bukan setengah manusia. Jangan pernah berpikir bahwa orang-orang normal adalah orang-orang yang paling sempurna. “Masukilah dunia orang-orang difabel. Berbicara sabar, mereka lebih sabar daripada orang normal. Berbicara tekun, mereka lebih tekun,” kata Esther yang juga terlibat dalam Komunitas Sahabat Difabel (Sadifa) di Jawa Tengah dan mendirikan komunitas orang-orang lansia dan orang-orang berkebutuhan khusus, yakni Faith Candlelight Community (FCLC) di Salatiga.

Menurut Esther, cara pemerintah memelihara dan melindungi kalangan difabel semestinya sesuai dengan undang-undang yang telah diberlakukan. Masyarakat harus menjadi sahabat bagi orang difabel. “Seorang sahabat adalah orang yang menggali potensi paling maksimal dari sahabat-nya, mengerti kelemahannya, dan bersama-sama merayakan keberhasilan yang sahabatnya raih,” ujarnya. (mg27/ida)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here