31 C
Semarang
Minggu, 9 Mei 2021

Jateng Kembangkan Wisata di Pantura

SEMARANG – Demi mendongkrak angka kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) dan wisatawan mancanegara (wisman), Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Jateng berupaya menggeliatkan potensi wisata di wilayah Pantura.

Kepala Bidang Pemasaran Disporapar Jateng, Trenggono  menjelaskan, di Pantura Barat, tepatnya di Brebes hingga Batang sudah ada paguyuban pelaku wisata. Mereka proaktif menjual potensi wisata buatan yang memanfaatkan potensi alam dan budaya. ”Ada rafting, tubing, atau pergelaran budaya. Juga destinasi minat khusus seperti kuliner, belanja, petualangan, dan lain sebagainya,” ucapnya, Kamis (23/2).

Sama halnya di Pantura Timur. Trenggono membeberkan, di Blora dan Rembang juga tengah fokus mengemas wisata budaya. Pengembangan potensi-potensi yang digadang-gadang mampu menjadi daya tarik wisatawan tersebut membutuhkan sinergitas antara pemkab/pemkot setempat dengan pemprov. Stakeholder dan pelaku pariwisata pun perlu digandeng sebagai ujung tombak pemasaran wisata.

”Perlu kolaborasi antara pelaksana atau komunitas, pemerintah, dan pelaku wisata. Dengan begitu, event yang digelar bisa bombastis. Pokoknya jangan sampai sebuah event hanya dinikmati warga setempat saja,” paparnya.

Menurutnya, mengandalkan potensi wisata saja tidak cukup menjadi daya tarik. Harus ada event besar agar wisatawan kenal dan mengunjungi daerah tersebut. Meski begitu, tata kelola juga harus diperhatikan. ”Seperti akses, infrastruktur, dan tidak membuat macet. Jangan sampai wisatawan kapok setelah berwisata,” tandasnya.

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo menambahkan, potensi wisata berkonsep pedesaan dan alam sedang digandrungi wisatawan. Bahkan wisman justru mencari wisata desa di Jateng. Melihat langsung aktivitas warga desa yang sarat penggunaan alat tradisional.

Dijelaskan guna pembangunan infrastruktur untuk mendukung sektor pariwisata, perangkat desa setempat dapat memanfaatkan dana desa. Baik yang digelontor dari pusat, provinsi, maupun kabupaten. Dana dari dari masyarakat desa setempat juga bisa dimanfaatkan.

”Saran saya bisa belajar di Desa Ponggok, Klaten. Di sana sudah sangat bagus dan layak dicontoh dalam pengelolaan dan pengembangan potensi desa. Pada 2015 lalu, bisa mendapatkan Rp 6 miliar. Naiknya hampir dua kali lipat di 2016 yaitu dalam setahun bisa dapat Rp 10 miliar,” katanya. (amh/ric/ce1)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here