31 C
Semarang
Selasa, 18 Mei 2021

Mengenal Enting-Enting Gepuk Cap ”Klenteng dan 2 Hoolo” Salatiga

Selain wedang ronde, kuliner khas dari Kota Salatiga adalah enting-enting gepuk. Nama enting-enting gepuk ”Klenteng dan 2 Hoolo” yang paling dikenal. Konon, merek ini juga yang pertama. Seperti apa?

Christian Paskah PS

BERKUNJUNG ke Kota Salatiga tidak lengkap jika belum membeli oleh-oleh enting-enting gepuk. Makanan ringan berasa manis dari bahan kacang tanah ini banyak ditemukan di toko oleh-oleh di kota ber-tagline Hati Beriman ini.

Bicara enting-enting gepuk, tak bisa dipisahkan dengan merek ”Klenteng dan 2 Hoolo”. Makanan ini diproduksi di pabrik yang terletak di Jalan Abiyoso No 22 RT 9 RW 1, Kelurahan Dukuh, Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga.

Saat Jawa Pos Radar Semarang masuk ke kompleks pabrik, suasananya sangat sejuk oleh pepohonan yang rindang. Selain itu, ornamen Tiongkok mendominasi di dalamnya. Dinding pabrik didominasi warna merah dan kuning keemasan. Pintu gerbang utama mirip sebuah kelenteng. Di sebelah kiri pabrik terdapat Musala Hidayatullah yang juga sekilas mirip kelenteng.

Musala tersebut dibangun pada 2005 lalu oleh seorang mualaf keturunan Tionghoa, almarhum H Yusuf Hidayatullah alias Khoe Yu Tcai alias Yosep Kurnia Jaya, yang tak lain adalah pemilik pabrik enting-enting gepuk tersebut.

Pabrik enting-enting gepuk dibagi menjadi dua bagian. Sebelah kiri adalah tempat yang menyajikan proses pembuatan makanan ringan ini. Sedangkan di sisi kanan adalah bagian yang menampilkan proses penggepukan hingga pengemasan.

Iin Wahyuningtyas, sekretaris perusahaan ini, menyambut kehadiran Jawa Pos Radar Semarang. Tidak hanya Iin, Derian Kurnia Putra, anak terakhir pemilik pabrik ini juga menyambutnya dengan ramah. Mereka mengajak koran ini duduk di sebuah pendopo yang udaranya sejuk.

Iin menjelaskan, pabrik enting-enting gepuk itu sudah berdiri sejak 1980. Produk enting-enting memilih merek ’Klenteng dan 2 Hoolo’ ada cerita di baliknya.

Menurut Derian Kurnia Putra, nama ’Klenteng dan 2 Hoolo’ terinspirasi ketika Khoe Poo Liong membuat makanan ini di kelenteng yang terletak di Jalan Sukowati. Kata ’hoolo’ sendiri berarti sebuah benda cembung yang biasa untuk minum arak. Derian pun menunjuk hoolo, benda yang menjadi ornamen hiasan di kanan dan kiri gapura Musala Hudayatullah. Hanya saja di atas Hoolo terdapat lafaz Allah SWT dan Muhammad SAW.

Enting-enting gepuk, jelas Iin, adalah makanan ringan yang berasal dari Tiongkok. Makanan ini dibawa dan dikembangkan di Salatiga dan menjadi oleh-oleh khas kota ini. Pembuatan enting-enting ini masih mempertahankan cara tradisional di tengah derasnya modernisasi dan perkembangan teknologi.

Iin menjelaskan, makanan ini dibuat dengan cara merebus air bersama gula hingga mendidih. Setelah air gula tersebut mendidih, kacang tanah dimasukkan. Kacang tersebut lalu digepuk di atas batu berbentuk empat persegi panjang yang tebalnya lima belas sentimeter. Setelah selesai digepuk dan dicetak, kemudian dibungkus dengan kertas khusus.

Derian sendiri adalah anak terakhir dari sang pemilik usaha enting-enting gepuk ’Klenteng dan 2 Hoolo’ H Yusuf Hidayatullah alias Khoe Yu Tcai alias Yosep Kurnia Jaya. Nama Yosep Kurnia Jaya saat masih memeluk agama Kristen.

Derian adalah putra Yusuf dengan istri keduanya, Hj Salma Juariah, warga suku Jawa asli Jambu, Kabupaten Semarang. Ayahnya mulai memeluk agama Islam sekitar 1985, yang awalnya beragama Kristen. Sebelum menikah dengan ibunya, lanjut dia, ayahnya sudah menikah terlebih dahulu dengan istri pertamanya bernama Marina, namun cerai meninggal. Dari perkawinan dengan Marina, ayahnya memiliki tiga buah hati. Kini bersama ketiga kakaknya itu, suami Fatihatus Saadah ini mengelola usaha enting-enting gepuk hingga sekarang.

Pemasaran enting-enting ini sendiri bukan hanya di Salatiga. Makanan ringan ini dipasarkan ke seluruh Indonesia, bahkan sampai mancanegara. ”Kami telah memiliki pelanggan hingga Australia dan Belanda,” kata mahasiswa Fakultas Syariah Hukum Perdata Islam IAIN Kota Salatiga ini.

Salah satu karyawan enting-enting gepuk lainnya, Ahmad Sukroni mengaku, pabrik dan bangunan musala tersebut awalnya adalah sebuah perkebunan salak. Namun oleh Yusuf Hidayatullah, di lokasi tersebut dibangun musala setelah Yusuf menjalankan ibadah haji. Setelah itu,Yusuf mendirikan pabrik enting-enting gepuk cap ’Klenteng dan 2 Hoolo’ yang berada berdekatan dengan musala.

”Jadi dulunya adalah perkebunan salak. Musala dibangun lebih dulu memakan waktu sekitar dua bulanan, baru terus dikembangkan dan ditambahi aula besar. Pak Yusuf dulunya juga menjabat Ketua PITI Kota Salatiga, jadi sering ada aktivitas Islam di musala ini,” jelas pria yang akrab disapa Malik ini. (dilengkapi joko susanto/aro/ce1)

 

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here