31 C
Semarang
Sabtu, 15 Mei 2021

Romantisme Tanpa Batas Para Penyandang Difabel

DIAH Novita Sari telah membuktikan kesetiaan cinta. Dia tak pernah mengeluh dengan kondisi suaminya, Didik Sugiyanto yang terpaksa menyandang predikat tuna daksa setelah usia 10 hari pernikahannya. Wanita kelahiran Jepara, 30 Agustus 1990 ini begitu sabar merawat Didik yang tidak bisa menggerakkan kedua kakinya. Apapun kebutuhan sang suami, harus dilayani karena kemampuan mobilisasi yang terbatas.

Ketidaksempurnaan fisik Didik justru membuat kehidupan mereka sarat cinta. Romantisme pasangan yang kini tinggal di bilangan Simongan ini, melebihi pasangan suami istri pada umumnya. Semuanya selalu dijalani berdua. Terutama dalam tiga tahun pernikahan pertama.

Diah bercerita, ketika menikah, 2006 silam, Didik masih lincah layaknya pria dewasa. Tapi tidak lebih dari dua pekan. Sebab, di hari kedua Didik berangkat kerja setelah 7 hari cuti menikah, pria kelahiran Jepara, 12 Kuli 1983 ini mengalami kecelakaan lalu lintas. Kejadiannya sekitar pukul 07.00 kurang. Saat itu, Didik sedang berangkat menuju tempat kerja di bengkel variasi mobil.

Ketika melintas di daerah Desa Banjaragung Kecamatan Bangsri, Jepara, Didik jatuh dari motornya. Padahal, jika dilihat dari kondisi fisik hanya mengalami lecet di bagian siku, tapi Didik tidak sadarkan diri hingga harus dilarikan ke RSUD Kartini Jepara. Setelah dicek, ternyata Didik mengalami cedera patah tulang punggung. Karena alat di rumah sakit tersebut tidak mendukung, kemudian dirujuk ke RSUP dr Kariadi Semarang. Cidera yang sangat serius itu membuat Didik harus melewati masa kritis. Dia koma lima hari. Ketika sadar, dia minta pindah ke rumah sakit khusus tulang di Solo.

Selama dua bulan di Solo, kesehatan Didik tidak menujukkan perkembangan yang signifikan. Badannya masih terkulai tak berdaya. Harus berbaring setiap hari. Kakinya pun tidak bisa digerakkan. Karena itu, Didik minta pulang ke Jepara dengan status rawat jalan.

Di rumah, janji kesetiaan yang diucapkan Diah ketika pernikahan, betul-betul diuji. Selama dua tahun, dia harus jadi tulang punggung keluarga, karena Didik hanya bisa tiduran di kasur. Duduk saja tidak bisa. Kalau dipaksa duduk, dalam hitungan detik saja, dia langsung pingsan.

Praktis, semua kebutuhan Didik harus dilayani Diah. Padahal, dia juga harus mencari rezeki untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, ditambah biaya terapi sang suami. Diah pun banting tulang mencari uang. Dia bekerja membantu ibunya yang membuka warung makan yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. “Hasilnya memang tidak seberapa. Saya pun mencoba jualan rokok dan bensin eceran untuk menambah penghasilan,” ucapnya.

Beban Diah tidak hanya soal mencari nafkah. Dalam kehidupan sosialpun, dia harus memikul beban yang berat. Banyak cemooh dari tetangga yang diarahkan kepadanya. “Biasa kalau di warung kan banyak orang kumpul. Mereka bilang, ayu-ayu kok masih mau sama Didik. Wong sudah tinggal mati saja kok diopeni,” ucap Diah.

Diah tetap tegar. Sampai tahun ketiga, Didik mengalami perkembangan. Sudah bisa duduk. Hanya saja, untuk pindah ke kursi roda, harus dibantu Diah. Dia pun rela menggendong suaminya ketika harus ke tempat-tempat yang tidak bisa dilalui dengan kursi roda.

Bagi Diah, aktivitas itu sudah menjadi kewajiban seorang istri. Menurutnya, suami istri harus saling melengkapi. Tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. “Dia itu sudah jodoh saya yang dipilihkan oleh Allah. Apapun konsekuensinya, harus dijalani. Memang banyak godaan dari dalam maupun luar. Tapi saya tetap tidak bisa meninggalkan suami,” ceritanya sambil menangis.

Motivasinya cukup simpel. Dia membayangkan, jika kondisi Didik menimpa dirinya, pasti mengharapkan suami yang setia. Memang, dari hati kecil, ada rasa kecewa. Terlebih ketika dia melihat teman sebayanya yang bisa jalan-jalan bareng suami mereka. Boncengan naik motor pergi ke tempat wisata, jalan-jalan di mal, makan malam bareng di luar rumah, dan seabrek aktivitas manten anyar lain. “Mungkin ini manusiawi. Saya yang masih muda, seharusnya bisa menikmati masa-masa nikmat manten anyar. Tapi ya mau bagaimana lagi,” imbuhnya.

