31 C
Semarang
Selasa, 11 Mei 2021

Melongok Kebun Hidroponik Agrofarm Bandungan, Kabupaten Semarang

SIANG kemarin, Veronica Sulistya Novita Candra Devi tampak serius mengamati aneka tanaman yang tumbuh subur di green house hidroponik Agrofarm Bandungan, Kabupaten Semarang. Sesekali dia mengangkat tanaman itu dari media tanamnya. Ada 10 green house masing-masing seluas 500 meter persegi yang menaungi beberapa tanaman sayur. Seperti selada, sawi, pok coy, pagoda, ketumbar, tomat cherry, dan paprika.

Veronica adalah siswi SMK Theresiana yang diberi kesempatan praktik belajar hidroponik di kebun tersebut. Selama tiga minggu, ia bersama 10 siswa lainnya wajib mengurusi semua tanaman tersebut dengan didampingi tenaga profesional hidroponik. Ada juga tujuh siswa yang wajib piket setiap pagi untuk mengecek pertumbuhan tanaman.

Ia mengaku sangat tertarik dengan hidroponik. Apalagi siswi asal Sumowono ini memang senang dengan pertanian, tapi tidak mau jika disuruh mencangkul atau mengolah tanah. ”Nggak minat sama model konvensional. Pengin yang hidroponik saja. Praktis, nggak ribet. Keuntungannya juga jelas,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Direktur PT Hidroponik Agrofarm, Papang Pamungkas Satoto, menjelaskan, petani hidroponik bisa menjadi solusi krisisnya petani konvensional. Sebab, berkebun dengan konsep hidroponik cukup menguntungkan. Selain tidak butuh lahan luas, hasil panennya tergolong prima. Perawatannya pun tidak serumit model konvensional. Tidak perlu mencangkul, menyemprot insektisida, atau mengocor pupuk secara rutin.

Kepraktisan berhidroponik tersebut, bisa menarik generasi muda untuk menggeluti dunia pertanian. Sebab, jika mengandalkan petani konvensional yang kian tahun makin surut, produksi pertanian juga semakin merosot. Praktis, Indonesia akan terus mengimpor komoditas pangan. Sebab, produksi dalam negeri tidak mampu mencukupi kebutuhan sendiri.

”Apalagi populasi terus bertambah. Kalau dipikir, jumlah konsumsi lebih besar daripada kapasitas produksi. Kalau pertanian tersendat, berarti stok pangan terus menyusut,” tegasnya.

Karena itu, PT Hidroponik Agrofarm yang berada di bawah payung SMK Theresiana, mencetak siswa menjadi petani hidroponik. Semua hal tentang hidroponik diajarkan. Mulai penanaman, pest control, meracik nutrisi tanaman, purning atau memangkas daun dan tunas air, hingga panen dan pengemasan siap jual.

”Kami juga menyediakan tempat tinggal yang masih satu lokasi dengan green house. Mereka bisa tinggal di sana selama magang,” jelas Papang.

Jika siswa yang magang sudah lulus, pihaknya akan memberikan modal untuk membangun green house dan instalasi hidroponik. Soal penjualan hasil panen, PT Hidroponik Agrofarm akan membantunya. Sebab, meski baru berdiri Desember 2015 silam, PT Hidroponik Agrofarm sudah punya pelanggan yang cukup besar. Rata-rata adalah swalayan dan restoran ternama.

”Saat ini, kami masih kewalahan memenuhi permintaan pelanggan. Kalau yang magang bisa ikut membuka hidroponik, akan kami bantu jual sekaligus memenuhi banyaknya permintaan penjual,” tegasnya.

Ditambahkan, tidak semua lulusan yang pernah magang di sana diberi bantuan modal. Hanya yang benar-benar berminat dan paham saja yang berhak mendapatkannya. Selain itu, pihaknya juga tengah melakukan penjajakan kerja sama dengan pelaku hidroponik di luar negeri. Bentuknya seperti pertukaran pelajar. ”Kami kirim siswa magang ke sana, mereka mengirim tenaga ahli ke sini. Tapi, kami belum bisa menyebutkan negara tersebut,” katanya.

Kepala Kebun Hidroponik Agrofarm, Pavi Harjo, menjelaskan, siswa yang magang akan dibantu sembilan petani hidroponik. Siswa magang pun memang tidak perlu lama-lama, karena siklus tanaman hidroponik lebih cepat 5-10 hari daripada konvensional.

”Kalau sayuran daun, hanya sekitar 1,5 bulan dari HST (hari setelah tanam). Hasil panennya pun lebih tebal, manis, dan crunchy. Kelebihan itu bisa diatur dari racikan nutrisi yang diberikan ke tanaman,” paparnya.

Untuk kapasitas produksi, pihaknya bisa menghasilkan sekitar 500 kg sayuran per minggu. Dalam seminggu tersebut, panen dilakukan tiga kali, yakni Senin, Rabu, dan Jumat. Sementara produksi tomat cherry berkisar 15-20 kg per dua hari. ”Kalau paprika sedang dianalisis. Kalau dari panen kemarin, sekitar 25 kg per dua hari. Jenisnya paprika hijau, merah, dan kuning,” ucapnya. (*/aro/ce1)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here