33 C
Semarang
Sabtu, 15 Agustus 2020

Melestarikan Alat Musik Khas Wonosobo Bundengan

Dulu Dimainkan Penggembala Itik, Sekarang Dilirik Peneliti Asing

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Musik unik khas Wonosobo, bundengan, kian menarik banyak kalangan. Sejumlah peneliti mancanegara pun mulai berdatangan karena ingin meneliti alat musik dengan bahan utama bambu ini.

Seniwati sekaligus guru tari SMP 2 Selomerto Mulyani saat ini tengah sibuk menyiapkan sebuah pertunjukan musik bundengan. Sekitar 100 pelajar SD rencananya akan dilibatkan. Pertunjukan akan digelar di Pendopo Kabupaten Wonosobo pada pertengahan Maret mendatang.

“Seni musik bundengan tengah menjadi bahan penelitian salah satu dosen Monash University Australia, dia menilai bundengan memiliki keunikan tersendiri dibanding alat musik lain,” jelas Mulyani.

Alat musik Bundengan terbuat dari kerangka welat bambu tebal yang dianyam dan pada bagian luarnya dilapisi dengan slumpring (pelepah batang bambu), kemudian diikat dengan tali ijuk. Sebagai sumber bunyi, di bagian lengkung tengah bundengan dipasang senar yang diikat kencang. Untuk membunyikan, senar yang telah disetel kekencangannya itu dipetik sesuai irama lagu.

Uniknya lagi, irama yang dihasilkan mirip dengan suara bunyi ketukan gending beserta kendangannya. Sejumlah seniman mengatakan, irama yang dihasilkan dapat mewakili irama seperangkat gamelan

Mulyani ingin menunjukkan, alat musik yang awalnya hanya digunakan oleh penggembala itik untuk mengisi waktu luang tersebut, mampu mengiringi beragam jenis lagu. Tentu hal ini menarik untuk dinikmati siapapun.

“Di acara nanti kita juga akan melakukan pertunjukan musik bundengan dengan dilengkapi tarian,” lanjutnya.

Menanggapi adanya inisiatif untuk menggelar workshop bundengan bagi para pelajar tersebut,

Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kabupaten Wonosobo Bambang Sutejo memastikan akan mendukung penuh. “Kami di Diskominfo memiliki program Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Mitra), salah satu fungsinya memfasilitasi semacam ini,” jelasnya.

Bambang menjelaskan, bundengan memiliki sejarah dan nilai filosofi yang perlu dipelajari baik oleh pemain maupun penikmat. Di antaranya makna dari kesederhanaan (alat), keharmonisan (nada), hingga semangat kerja keras (fungsi koangan).

“Jika mau belajar, tidak hanya nada yang enak yang kita dapat dari bundengan. Bisa lebih dari itu,” katanya.

Ke depan, Bambang juga menegaskan bahwa pihaknya akan berupaya untuk mengangkat bundengan ke berbagai acara resmi, sehingga dikenal lebih luas sebagai salah satu jenis kesenian asli Wonosobo. “Kalau memungkinkan bahkan saya akan berusaha agar ada paten terhadap kesenian ini sebagai seni asli Wonosobo, sehingga tidak diakui oleh daerah lain,” jelasnya. (cr2/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Modal Uang Saku, Kini Kelola Dua Koperasi

Eksperimen Dewi Nurcahya Ningsih di luar kebiasaan anak muda. Ia nekat terjun langsung di dunia anak jalanan. Dewi mendirikan koperasi anak jalanan di dua...

DPU Siapkan Sensor Elastisitas Jembatan

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang, tahun ini telah menyiapkan dana untuk pengadaan sensor kelendutan jembatan yang rencananya akan dipasang di Jembatan...

Hoax, SIM Harus Diperpanjang Sebelum 11 Juni

JawaPos.com - Di zaman internet ini, berbagai informasi mudah didapatkan. Dengan mengetik di search engine, informasi apa pun mudah didapat. Tapi, dari informasi yang...

Jembatan Kali Ngebruk Putus

KENDAL- Akibat kerap dilewati dump truk pengangkut galian C, jembatan Kali Ngebruk, Desa Darupono, Kecamatan Kaliwungu Selatan, putus. Praktis, putusnya jembatan tersebut mangganggu aktivitas...

Hari Ini, Dokter Korban Pembunuhan Dikremasi

SEMARANG - Dokter rehabilitasi medik jantung yang menjadi korban perampokan disertai pembunuhan, dr Nanik Trimulyani Arifin, 72, akan dimakamkan Selasa (2/5) hari ini. Kemarin,...

Update Ilmu, Tangani Penularan Virus Hepatitis B

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Penularan virus berbahaya Hepatitis B sejauh ini kian tinggi. World Health Organization (WHO) mencatat, Indonesia menempati peringkat ke tujuh di dunia...