Waktu itu, dia mengaku masih malu ketika bertemu dengan teman-temannya. Selalu menghindar atau bersembunyi ketika melihat ada teman dari kejauhan. Termasuk memilih tidak menghadiri undangan pernikahan teman-temannya.

Tapi sekarang, rasa malu itu sudah berangsur hilang. Dia mulai pede alias percaya diri. Bahkan merasa bangga bisa jalan-jalan bareng suami. Tidak jarang, ketika ada waktu luang, Diah mengajak Didik jalan-jalan di mal.

Sementara itu, Didik justru merasa serba salah. Dia merasa tidak bisa menjadi suami yang utuh. Bahkan, dia pernah bilang kepada istrinya untuk menceraikannya dan menikah dengan pria lain agar bisa hidup bahagia.

“Saya sayang banget sama istri. Sampai tidak ingin melihatnya tidak bisa bahagia, karena harus merawat saya. Saya pernah bilang kalau Diah bebas pergi meninggalkannya dan bahagia bersama pria lain,” kenangnya.

Meski sudah pasrah, bukan berarti Didik patah arang. Semangatnya justru terpompa ketika mendengar satu permintaan istri. “Dia bilang, kalau sudah sembuh nanti, dan bisa cari uang sendiri, mbok beli mobil biar bisa jalan-jalan,” katanya menirukan ucapan istri.

Permintaan itu membuat hati Didik berkecamuk. Semua perasaan dari sedih, nggregel, dan lain sebagainya langsung menusuk perasannya. Diapun coba mencari penghasilan dengan beternak ayam untuk dijual. Kebetulan, Didik memang hobi ingon-ingon. Meski dia yang berusaha, toh tetap Diah yang repot. Sebab, urusan mobilisasi tetap menjadi tanggung jawab sang istri. Seperti membeli pakan, menjual hasil panen, beli bibit, dan lain sebagainya.

Sayang, usaha itu tidak berjalan mulus. Diapun beralih ke bebek pedaging. Itupun gagal lagi. Kemudian pindah lagi ke bebek petelur. Usaha ini agaknya yang mulai membuahkan laba yang lumayan. Telur ayam yang dibuat telur asin, bisa menjadi uang saku Didik dan Diah mengadu nasib di Semarang. Mereka nekat merantau hanya dengan membawa Rp 500 ribu saja. Bagi Didik, cukup tidak cukup, harus bisa mencukupi kebutuhan. Paling tidak selama sebulan sembari mengais rejeki. “Waktu di Jepara, saya tinggal dengan orang tua. Tapi saya tidak mau terus-terusan begitu. Saya harus mandiri dan pindah ke Semarang,” ucapnya.

Setelah tinggal di Semarang akhir 2010 silam, Didik mencari nafkah dengan usaha lampu LED variasi karena dia memang punya keahlian di bidang itu. Kios berlabel Didik ‘Jepara’ di Jalan Simongan miliknya cukup sukses. Pelanggannya sudah tidak hanya dari Semarang saja. Dari usaha itu, dia bisa membeli rumah dan mobil. “Alhamdulillah sudah bisa beli rumah, meski harus kredit. Yang paling penting, saya bisa memenuhi peemintaan istri saya. Yaitu beli mobil,” tegasnya.

Di Semarang, romantisme rumah tangga Didik dan Diah semakin erat. Ketika Diah ingin jajan hamburger, pasangan ini boncengan naik motor ke Simpanglima. Didik yang membonceng, harus tetap duduk di motor karena tidak membawa kursi roda. Hanya Diah yang jalan sendiri membeli hamburger. “Pulangnya, berhenti di pinggir jalan. Cari tempat adem untuk makan burger yang dibeli,” paparnya.

Masalah baru muncul ketika Diah mengandung Airlife El Azzam. Anak pertamanya setelah menikah 10 tahun. Didik yang apa-apa harus dibantu istri, harus menjadi suami siap antar jaga (siaga). Untuk menyiasati jika terjadi apa-apa, dia meminta tolong teman dan tetangganya yang sudah seperti saudara sendiri. “Saya juga harus siap telepon ambulan atau taksi ketika istri mau melahirkan,” ucapnya.

Soal mengurus anak, Didik bisa membantu barang sedikit. Apalagi, Airlife kecil mengonsumsi susu formula. Jadi mereka berdua sudah bagi tugas tiap malam. Selepas maghrib sampai tengah malam, Diah yang mengurus anak. Lepas tengah malam hingga Subuh, giliran Didik yang jaga. (amh/ida)

 

 

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here