31 C
Semarang
Kamis, 6 Mei 2021

MLKI Siapkan Pendidik Mapel Kepercayaan

SEMARANG – Majelis Luhur Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (MLKI) mempersiapkan pembentukan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP). LSP tersebut nantinya mencetak guru atau pengampu berkompeten untuk membantu penghayat yang masih berstatus pelajar SD, SMP, SMA atau sederajat dalam pendalaman ilmu kepercayaan.

Seperti diketahui, Permendikbud Nomor 27 Tahun 2016 tentang Layanan Pendidikan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, ajaran kepercayaan boleh dimasukkan di jam sekolah. Setingkat dengan mata pelajaran agama.

Presidium MLKI, Andri Hernandi menjelaskan, saat ini, pihaknya tengah mendukung implementasi Permendikbud tersebut dengan menyelenggarakan pelatihan asesor dengan menggandeng Badan Koordinasi Sertifikasi Profesi (BKSP) Jateng. Terhitung ada 40 asesor yang siap dilatih untuk meningkatkan kompetensi agar dapat melakukan uji kompetensi bagi para penyuluh atau guru kepercayaan.

”Uji kompetensi ini sangat penting agar penyuluh mendapatkan kepercayaan dan legalitas kesetaraan dalam mendidik mata pelajaran kepercayaan di sekolah,” ucapnya ketika ditemui di kantor BKSP Jateng, Jalan Imam Bonjol Semarang, Rabu (22/2).

Asesor dan penyuluh kepercayaan, sengaja diambil dari personel Organisasi Penghayat yang berada di beberapa daerah di berbagai penjuru Indonesia. Pelatihan ini sengaja dilakukan agar para penghayat yang masih sekolah bisa terlayani.

Dijelaskan, selama ini pelajar penghayat tidak terpenuhi. Meski ajaran kepercayaan sudah diakui sejak 2006 silam, tapi tidak semua sekolah mau memasukkan mata pelajaran ini. ”Jadi siswanya belajar ilmu di organisasi penghayat, nanti organisasi penghayat yang memberikan nilai untuk dimasukkan ke dalam rapor pelajar untuk mengisi nilai mata pelajaran agama,” bebernya.

Sekjen MLKI, Retno Lastani menambahkan, selain menyiapkan SDM, LSP ini nantinya juga mengatur mengenai kurikulum, materi ajar seperti buku panduan belajar, serta komponen penting dalam kegiatan belajar mengajar lainnya.

Dari datanya, di Jateng sudah cukup banyak penghayat kerpercayaan yang masih berusia pelajar. Totalnya ada 747 orang. Rinciannya 8 orang TK/PAUD, 338 orang SD/MI, 192 orang SMP, 168 orang SMA/SMK, dan 41 orang di perguruan tinggi. ”Paling banyak di Cilacap. Kalau di Semarang baru satu,” ucapnya.

Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi Kemendikbud, Sjamsul Hadi menjelaskan, mata pelajaran kepercayaan sudah dilakukan uji publik di Medan selama dua hari, Senin-Selasa (20-21/2) kemarin. Ada banyak masukan dan kritikan dalam uji publik tersebut yang akan dijadikan bahan pedoman saat implementasi.

Soal target, pihaknya menunggu kesiapan SDM dan infrastruktur yang saat ini tengah disusun MLKI. ”Setidaknya tahun ajaran baru nanti sebaiknya sudah bisa diterapkan,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala BKSP Jateng, Hertoto Basuki menjelaskan, pihaknya sekadar mengawal penyusunan LSP dan mencetak asesor. Jika semua sudah jadi, tinggal MLKI yang berjalan sendiri. ”Kalau sudah diizinkan pemerintah untuk masuk ke dunia pendidikan, penyuluh atau pendidiknya harus kompeten,” ucapnya. (amh/zal/ce1)

Latest news

Related news

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here