31 C
Semarang
Kamis, 6 Mei 2021

Rp 849 M untuk Bangun Jalan dan Jembatan

SEMARANG – Pemprov Jateng menanggarkan Rp 849 miliar untuk menggarap konstruksi jalan dan jembatan sepanjang 2017 ini. Rinciannya, pekerjaan konstruksi sebesar Rp 748 miliar, pengadaan barang dan jasa Rp 54 miliar, dan jasa konstruksi Rp 19 miliar. Untuk pemeliharaan rutin dan darurat Rp 27 miliar lewat pengadaan langsung.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga dan Ciptakarya Jateng, Bambang NK menjelaskan, anggaran tersebut dialokasikan untuk pemeliharaan rutin jalan provinsi sepanjang 2.261.851 km, rehabilitasi jalan sepanjang 41,855 km, peningkatan jalan dan penggantian jembatan provinsi sepanjang 101,005 km. ”Untuk pemeliharaan rutin jembatan sepanjang 23.419,440 meter, serta rehabilitasi jembatan dan gorong-gorong sejumlah 489,350 meter,” ucapnya, Jumat (24/2).

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo menambahkan, paket konstruksi jalan dan jembatan tersebut dilakukan secepat mungkin. Maksimal Oktober mendatang sudah harus tuntas. Karena itu, pihaknya akan sering melakukan pantauan dengan berkeliling ke setiap daerah.

Dia berharap, meski pengerjaan dikebut, tapi tidak mengesampingkan kualitas. Dengan begitu, masyarakat sebagai pembayar pajak bisa menikmatinya. ”Semoga mulai bulan depan sudah mulai pengerjaan,” tegasnya.

Karena itu, orang nomor satu di Jateng ini meminta kepada penyedia jasa yang menggarap konstruksi ini untuk bekerja sungguh-sungguh. Jika dalam pelaksanaan pekerjaan jalan dan jembatan ada pihak yang meminta setoran maupun komisi, agar dilaporkan ke dirinya.

”Nanti akan tak uruse. Ini saya sampaikan terbuka agar kualitasnya baik, saya ingin jalan kita the best, pokoknya jalan di Jateng harus keren,” katanya.

Ganjar mengaku iri dengan kualitas jalan nasional dengan yang ada di DIJ. Dia ingin pada proyek pengerjaan jalan di 2017 ini harus lebih baik dari daerah tetangga. ”Orang sering membandingkan jalan Jateng dengan Jogja. Saya pernah bicara dengan Kementerian PU, kenapa di Jogja jalannya baik sementara di Jateng jelek, alasannya banyak,” bebernya.

Alasannya, karena ruas jalan di DIJ pendek-pendek. Setiap perempatan dibeton sehingga saat ada beban berat berhenti jalannya tetap kuat, serta kendaraan berat tidak melintas.

Akhirnya, kata Ganjar, yang dilakukan Kementerian PU adalah memecah Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional yang sebelumnya untuk Jatim, Jateng dan DIJ hanya ada satu di Surabaya, kini ada di tiap daerah. ”Untuk Jateng -DIJ, kantor Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional berada di Semarang”, tegasnya. (amh/ric/ce1)

 

 

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here