31 C
Semarang
Selasa, 11 Mei 2021

Melestarikan Alat Musik Khas Wonosobo Bundengan

Musik unik khas Wonosobo, bundengan, kian menarik banyak kalangan. Sejumlah peneliti mancanegara pun mulai berdatangan karena ingin meneliti alat musik dengan bahan utama bambu ini.

Seniwati sekaligus guru tari SMP 2 Selomerto Mulyani saat ini tengah sibuk menyiapkan sebuah pertunjukan musik bundengan. Sekitar 100 pelajar SD rencananya akan dilibatkan. Pertunjukan akan digelar di Pendopo Kabupaten Wonosobo pada pertengahan Maret mendatang.

“Seni musik bundengan tengah menjadi bahan penelitian salah satu dosen Monash University Australia, dia menilai bundengan memiliki keunikan tersendiri dibanding alat musik lain,” jelas Mulyani.

Alat musik Bundengan terbuat dari kerangka welat bambu tebal yang dianyam dan pada bagian luarnya dilapisi dengan slumpring (pelepah batang bambu), kemudian diikat dengan tali ijuk. Sebagai sumber bunyi, di bagian lengkung tengah bundengan dipasang senar yang diikat kencang. Untuk membunyikan, senar yang telah disetel kekencangannya itu dipetik sesuai irama lagu.

Uniknya lagi, irama yang dihasilkan mirip dengan suara bunyi ketukan gending beserta kendangannya. Sejumlah seniman mengatakan, irama yang dihasilkan dapat mewakili irama seperangkat gamelan

Mulyani ingin menunjukkan, alat musik yang awalnya hanya digunakan oleh penggembala itik untuk mengisi waktu luang tersebut, mampu mengiringi beragam jenis lagu. Tentu hal ini menarik untuk dinikmati siapapun.

“Di acara nanti kita juga akan melakukan pertunjukan musik bundengan dengan dilengkapi tarian,” lanjutnya.

Menanggapi adanya inisiatif untuk menggelar workshop bundengan bagi para pelajar tersebut,

Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kabupaten Wonosobo Bambang Sutejo memastikan akan mendukung penuh. “Kami di Diskominfo memiliki program Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Mitra), salah satu fungsinya memfasilitasi semacam ini,” jelasnya.

Bambang menjelaskan, bundengan memiliki sejarah dan nilai filosofi yang perlu dipelajari baik oleh pemain maupun penikmat. Di antaranya makna dari kesederhanaan (alat), keharmonisan (nada), hingga semangat kerja keras (fungsi koangan).

“Jika mau belajar, tidak hanya nada yang enak yang kita dapat dari bundengan. Bisa lebih dari itu,” katanya.

Ke depan, Bambang juga menegaskan bahwa pihaknya akan berupaya untuk mengangkat bundengan ke berbagai acara resmi, sehingga dikenal lebih luas sebagai salah satu jenis kesenian asli Wonosobo. “Kalau memungkinkan bahkan saya akan berusaha agar ada paten terhadap kesenian ini sebagai seni asli Wonosobo, sehingga tidak diakui oleh daerah lain,” jelasnya. (cr2/ton)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here