31 C
Semarang
Selasa, 11 Mei 2021

Tak Minder, Selalu Yakin dan Penuh Syukur

MESKI sama-sama tak dilengkapi penglihatan atau tuna netra, tak menghalangi Murtiningsih dan Maridi dalam membina rumah tangga. Keduanya tidak pernah merasa minder dengan kekurangannya tersebut, karena percaya Tuhan YME memiliki rencana untuknya. Bahkan, menjalani hidup normal layaknya orang dengan fisik lengkap dengan 3 anaknya.

“Minder untuk alasan apa? Hanya karena tidak bisa melihat, bukan perkara besar kok. Yang penting bersyukur, semuanya akan terasa sama,” kata Maridi, lelaki asal solo kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Maridi mengisahkan perkenalannnya dengan Murtiningsih. Kala itu, ia ikut menjadi terapis di tempat pijat tuna netra milik Mugiyanto di Jalan Kenconowungu Selatan III Semarang tahun 2004 silam. Saat itu, Murtiningsih adalah seorang janda dua anak yang telah lebih dulu bekerja di tempat yang sama. “Dulu saya di Solo, ditawari saudara katanya ada pekerjaan di Semarang. Saya ikut dengan saudara sebentar, terus ikut sama Pak Mugi,” ujarnya.

Murtiningsih mengungkapkan ia mengenal Maridi pertama kali sebagai pemusik dalam sebuah grup musik yang bermain di tempat Murti bekerja saat masih di Krapyak. “Dia kan bisa musik, dangdut, campursari dan lainnya. Waktu itu, teman saya yang bisa lihat bilang, tuh yang main ada tuna netranya juga. Ya sudah, gitu aja. Dekat ya pas sama-sama disini,” kenangnya.

Murti mengaku dulu tidak menyangka akan menikah dengan Maridi. Karena saat itu, ia seorang janda. Namun Maridi tidak mempermasalahkan hal itu dan akhirnya menikahi Murti tahun 2006 dan kini telah dikaruniai seorang anak. “Semua disyukuri saja, dibawa santai, kalau sepaneng ya pasti rasanya kurang terus,” kata Maridi menambahkan.

Pasangan tuna netra ini memiliki ijazah sebagai ahli pijat di tempatnya. Meski begitu, Maridi masih tetap melakukan aktivitas bermusik jika ada panggilan. Hal itu dilakukan sebagai tambahan penghasilan keluarganya. “Sekarang kami masih membutuhkan untuk membiayai anak saya nomor 2 dan 3. Sedangkan yang pertama, sudah bisa kerja sendiri di Jakarta. Jadi harus kerja terus,” jelasnya.

Kendati begitu, dalam keseharian keduanya kerap mengabiskan waktu bersama di tempat kerja dan selalu menyempatkan untuk berkomunikasi. Diakui Murti, ia dan Maridi selalu berkomunikasi dengan anaknya di waktu apapun. “Biar anak juga tidak jauh dari saya, mereka harus diajak ngobrol agar tetap dekat dengan kami,” bebernya.

Maridi mengungkapkan bahwa kuncinya menjalani hidup itu tak berpikir berlebihan, sehingga segala sesuatunya tidak terasa berat dijalani. Sekarang ini, ia dan Murti, tidak ada yang harus dikeluhkan dan ditambahkan. “Semua sudah cukup, saya dengan dia dan 3 anak. Tinggal bagaimana bersyukur dan menjalani apa yang sudah ditakdirkan,” tambahnya.

Keduanya bersyukur, ketiga anaknya lahir normal, tidak memiliki kekurangan. Anak pertamanya telah bekerja sebagai driver Uber di Jakarta, anak nomor 2 dan 3 masih sekolah dan semuanya butuh dibiayai dari hasilnya menjadi tukang pijat tuna netra. “Saya berpesan kepada semua pasangan yang memiliki keterbatasan untuk tetap semangat dan jangan minder, saling menerima, percaya dan optimistis, itu kunci dari segalanya,” pungkasnya. (mg26/ida)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here