31 C
Semarang
Sabtu, 15 Mei 2021

Dewan Curigai Ada Spekulan Kios Pasar

SEMARANG – DPRD Kota Semarang menilai revitalisasi pasar tradisional di Kota Semarang belum membuahkan hasil maksimal. Sejumlah pasar yang telah dibangun masih ditemui banyak kios mangkrak. Salah satunya di Pasar Bulu Semarang.

Dewan juga mengendus adanya praktik spekulan yang menguasai kios-kios tersebut untuk diperjualbelikan kepada pedagang baru. Karena itu, Dinas Perdagangan Kota Semarang diminta untuk mewaspadai praktik spekulan yang memanfaatkan keuntungan menjual kios di bangunan baru tersebut.

”Sengketa pedagang yang selalu muncul setelah pasar dibangun, serta banyaknya kios mangkrak harus menjadi perhatian. Dinas Perdagangan harus mewaspadai praktik spekulan yang berusaha memperjualbelikan kios ataupun disewakan,” kata Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi, kemarin.
Menurut dia, munculnya spekulan yang memanfaatkan kios tersebut akibat proses sejak awal pengundian tak beres. Sehingga memunculkan spekulan yang menguasai kios.

”Selama ini, pengembangan pasar di Kota Semarang masih selalu memunculkan masalah, baik saat dilakukan relokasi maupun penempatan baru. Ini menunjukkan penataan beberapa pasar kurang matang,” ujarnya.
Dia meminta Dinas Perdagangan Kota Semarang betul-betul melakukan pendataan secara komprehensif. Tentunya pedagang lama yang telah teregister menjadi prioritas.

”Jangan sampai pasar setelah dibangun justru banyak kios yang tak terisi, karena dimilki oleh orang yang diduga sengaja akan menjual dan menyewakan. Situasi seperti itu, Dinas Perdagangan harus tegas. Segel dan ambil alih kios yang mangkrak,” desaknya.

Pihaknya mendukung langkah Dinas Perdagangan yang menyegel 16 kios mangkrak di Pasar Bulu. ”Ini untuk menghindari spekulan yang menyewakan dan memindahtangankan kepada pihak lain,” katanya.

Supriyadi meminta agar hal serupa tidak hanya dilakukan di Pasar Bulu, tetapi spekulan ditengarai juga terjadi di relokasi Pasar Johar MAJT. Mereka menguasai sejumlah kios dan lapak, dengan harapan di Pasar Johar baru nanti akan mendapatkan jatah kios dan lapak yang sama.

Di sisi lain, wacana pembangunan Pasar Johar enam lantai dikhawatirkan tak sesusai dengan konstruksi bangunan lama. ”Selain itu, jika dibangun lebih dari lantai tiga, tentunya akan terjadi pembengkakan anggaran. Termasuk memunculkan spekulan lagi,” ujarnya.

Supriyadi meminta Pemkot Semarang melibatkan berbagai pihak, baik dari pedagang, pakar bangunan cagar budaya dan sejarawan untuk mengakomodasi semua kepentingan. ”Sebab Pasar Johar tercatat sebagai bangunan heritage,” katanya.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto, mengatakan, telah melakukan tindakan tegas terhadap penanggung jawab sebagian kios yang mangkrak. Kalau kios dibiarkan mangkrak tak beroperasi tentu merugikan pemerintah, karena tidak membayar retribusi. ”Hal itu juga membuat kondisi pasar sepi,” ujarnya.

Seperti halnya yang diterapkan di Pasar Bulu, pihaknya telah menyegel 16 kios yang tidak ditempati pedagang. ”Kami telah melakukan sosialisasi dan mengirim surat peringatan hingga tiga kali, ternyata mereka tidak merespons. Karena itu, kami melakukan penyegelan,” tegasnya.

Selama disegel, kios-kios tersebut dikuasai Dinas Perdagangan. Pihaknya masih memberi waktu selama 15 hari pasca disegel untuk segera menempati kios. Jika memang tidak memenuhi, maka kios tersebut akan diserahkan kepada pedagang lain yang membutuhkan. ”Semua pasar kami berlakukan aturan yang sama,” katanya. (amu/aro/ce1)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here